Close X Bandung Trip Part1

Just a Little Bit Refreshing // A Short Trip to Bandung Part I.

Honestly, gue dan anak-anak Goodrides sempat merasa sedikit penat dengan kesumpekan ibu kota Jakarta beberapa bulan yang lalu. Ada beberapa plan yang sempat kita canangkan demi mengembalikan mood kita untuk bekerja. Setelah menyortir sekian banyak plan yang lumayan muluk menurut gue, (LOL), at the end we decided to had a short trip to Bandung. Kenapa Bandung? Kita berpikir dengan bepergian ke kota tentangga ini, maka tidak akan menghabiskan waktu yang lama.

So, yeah, Bandung sounds like right.

Sayangnya, ketika makin dekat dengan hari keberangkatan, nggak semua tim Goodrides bisa berangkat ke Bandung. Dari 8 orang, cuma gue, Eka, Dito dan Aldo yang bisa berangkat. Sementara yang lain nggak jadi berangkat karena mendadak ada urusan masing-masing.

Trip ke Bandung kali ini juga sebenarnya menjadi sebuah percobaan untuk gue dan Eka. If  you are an old BMW owner, kerap kali pasti muncul kekhawatiran sendiri kalau mau bepergian antar kota. Setidaknya muncul pemikiran, “mobil bermasalah nggak ya?” Admit it! 😀

Walaupun either mobil gue dan Eka berada dalam kondisi prima, gue tetap menyarankan untuk melakukan pengecekan di berbagai sektor, dimana menurut gue yang paling penting adalah cooling system. Sebenernya satu-satunya concern gue cuma masalah ini aja sih, nggak ada yang lain.

Jadi, gue mulai dari melakukan tes terhadap kebocoran dengan menggunakan high pressure tester tool seperti ini.

Syukurnya antara mobil gue dan Eka sih nggak ada indikasi bermasalah pada kebocoran di sektor ini.

Berhubung kepalang sudah di bengkel, gue sekalian merelokasi posisi fuel filter di E36 gue. Walaupun ride-height mobil gue nggak pendek-pendek banget layaknya kebanyakan E36-ers yang banyak beredar belakangan ini, hardware ini seringkali terseret ketika gue melewati polisi tidur. Oleh karena itu, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di Bandung, gue putuskan untuk memindahkannya dari letak awal yang berada di bawah kursi penumpang depan ke lokasi yang lebih aman.

Selesai urusan check up, kita melanjutkan ke setup kaki-kaki. Berhubung gue dan Eka menggunakan coilover dengan brand yang sama, yaitu ISC Coilover, jadi kita berdua memutuskan untuk melakukan ride-height adjustment serta pengaturan baru pada damping setup yang sudah kita atur selama mobil serendah ini.

Apa tujuan kita kali ini?

Gue lebih realistis untuk ingin menikmati berkendara tanpa rubbing nggak jelas selama perjalanan ke Bandung. Gue juga kebayang sih, jalanan yang akan kita hampiri di sana nanti sedikit menanjak dan berbukit. Jadi memang sudah semestinya mobil ini sedikit ditinggikan.

Dengan menggunakan sigmat, Mr. (we usually call him as) “Nicolas Cage” menyarankan gue untuk menaikkan sebanyak 2 cm saja demi membuat mobil gue bebas dari rubbing saat melakukan high speed cornering. Memang sih, gue mintanya dikembalikkan ke setup terakhir saat mobil ini gue pakai di Sirkuit Sentul untuk acara Fastin’ Fast Out pada bulan Ramadhan silam.

Dengan menggunakan spring rate 15kg/mm pada bagian depan dan 10kg/mm pada bagian belakang, somehow gue merasa setup ini cukup untuk segi kenyamanan serta dapat mengakomodir driving style.

Eh, tapi kenyamanan di sini bukan berarti empuk macam stock suspension gitu ya. Ya loe taulah, udah pasti karakternya stiffer than stock. Kerap kali gue suka menemukan orang yang nyari coilover tapi ingin kenyamanannya sama seperti keadaan standar, malah kadang ingin lebih empuk dari standar. Heran.

About last week. // #goodtimes•#goodfriends•#goodrides

A photo posted by deanzen (@deanzen) on

Straight forward to D-day, berhubung Aldo kasih kabar kalau dia akan berangkat dengan pacarnya sehari sebelum keberangkatan gue, Dito dan Eka, jadi gue putuskan untuk mengajak Riyandhie aka Marcell supaya kedua mobil ini nggak ada yang sendirian saat nyetir ke Bandung.

Keberangkatan ini diawali dengan macet yang lumayan parah ketika berada di tol JORR hingga memasuki tol Cawang. Sehingga kita putuskan untuk berhenti di rest area KM19 untuk sedikit meregangkan kaki serta makan siang.

Meanwhile, Eka merasa bantingan mobilnya masih belum cukup nyaman untuk dikendarai saat melewati jalanan bumpy. Sehingga dia kembali melakukan adjustment terhadap rebound damping pada ISC Coilover yang terpasang pada E46 miliknya.

Setelah merasa cukup istirahat, kita kembali melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Jujur sih gue paling nggak suka macet-macetan diantara truk-truk besar, jadi pada saat itu gimana caranya kita berusaha secepat mungkin untuk masuk ke tol Cipularang.

