Close X FEATURE E28 Dana

The Legacy // BMW 520i E28

Kalau boleh jujur, kondisi cuaca yang sangat sulit diprediksi belakangan ini, akhirnya harus memaksa kita untuk melakukan reschedule jadwal peliputan BMW E28 ini hingga tiga kali dan semuanya gagal karena hujan badai yang datang tiba-tiba. Setelah tiga kali kegagalan tersebut, kita pun belum juga berhasil mengatur jadwal lagi untuk liputan. Hingga pada suatu hari, gue akhirnya sepakat janjian dengan Hendri Pradana, sang owner, untuk bertemu di bengkel resmi BMW yang terletak di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan tujuan membahas lokasi liputan yang cocok untuk melakukan photoshoot. Lokasi janjian sendiri dipilih karena secara kebetulan gue dan pria yang akrab disapa Dana ini punya kepentingan yang sama untuk memesan sejumlah parts untuk mobil kita masing-masing.

Oh iya! First of all, let me introduce you guys to Dana, our goodfriend from Forstand Projekt. Sama halnya dengan gue, pria humoris ini juga berprofesi sebagai writer di bidang otomotif yang memiliki ketertarikan sangat besar, or so-called-fanatic terhadap brand BMW.

Sialnya, sebelum kita berhasil menemukan kata sepakat tentang lokasi peliputan, hujan yang sangat deras lagi-lagi mengguyur kawasan ibukota Jakarta. However, hujan kali ini akhirnya justru mendorong gue dan Dana untuk melahirkan sebuah ide yang cemerlang. Instead cari lokasi photoshoot, kenapa nggak foto di bengkel resmi BMW aja sekalian! Toh, mobilnya juga tematis dengan lokasi pemotretannya. Epic! Karena itu, kita pun mulai mempersiapkan sesi photoshoot setelah Dana selesai mengeringkan mobilnya. Seperti proses peliputan lainnya, sembari melakukan sesi photoshoot, gue juga mengisi waktu dengan mengajak ngobrol sang owner untuk mendapatkan informasi yang detail terkait dengan mobil miliknya.

Ok, now let’s move on to Dana and his BMW. Sebelum menjadi pengguna BMW E28, Dana sudah lebih dulu memiliki BMW E30 yang merupakan mobil pertama miliknya yang sangat berkesan bagi dirinya. Namun, perjalanan Dana dengan BMW E30 miliknya akan segera berubah ketika suatu hari, Dana diajak bepergian oleh seorang teman dekatnya dengan sebuah BMW E28 yang baru saja dibelinya. Nggak disangka, ternyata ajakan teman dekatnya itu berhasil membuat Dana terkesima dengan tingkat kenyamanan E28 yang dianggapnya lebih baik dibandingkan dengan E30. Impresi tersebut tak ayal membuat Dana terpacu mencari unit E28 untuk calon penghuni garasinya.

Dana pun sempat kesulitan mendapatkan unit E28 yang kondisinya sesuai dengan keinginan. Until one day, Dana teringat akan sebuah E28 berwarna Bronzit Beige yang melintas di depan matanya ketika sedang kongkow bersama teman-temannya. “Dari jaman SMA, gue sering banget nongkrong di Euro/Aztec (Plaza Pondok Indah 2 – Red). Nah, setiap kali lagi nongkrong disitu, gue udah sering liat BMW E28 ini lalu-lalang disekitar situ. Setelah gue selidiki, ternyata rumahnya memang nggak jauh dari tempat nongkrong gue. Karena penasaran, akhirnya gue memberanikan diri untuk ngetok rumah sang owner untuk melihat mobilnya dari dekat dan berusaha melakukan offering terhadap mobil itu. Sayangnya, niat gue ini ditolak mentah-mentah. Cuma gue nggak langsung nyerah. Setiap kali selesai sholat Jumat, gue selalu menyempatkan diri buat mampir dan nanya apakah mobilnya sudah berniat dijual atau belum,” ungkap Dana mengenang masa-masa “perjuangan” yang dijalaninya.

Kebiasaan Dana inipun akhirnya membuat dirinya akrab dengan pak Kohay, soerang supir pribadi kepercayaan yang telah mengabdi kepada sang owner dari E28 tersebut sejak tahun 1986. Keakraban ini akhirnya juga membuat Dana berhasil mengorek banyak informasi yang berkaitan dengan E28 incarannya yang dibeli oleh sang owner dalam kondisi brand new pada tahun 1985.

Berdasarkan dari cerita yang dilontarkan oleh pak Kohay, sang majikan bahkan sudah pernah menolak untuk menjual E28 miliknya meskipun sang anak sudah membelikan mobil pengganti, yaitu sebuah BMW E39 yang dibeli dalam kondisi brand new. Guess what, instead memakai E39 yang dibelikan sang anak, owner E28 yang dijuluki “Opa” oleh Dana ini justru memilih untuk menjual E39 tersebut dan tetap mempertahankan BMW E28 miliknya. “Jadi kebayang kan, kenapa tawaran gue selalu ditolak dan betapa beratnya si Opa untuk melepas E28 ini,” keluh pria berbadan ramping tersebut.

