Close X Egoy Featured

Ain’t Givin’ Up // Toyota Yaris NCP91

“Sebenernya pas mobil ini dibeli, gue agak kurang suka. Cluster yang posisinya ada di bagian tengah terasa aneh buat gue,” kenang Gabriel Octoefelly, owner dari Toyota Yaris produksi tahun 2008 yang ada di halaman ini ketika mengawali proses interview.

Ada yang unik dari latar belakang pertemuan pria yang akrab disapa Egoy ini. Awalnya, setelah mengalami insiden kehilangan mobil miliknya saat diparkir di kawasan Depok, Egoy diberikan mobil pengganti oleh sang Ayah, yaitu sebuah Hyundai Atoz bertransmisi automatic. “Atoz yang gue pake sepertinya dibeli dalam kondisi yang kurang prima, karena mobil itu nggak enak banget dipakenya. Titik puncak gue nggak mau pakai mobil itu lagi saat mobil itu nggak kuat nanjak ke gedung parkir saat diisi empat orang teman gue. Sejak saat itu, gue bilang sama orang tua gue untuk jual Hyundai Atoz itu. Setelah dijual, gue pun menggunakan scooter matic untuk kendaraan gue sehari-hari,” kenang Egoy.

Keadaan inipun berlangsung cukup lama, sampai suatu saat, orang tua Egoy bersikeras mendorong Egoy untuk menggunakan mobil lagi demi alasan keselamatan. Egoy pun setuju, dan mulai hunting mobil bersama kedua orang tuanya. “Saat itu ada beberapa mobil yang menjadi pilihan gue. Tapi begitu bertemu dengan Toyota Yaris ini, bokap gue tertarik banget untuk menebus karena mobil berada dalam kondisi yang sangat prima dan jarak tempuh yang sangat rendah, 3000 km,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Egoy sendiri merasa kurang sreg dengan mobil pilihan sang ayah tersebut. “Tapi apa boleh buat, gue harus terima apa yang sudah menjadi pilihan bokap. Toh, uang untuk beli mobil itu kan dari bokap gue juga,” ujar pria humoris ini.

Sebagai seorang car enthusiast, Egoy pun berusaha mensyukuri keadaan dan menjalani kegiatan kesehariannya bersama Toyota Yaris miliknya tersebut dan mulai memikirkan langkah personalisasi apa yang akan dilakukan terhadap mobil miliknya. “Sebagai langkah awal, seperti para car enthusiast lainnya, gue mengganti velg bawaan mobil dengan Enkei RS Evo dengan spesifikasi 15×7 inch,” ujarnya singkat tentang personalisasi yang dilakukan dirinya pada tahun 2010 tersebut, setahun setelah sang ayah menebus Toyota Yaris tersebut.

Setelah mengganti velg, Egoy pun tertarik untuk memasang piranti bodykit. “Karena mobil gue tipe J yang minim fitur, maka perangkat bumper depan-belakang pun dilengkapi dengan model yang sangat sederhana, begitupun dengan bagian samping yang minim sideskirt,” kenangnya lagi. Kondisi ini lalu membuat Egoy mencari perangkat bodykit OEM milik tipe S yang menjadi tipe tertinggi di kasta Toyota Yaris. Tidak butuh waktu lama, Egoy pun mendapatkan bodykit tersebut dari seorang rekan yang bekerja di Auto 2000. Langkah pengaplikasian bodykit inipun membuat tampilan Toyota Yaris miliknya berubah secara signifikan. Sebagai pelengkap, Egoy juga turut mengganti komponen stoplamp bawaan dengan milik Toyota Vitz yang beredar di Jepang.

Setahun berlalu, dan Egoy pun mulai merasa bosan dengan velg yang digunakannya. Keadaan ini lalu mendorong Egoy untuk mencari pengganti Enkei RS Evo. Setelah melakukan hunting, pilihan Egoy pun jatuh kepada Work Equip 05 dengan konstruksi three piece split berspesifikasi 16×7 inch yang kemudian mengalami penggantian outer lips yang menjadikan spesifikasinya berubah menjadi lebih agresif hingga tercipta dengan dimensi 16×7.5 inch untuk roda depan dan 16×8.5 inch untuk roda belakang. Konsep aggressive fitment inipun bertahan cukup lama hingga kurun waktu satu tahun, hingga Egoy mengaku kembali bosan dengan tampilan tersebut.

Proses yang sama pun kembali diulang dirinya, hingga Egoy menemukan satu set velg OZ Futura dengan three piece split construction yang ditebusnya untuk menggantikan Work Equip 05 yang sebelumnya bertengger di sektor roda mobil miliknya. Velg pilihannya kali inipun memiliki spesifikasi yang tidak kalah agresif, yaitu 17×8 inch untuk roda depan dan 17×9 inch untuk roda belakang.

Seakan mengulang siklus yang sama, velg inipun bertahan selama setahun di Toyota Yaris milik Egoy. Uniknya untuk transformasi kali ini, Egoy menginginkan tampilan yang agak berbeda dengan tampilan sebelumnya. Egoy menginginkan velg dengan konstruksi monoblock. Pilihan pun jatuh kepada Enkei NT03 dengan spesifikasi 17×8 inch untuk roda depan dan 17×9 inch untuk roda belakang. Setelah mengaplikasi velg tersebut, Egoy pun mulai merombak sektor lain untuk mengimbangi penggunaan velg yang cukup populer digunakan di kalangan racing enthusiast tersebut.

Rombakan yang dimaksud sendiri terjadi di sejumlah sektor. Sektor tersebut antara lain di sektor mesin yang terlihat lewat pengaplikasian exhaust manifold dari produk Megan Racing, air filter replacement dari produk K&N dan muffler dari produk Fujitsubo. Sedangkan di sektor suspensi, Egoy mengaplikasikan strutbar depan dari produk Tanabe, underbrace dari produk Ultra Racing dan strutbar belakang custom made. Rombakan lainnya terjadi di sektor interior yang terlihat lewat pengaplikasian jok Recaro SR3 yang dipadu dengan four point seatbelt dari Takata, steering wheel TRD by Nardi dan shiftknob dari produk TRD.

Egoy pun cukup lama menggunakan velg Enkei NT03 ini, hingga pada suatu saat, dirinya mendapatkan tawaran velg yang diakuinya sangat menggiurkan , yaitu satu set velg Enkei Sport – Gravel dengan spesifikasi 15×6.5 inch yang sempat digunakannya beberapa saat. Namun tidak lama setelah itu, Egoy kembali mengaplikasikan Enkei NT03 miliknya kembali seperti yang terlihat di photo session yang kami lakukan terhadap mobil milik Egoy.

“Tak bisa dipungkiri, gue memang  menyukai konsep aggressive fitment. Makanya gue akhirnya kembali menggunakan Enkei NT03 ini setelah sempat menggantinya dengan ES-Gravel,” ujarnya sambil terkekeh seraya menutup sesi interview.

Keep up the good work, mate!

 

 

Comments

Loading Facebook Comments ...
Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...