Close X FEATURE The Uniqueness Ebisu Part 3

The Vibes // Ebisu Circuit, Japan Part.3

Setelah menyelesaikan artikel mengenai bagaimana serunya drifting di Ebisu, rasanya sangat sayang apabila gue nggak turut menceritakan apa saja yang ada di sekitar komplek sirkuit tersebut. Tapi sebelumnya, gue mau minta maaf. Jadi, sebetulnya di dalam komplek tersebut juga terdapat kebun binatang dengan varian hewan yang lumayan banyak. However, dengan sangat menyesal gue harus jujur, kalau gue lupa untuk meliput hewan-hewan tersebut. LOL!

Mungkin bagi kalian yang mengikuti cerita dalam artikel Ebisu ini sejak Part.1 dan Part.2, tentu kalian menyadari bahwa komplek di dalam sirkuit Ebisu ini sangat luas. Saking luasnya, mungkin kalau nggak ada signage yang terpampang mengenai lokasi sirkuit, gue cukup yakin gue akan tersesat. Even worse, komplek sirkuit ini terletak di lahan berbukit – bukit akibat lokasinya yang berada di lereng gunung, lengkap dengan pohon-pohon berukuran besar.

Basically, it surrounded by plenty of woods. Jadi kira – kira kalian bisa membayangkan seperti apa segarnya udara di sana.

Akan tetapi, campuran aroma karet terbakar yang berasal dari ban mobil selama sesi drift berlangsung dan kesegaran udara di lembah tersebut, tentunya membawa keunikan tersendiri. Beda! pokoknya beda!

Ok, let’s start the tour from many selection of drift cars belongs to Power Vehicles Japan. FYI, karena banyaknya drifter dari dalam maupun luar negeri yang tergiur untuk membeli mobil dan membawanya “bermain” di sirkuit Ebisu, jadi mobil yang terparkir di lokasi jumlahnya sangat banyak. Berhubung benar-benar banyak, jadi gue hanya memotret beberapa mobil yang catchy menurut pandangan gue.

Let’s start with the most common model in Ebisu, Toyota Chaser.

Pada awalnya gue sedikit bingung mengapa mereka (team Power Vehicles) sangat menggemari sedan berukuran besar seperti ini untuk drifting. Gue masih ingat pada saat gue baru sampai di Ebisu, hal pertama yang gue tanyakan kepada Emily, istri dari Andy Gray saat sedang membawa kita tour keliling Ebisu adalah “Emily, How much is AE86? Do you have any?” Gue nggak expect dengan jawaban yang dia lontarkan. “Gosh! We really hate AE86! Not just because the 4AGE is low powered engine, but the price of anything related to AE86 is so fucking expensive here. That’s why we prefer to play with other model. Talk about the Chaser, if you break it, we can fix it with half price of the Hachiroku’s. So why should we love AE86?

Emily mengambil contoh  hal yang sepele namun sangat berperan untuk drifting, yaitu sektor under carriage yang sering kali mengalami kerusakan seperti arm. Harga arm untuk Chaser lebih murah tiga kali lipat bila dibandingkan dengan AE86. Pada saat itu, gue pun jadi males membahas lebih lanjut mengenai AE86. Damn it!

Let’s talk about other cars!

What about this 4-door drift car?

Skyline ini konon katanya pernah digunakan untuk ajang kompetisi lokal di Jepang. Mungkin bagi kalian merasa sedikit aneh, mengapa sedan seperti ini digemari untuk drifting. Bukankah dengan dimensi yang besar itu justru menambah kesulitan untuk diajak untuk drifting?

Actually, dengan setup yang tepat, terutama pada sektor suspensi, mobil dengan postur besar seperti ini justru enak untuk “dilempar-lempar”, karena momentumnya yang lebih besar ketimbang mobil sejenis Silvia yang terkenal sangat cocok untuk drifting. Apalagi kalau mobil sedan seperti ini sudah menjalani sejumlah upgrade di sektor performa yang membuatnya semakin proper. Tapi kembali lagi sih, semua drifter pasti mempunyai karakter mobil masing-masing yang mereka sukai, jadi setiap orang tentu mempunyai patokannya sendiri-sendiri.