Sejak jaman dahulu ketika gue masih sering bolak-balik Jakarta-Bandung untuk menyambangi my ex-gf, setidaknya selama perjalanan, gue pasti bertemu aggressive driver.

Then we flat out a bit.

But please don’t expect something from this 4-cyl M43 engine. Belom lagi ditambah transmisi 4-speed otomatis gue, the best words that can describe this situation is STUPID. LMAO!

Nggak lama kemudian handphone-pun berdering, ternyata Dito menanyakan kenapa gue harus sengebut itu di tol ini. Well, bukannya gue mau sok ngebut. Karena perilaku mesin gue yang jujur aja rada dungu ini, gue cenderung malas untuk berlama-lama di tanjakan, karena gue udah coba di salah satu tanjakan dan pada kenyataannya mobil gue ini “boyo” banget.

Sedangkan Eka dengan mesin M54-nya bisa dengan mudah melewati gue.

Keputusan gue untuk melakukan engine swap pun semakin bulat. Semoga awal tahun sudah bisa gue realisasikan!

Nevertheless, walaupun gue merasa mobil ini sangat payah di jalan tol, tapi hal ini nggak membuat gue murung. Justru gue semakin senang karena semakin menjauhi kota Jakarta.

Come on baby we almost there!

Dari kejauhan, gue sama Marcell sempat main tebak-tebakan. “Itu apa sih? Warung?” “Bukan begok, bajaj!” Ketika objek semakin dekat, ternyata kepala dari sebuah truck yang dibawa secara sideways! Kayaknya gue harus check mata lagi nih. Haha!

Akhirnya, kita benar-benar telah memasuki Kota Bandung. Apa yang menyambut kita di Bandung?
Yes, Macet! Lagi-lagi macet!

Cuman, situasi ini lagi-lagi nggak membuat gue badmood sama sekali. Justru gue seneng banget karena kita udah ada plan untuk makan di tempat yang selalu kita sambangi setiap ke Bandung.

Yes, there’s 4-in-1 rules in Bandung. Berbeda dari Jakarta dengan 3-in-1 nya yang selalu diadakan pada hari kerja, Bandung justru mewajibkan pada pengguna mobil untuk mengikuti peraturan ini di saat weekend. Gue rasa hal ini diselenggarakan untuk mengurangi arus mobil dari Jakarta yang berlibur pada akhir pekan.

Setelah berhasil melewati kemacetan di pintu keluar tol Pasteur, kita mengarahkan iring-iringan ke daerah Gasibu untuk menambah squad. Disitu ada Mr. Muda Mulyana yang sudah menunggu kita dengan menggunakan E46 yang berkelir sama dengan Eka.

Bedanya, kapasitas silinder mesin milik Muda 500cc lebih besar ketimbang E46 Eka. So it has more power indeed.

Kalau yang ini? Udah nggak usah bahas-bahas power ya. Cukup.

Di pinggir jalan ini kita juga sedikit berbincang mengenai jalur yang akan ditempuh.

Sesampainya di tempat makan, gue baru ingat kalau dalam perjalanan ke Bandung ini, kita membawa dokumen untuk mas Muda Mulyana yang isinya adalah sertifikat Honda Funday milik teman-teman di Bandung yang lupa mengambil ketika acara selesai. Sah ya, kalau masih belum terima pokoknya ada di Mas Muda! 😀

Sorry banget, saking laparnya kita malah lupa foto di tempat makan yang biasa kita sambangi selama ke Bandung. (nama dan tempat kita rahasiakan. Haha) Tapi ketika kita kembali ke parkiran, gue kira Ricky, our (hopefully still) talented videographer, nyusul ke Bandung dengan motornya! Tapi kayaknya bukan sih, Ricky nggak mungkin bawa bracket galonan gitu di motornya. Haha!

Perjalanan kali ini kita lanjutkan ke markas SpeedTuner yang memang berasal dari kota Bandung.

Gue nggak tau sih, Joe lagi sebel atau nggak pas kita dateng ke tokonya. Apa emang ekspresi loe selalu gitu ya sob? Ahahaha! 😀

Berhubung hari sudah semakin sore di SpeedTuner shop ini, kita kembali melanjutkan perjalanan untuk ke…

…tempat makan lagi! LOL!

Lumayan majestic place sih, dimana loe bisa ngemil-ngemil, ngobrol dan santai sambil ngeliatin kelap-kelip kota Bandung.

Di sini gue juga baru tau kalau Joe phobia terhadap sayuran, ketika Mas Muda memutuskan untuk mengkonsumsi cemilan sehat seperti salad. Pfft!

Hari pun semakin larut, jujur kita masih belom booking hotel di sana. Bukannya mencari hotel, kita malah memutuskan untuk hangout di seputaran Jalan Asia Afrika.

What we were doing at midnight?

EAT!

WE..

..CAN’T STOP..

..EATING!

I think t’was pretty intense for day-1, setelah kegilaan ini, kitapun sudah kelelahan dan memutuskan diri untuk beristirahat di hotel.

Stay tuned for Part II.

Comments

Loading Facebook Comments ...
Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...