Close X FEATURE DRIFTINC NIGHT OUT

La Sideways Familia // DRIFT INC Indonesia

Drifting merupakan jenis kegiatan yang menurut gue bisa dijadikan sebagai pelampiasan dalam segala hal. Itulah kegiatan yang gue lakukan 10 tahun lalu, dimana masa-masa remaja masih sangat labil dan belum terarah dan dimasa ups-and-down seringkali gue melakukan kegiatan ini di jalan raya. Masih terekam baik dalam memori gue pada masa gue duduk di bangku SMA, hampir setiap hari gue datang lebih pagi ke sekolah bersama adik (karena satu sekolah) untuk mencoba latihan di setiap tikungan yang memiliki possibilities untuk melakukan manuver ini. Pada masa itu pula gue selalu menyisihkan uang jajan untuk bisa membeli ban.

Berdasarkan passion tersebut, somehow ditengah perjalanan hidup gue akhirnya bertemu dengan beberapa orang yang sejalan dan sepemikiran then we called ourself ‘DRIFT INC’. Gue nggak pernah bilang kalau DRIFT inc ini adalah sebuah komunitas, gue lebih sering bilang ke orang-orang kalau ini merupakan brotherhood yang terbentuk sejak bulan Maret 2007.

Pada tahun 2007, drifting di Indonesia masih menjadi berada dalam grey area dimana orang masih belum bisa membedakan antara drifting dan slalom. Apa bedanya? Kedua jenis olahraga ini sama-sama membutuhkan ketangkasan dan kelihatannya secara awam hanya mobil yang ‘ngepot-ngepot’ begitu aja. At the meantime, gue beserta sejumlah orang yang juga turut membesarkan drift scene di tanah air terus berusaha memberikan influence yang tepat bagi semua orang. Termasuk keluarga kecil yang gue sebut dengan DRIFT inc ini.

Gue sedikit rindu dengan masa-masa itu dimana kita sering banget main di jalanan. Dengan menggunakan MSN atau Yahoo Messenger kita menentukan waktu serta meeting point untuk melakukan kegiatan ini. Yes, because the blackberry messenger, LINE, or Whatsapp is not yet invented!

That was the time when we hooning on the street. Semua itu dilakukan alih-alih karena nggak ada tempat latihan yang proper, oleh karena itu kegiatan kita ini selalu berkesan seperti ‘haus akan tikungan’. Memang pada saat itu kita lebih sering melakukan ‘hit and run’‘ dengan tidak menetap di satu titik saja. Walaupun sampai pada akhirnya kita menentukan sebuah intersection yang berada di daerah Pondok Indah sebagai tempat latihan kami.

Memang statusnya ilegal. Akan tetapi dasar pemilihan tempat ini bukan berarti sembarang pilih. Setelah melakukan survey berkali-kali, dengan adanya traffic light di intersection tersebut ternyata menjadikan tempat latihan ilegal ini aman untuk digunakan. Jadi, setiap run kami bergantung pada lampu hijau yang menyalah. Lucunya, sebelum pada akhirnya ramai menjadi tempat nongkrong karena banyak yang ingin menonton, dahulu kala pada saat kita latihan justru ditemani oleh pihak berwenang yang kebetulan in charge di daerah tersebut. Sampai pada akhirnya banyak random peeps yang nekat mencoba bermanuver dan ended up dengan kecelakaan di tempat tersebut.

Well, that was a really-really good time tho. 

Namun seiring berjalannya waktu, kamipun satu persatu makin disibukkan dengan urusan masing-masing. Memang gue akui kalau dulu kami sangat akrab karena begitu banyaknya drift event yang digelar secara rutin di tanah air. Sekarang, dengan lebih sepinya drift event serta tuntutan pekerjaan masing-masing individu makin tinggi malah membuat kami seolah berjalan sendiri-sendiri.

Walaupun begitu, kita masih keep in touch dengan sesekali hangout sekedar untuk ngopi bareng atau bahkan getting ourself dappered on Fatsi’s barbershop.

So here comes another random night. Tiba-tiba dalam group LINE DRIFT inc tercetus kembali untuk hangout ke sebuah tempat di bilangan Pondok Indah yang biasa disebut dengan ‘pertok’. Menyambut kesempatan langka tersebut, gue langsung mempersiapkan diri untuk keluar rumah dengan Corolla gue. Bahkan gue nggak sempat cuci mobil terlebih dahulu, gue lebih memilih untuk segera bisa ke sana secepat mungkin.

Jaman dahulu ketika kita masih semangat dan giat-giatnya, waktu nggak pernah menjadi masalah. Pergi malam dan pulang pagi hanya untuk latihan di jalanan. Sekarang? Kayaknya kita agak mikir untuk meluangkan waktu seperti itu karena schedule pekerjaan yang padat setiap harinya.

I finally managed myself into the ‘pertok’ area. Memang malam ini nggak serame itu, hanya ada Fatsi with his 4AGE-ed KE70, Fenno with his LX90, and Aria with his E21.

Sebetulnya DRIFT inc yang terdahulu didominasi oleh BMW E36. Namun malam ini, tidak ada satupun yang membawa E36, termasuk gue. Pertimbangan pemilihan E36 dahulu kala ada pada efektifitas belaka, dimana kebanyakan dari kita menggunakan mobil tersebut sebagai mobil ‘mainan’ yang dijadikan daily driven car juga. Masalahnya, dengan sedikit upgrade pada bagian suspensi, steering angle, dan differential kalian sudah bisa punya daily drift ready car. So, why not?