Berbicara tentang Silvia, di sini juga banyak terdapat S-Chassis bekas kompetisi yang dijual oleh para owner-nya.

Tentunya juga dengan harga yang bervariatif, karena tiap mobil memiliki spesifikasi yang variatif.

Namun mengenai kondisi dari mobilnya sendiri, pihak Power Vehicles memastikan bahwa semua mobil berada dalam keadaan prima dan siap digunakan sesuai dengan karakter drifter yang membelinya. They’re ready to drift!

Talking ’bout the other kind of S chassis, I got a crush on this 180sx!

Dari pertama gue dateng ke Ebisu, somehow mobil ini selalu menarik perhatian gue.

Mungkin karena back in the days when i rented it from my friend, gue pernah merasa sangat nyaman mengendarai mobil dengan kode sasis RPS13 ini. And guess what, I ended up in podium at local competition in Indonesia.

Maybe one day..

Maybe..

Next car! What about this one? Yap, I love R32 too!

Taxi Drift, like literally! LOL!

Somehow, gue merasa cukup yakin kalau mobil ini merupakan mobil yang pernah menjadi cover majalah Jepang “Drift Tengoku” beberapa tahun lalu. Pada saat itu, gue cukup takjub dengan effort sang owner untuk membangun mobil drift dengan basic Crown Comfort. Sebagaimana yang gue tahu bahwa Crown Comfort merupakan mobil yang digunakan sebagai taksi di Jepang, Hongkong dan beberapa negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mungkin dengan basis FR, sang owner tertarik untuk melakukan sejumlah upgrade agar mobilnya dapat digunakan sebagai competition car dengan basis mobil yang murah.

Seingat gue, mobil ini dahulunya menggunakan mesin 3S-FE yang di-upgrade dengan tambahan supercharger. Tapi saat gue lihat, mobil ini sudah kembali mengalami proses engine swap menggunakan 1JZ-GTE. Still interesting tho!

Selain mobil drift unik dengan basis Crown Comfort, ada lagi Holden UTE ini. Gue curiga mobil ini benar-benar diimpor langsung dari Australia. Apalagi dengan identitas yang masih melekat berupa plat nomor asal Queensland, Australia. Berhubung gue sedikit penasaran dengan kemunculan mobil ini di Ebisu, jadi gue pun stalking tentang video mobil ini. Ternyata berdasarkan video yang gue temukan, mobil ini sudah berada di Jepang sejak tahun 2012. Mengenai bagaimana performa mobil ini sendiri, kalian dapat melihatnya di sini.

Next up, the Mercedes Benz SL500 (R129). Mengingat semua mobil yang terparkir di sini merupakan drift car, jadi gue cukup kaget melihat keberadaan SL ini. Karena rasa penasaran yang cukup tinggi, gue meminta Paul, salah satu mekanik Power Vehicles untuk melihat apa yang ada dibawah engine hood SL ini.

Ternyata, SL ini menggunakan mesin 2JZ-GTE. No sh*t!

Menurut gue ini merupakan ide yang gila untuk merubah mesin 5.0L V8 milik SL500 yang sudah mempunyai tenaga sebesar 300hp dari pabrikan dengan mesin 3.0L turbocharger milik Toyota ini.

Everything’s sit properly. Canggihnya, electric fan bawaan SL masih bisa digunakan di mobil ini.

Crazy. That’s it. Anyways, dari hasil browsing gue di internet. Gue berhasil menemuka video mobil ini yang kalian dapat lihat di sini.

Selain mobil yang siap untuk drift, Power Vehicles juga menjual parts pengganti apabila dibutuhkan, seperti mesin, drive shaftcoilovers, turbo dan seluruh parts yang mungkin akan mengalami kerusakan selama sesi latihan di sirkuit.

Walaupun mostly disimpan di dalam gudang, namun ada beberapa parts yang dibiarkan tergeletak di luar seperti velg-velg ini.

Sebagai pengguna OZ Futura, gue merasa sangat sedih melihatnya dibiarkan tergeletak seperti ini seolah-olah tidak ada harganya. Damn!

Sembari melihat-lihat parking area milik Power Vehicles, tiba-tiba datanglah car carrier tertutup ini.

Pada hari itu Power Vehicles baru saja kedatangan stock baru berupa satu unit Silvia S14.