However, perjuangan Dana ini akhirnya membuahkan hasil yang cemerlang ketika Dana mendapat kabar gembira perihal mobil yang baru mencatatkan jarak perjalanan sejauh 37,xxx kilometer di odometernya. “Kabar itu gue terima di awal tahun 2012, ketika pak Kohay menghubungi gue dan memberitahu bahwa Opa sudah merelakan mobil ini untuk gue pelihara. Lucunya, setelah mobil gue DP, Opa justru kembali ragu dan belum siap untuk melepaskan mobil ini. Gue pun terpaksa bersabar selama kurang-lebih satu minggu sampai akhirnya Opa benar-benar sudah rela melepaskan mobil miliknya tersebut,” ungkap Dana semangat. Dana pun mengaku sangat excited, terlebih lagi ketika dirinya diberi izin untuk melakukan test drive. “Gue kayak lagi mimpi. Mobil yang gue idam-idamkan selama bertahun-tahun ini akhirnya berhasil gue kemudikan!” ungkapnya lagi.

Selepas proses restorasi ringan tersebut, Dana bilang bahwa dirinya harus benar-benar memikirkan langkah personalisasi yang tepat demi menjaga tingkat orisinalitas dari mobil miliknya tersebut. “Gue sangat concern terhadap pemilihan parts yang akan dipasang pada mobil ini. Makanya gue hanya menggunakan sejumlah parts personalisasi yang gue anggap period correct, baik di sektor eksterior maupun interior,” jelasnya. Langkah personalisasi yang dimaksud antar lain meliputi:

Original BMW mudflap,
muffler tip,

M-Tech I ducktail,

foglamp keluaran Hella,

hingga penggantian velg dengan menggunakan BBS Fundo OEM BMW berspesikasi 15×7 inch.

Lalu untuk sektor interior, Dana turut menyematkan M-Tech shift knob, M-Tech I steering wheel, original BMW coin tray,

serta perangkat audio system yang mewah pada zamannya, seperti equalizer buatan Blaupunkt yang populer dikenal dengan julukan “Cobra” ini.

Dana juga tidak luput melengkapi toolkit yang diletakkan pada bagian trunk lid.

Surprisingly, Dana juga menunjukkan seluruh brochure dan manual book dari segala accessories yang dipasang pada mobilnya ini.

Including this kind of QC card from the factory. 

Dana pun dengan bangga menjalani kesehariannya bersama “Opa”, julukan yang diberikan kepada E28 layaknya dirinya menyebut sang owner sebelumnya. Dana juga mengklaim bahwa mobil yang kini sudah mencatat jarak 47,xxx di odometernya ini masih mampu mengantar dirinya dan teman-temannya ke berbagai kota lain seperti Bandung, Ciamis, Cirebon dan Jogjakarta tanpa mengalami kendala sedikitpun.

Memang gue sendiri harus mengakui, saat melihat mobil ini secara langsung, gue sulit untuk percaya bahwa masih ada sebuah E28 yang memiliki kondisi fisik sempurna, terutama pada bagian interior dan seluruh perangkat electrical, dimana BMW yang lahir di era tersebut umumnya sudah mengalami berbagai masalah.

Selain itu, gue juga cukup heran melihat angka yang tertera di odometer. Tapi jangan salah sangka, rasa heran gue ini bukan menuju kepada kecurigaan yang dilakukan oleh pemilik sebelumnya untuk mengakali jarak tempuh yang tertera pada odometer tersebut. Sebagai seorang pengguna BMW, gue tau betul tipikal BMW tua yang hanya menjadi pajangan di garasi, justru kerap mengalami masalah di berbagai titik. Tapi tidak dengan E28 milik Dana. Karena itu, gue justru heran tentang bagaimana cara sang “Opa” merawat mobil kesayangannya tersebut.

Setelah ngobrol-ngobrol sama Dana, akhirnya dia cerita kalau ternyata mobil ini dulunya hanya digunakan sebagai teman keseharian si “Opa”, seperti melakukan routine medical check-up, bermain golf, hingga melakukan Ibadah sholat Jumat yang semuanya berlokasi tidak jauh dari rumahnya yang terletak di kawasan Pondok Indah tersebut. Dari sini, gue baru bisa mengerti, kenapa mobil ini berada dalam keadaan low mileage, namun masih bisa berfungsi secara normal layaknya mobil yang digunakan sehari-hari.

Now you can imagine, how strong is the relationship between the old man and his old car. They literally grew up together. Argumen ini tentunya membuat kita semua bisa mengerti kenapa tawaran yang diberikan Dana sempat ditolak selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, gue cukup yakin, kalau si “Opa” melihat perlakuan Dana terhadap E28 miliknya tersebut, “Opa” nggak akan menyesal telah merelakan mobil ini ke tangan Dana. Gue juga yakin, alasan si “Opa” berat melepaskan mobil ini hanya terpicu oleh satu hal, yaitu: “Apakah pemilik selanjutnya mampu merawat mobil ini layaknya apa yang saya lakukan selama 27 tahun belakangan ini?”

Yes, he can do it like what you did sir! Kini, mobil yang sudah berumur 29 tahun ini akan terus menuai cerita baru dengan Dana yang sudah berjanji untuk selalu merawat mobil ini agar selalu berada dalam kondisi yang sempurna.

Long live BMW!

Comments

Loading Facebook Comments ...
What people say about this (1)

One thought on “The Legacy // BMW 520i E28

Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...