What about the other option? Yes, they bought Nissan Cefiro A31 as their drift car. So yea, E36 and A31.

Let’s start from Fenno with his LX90. Yes it’s not a JZX90, karena mobil yang satu ini terlahir dengan mesin 2L-TE yang merupakan 4-cyl turbo diesel keluaran Toyota untuk mobil dengan kode chassis x90 ini. 

Dulu di dalam DRFIT inc, gue dan Fenno merupakan salah satu orang yang image nya sangat kental dengan E36. Sampai suatu hari, gue nggak nyangka kalau Fenno memutuskan untuk menjual E36 coupe nya. I mean, setelah bertahun-tahun sejak pertama kali kenal dengan Fenno dengan E36 berwarna merahnya, masih nggak habis pikir di kepala gue kenapa Fenno beralih untuk menggunakan sedan besar keluaran Toyota ini ketimbang E36 kesayangannya. Walaupun pada kenyataannya E36 dia sekarang jatuh ke Mimo yang juga merupakan bagian dari keluarga DRIFT inc, tapi dari sudut pandang gue soul dari mobil tersebut sudah tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi.

Sempat terpintas dalam benak gue: “Apa karena Fenno merasa ‘klik’ dengan JZX 90 milik Nanda yang kita pakai di Ebisu sehingga dia lebih memilih untuk meminang Mark II ini selagi ada kesempatan untuk membeli”

Apalagi warna nya sama. Walaupun bedanya milik Fenno menggunakan mesin diesel yang lebih “jinak”.

Tapi dari sudut pandang gue, opsi yang bisa dilakukan untuk melakukan personalisasi terhadap mobil dengan kode chassis x90 ini sangat banyak. Dalam kasus ini, lo bisa arahin mobil ini menjadi bippu atau street drift car layaknya mobil yang dengan spesifikasi D1GP SL. Dua hal yang bertolak belakang, tapi dua-duanya sangat mudah dan sangat rasional untuk diaplikasikan terhadap mobil ini. So, the choice is yours.

Next up, Fatsi with his KE70. Mungkin first impression orang ketika melihat mobil ini cenderung seperti layaknya mobil yang belum selesai dibangun. Look at that bumperless Corolla!

No! Justru itu malah menjadi tujuan utama Fatsi dalam melakukan personalisasi terhadap Corolla-nya. “Gue pengen yang raw!” jelas Fatsi.

Mungkin kalau kalian ingin tahu, dari dulu Fatsi memang sudah nyeleneh dalam melakukan personalisasi terhadap mobilnya. Salah satu contohnya adalah melakukan engine swap 1UZFE terhadap Toyota Kijang ‘kotak’ yang seharusnya menggunakan mesin 5K back in early 2000.

I guess I gotta feature this car soon on our site.

Karena banyak cerita menarik antara hubungan Fatsi dengan Corolla nya ini. Jadi, untuk kesempatan kali ini gue nggak mau terlalu mengulas secara dalam tentang KE70 ini.

And the last one was Aria with his newly built E21.

Pertama gue kenal Aria back in the days, dia masih menggunakan Honda Prelude generasi ke-4. Gue ingat betul pada saat itu dimana kita sedang asik latihan dengan mobil RWD, dia malah stuck dengan mobil FWD. Solusinya, pada saat itu Aria juga merupakan salah satu orang yang nyemplung untuk membeli E36 sebagai mobil mainannya. LOL!

Tapi seiring berjalannya waktu, nampaknya Aria lumayan keterusan dengan produk milik BMW. E21 ini merupakan salah satu dari beberapa koleksi BMW yang menjadi penghuni garasinya.

Talkin’ bout my car itself. Levin ini mungkin menjadi salah satu saksi bisu di dalam keluarga DRIFT inc.

Mobil ini dulu sering menjadi teman latihan gue dengan DRIFT inc di jalan raya. Disaat masih berwarna kuning, mobil ini lebih sering jadi daily driven car gue ketimbang menjadi garage queen seperti sekarang ini.

Kita lumayan lama menghabiskan waktu malam itu di Pertok. Reminisching our old days like doing silly things on the public roads, like that day when we brought our competition cars to Bali to get drunk and drift, and so many more. That was surely our good times.

And we’re also talkin’ bout our dreams.

Masih ada banyak project yang kita tunda karena kesibukan masing-masing.

Gue paham sih, kembali lagi ini semua merupakan proses pendewasaan. Dimana masing-masing individu tertuntut untuk serius dengan pekerjaannya masing-masing.

Tapi kita berusaha untuk merealisasikan satu persatu pending projects tersebut. Kalau menurut gue, biarkan waktu berjalan, perlahan tapi pasti.

Anyways, we haven’t even started back to the street yet.

I kno it’s tempting to do it again on this memorable intersection.

But not this time. We decided to not doing it tonight.

Instead, we will goin’ back again with the rest of our family member.

I’d like to thank all of you guys who came out tonight. Eventho it just 4 outta 20 members of DRIFT inc came out tonight, it really brings back some good memories!

Again, we gotta hang out more often bruh. Now it’s time to back to the garage. Anyways, special thanks to Ardian for those rolling shots!

Adios!

 

 

BONUS IMAGES

Comments

Loading Facebook Comments ...
Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...