Setelah mobil tersebut dikeluarkan, ternyata S14 ini dahulunya merupakan drag car.

Menurut Andy, Silvia yang menggunakan mesin RB26 ini mempunyai tenaga sekitar 700hp.

I don’t think this car can be drifted easily. It must be so laggy, isn’t it?

Bahkan Andy sendiri masih masih ragu apakah mobil yang rencananya akan dijual lagi ini akan dibiarkan dalam setup seperti ini atau akan dirubah agar mudah untuk di bawa drifting.

Masalahnya, mobil ini sudah dibuat sedemikian rupa dan sangat rigid. “But, we’ll see,” sahut Andy.

Seeperti yang sudah pernah gue mention di artikel Ebisu sebelumnya, drifting di Ebisu memang sangat berbahaya. Karena itu, selain mobil-mobil yang ready-to-drift, ada pula mobil-mobil “korban  kekerasan” Ebisu circuit yang masih dibiarkan terparkir di area Ebisu oleh para owner-nya.

Seperti R32 yang terparkir di depan garasi milik Andy ini. Poor R32 🙁

Namun saat itu, Andy bercerita ke gue kalau di area parkir bawah, masih ada lebih banyak lagi mobil dengan kondisi seperti ini. Berhubung gue penasaran seperti apa bentuk-bentuknya, gue pun mengarahkan diri ke lokasi tersebut.

Sesampainya di sana, gue tidak hanya menemukan mobil-mobil hancur. Ternyata masih ada banyak lagi mobil yang menurut gue sangat menarik.

Yang paling pertama adalah FD3S ini.

Sebetulnya selama gue berada di Jepang, gue juga sembari melihat-lihat parts apa saja yang bisa digunakan untuk our latest project car.

This pair of 4 door R32 reminds me to my brother in Driftinc Indonesia, Andra.

You can’t go wrong with Enkei RPF1.

Never go wrong.

I don’t have any idea, WTF is thisBecause Japan!

But i know this one. It’s an Alfa Romeo 145!

Ok, sekarang mari kita lihat ke bagian wreckage. 

Kita mulai dari sisi kanan.

Can you guess what car is this? Yes! It’s JZX90!

Mostly bagian belakang mobil merupakan bagian yang paling riskan mengalami kerusakan dalam drifting.

Memang konsiderasi dalam melakukan drifting secara all out bisa berakhir seperti ini. Sometimes, it’s all about luck.

But this one surely had a badluck.

Hal-hal seperti ini yang terkadang membuat gue berpikir sendiri. “Mengapa di sirkuit sekelas Ebisu tidak diwajibkan menggunakan rollcage?” Seperti yang kalian lihat, Pilar A dan B sudah tidak bisa menahan impact yang terjadi karena mobil terbalik.

I don’t get it. LOL!

Sayangnya, gue sama sekali tidak mendapatkan informasi setelah browsing kesana-kemari mengenai kejadian ini. Yang bisa gue asumsikan, mobil ini digunakan oleh seseorang yang sedang berkompetisi dalam event Drift Matsuri” dengan nama G1GP.

Berhubung sudah terlalu sedih melihat kumpulan-kumpulan mobil hancur ini, gue melanjutkan perjalanan ke area yang bersebelahan dengan tempat parkir ini.

Kebetulan tempat ini sangat dekat dengan “Touge Course“. Sayangnya pada kesempatan kali ini kita tidak sempat mencicipi course ini. 🙁

Di depan pintu masuk menuju Touge Course, gue melihat ada sepasang S chassis ini. Gue rasa kalian belum menemukan ada keunikan apa dibalik S13 tersebut dengan jarak seperti ini. So let’s take a look a bit closer.

Did you find anything? Not yet?

What about now?

Yes! This proper drift competition car’s belong to a lady named Miho Yamashita.

Bukan hanya sekedar memiliki proper drift car, mobil ini juga kerap kali memenangkan kejuaraan di kelasnya.

Buat kalian yang penasaran seperti apa Miho menggunakan mobilnya, kalian dapat melihat battle run antara Miho dan Emily Gray di sini. She has guts, that’s for sure!

Gue juga menemukan garasi milik Team Orange yang berada di dekat Touge Course.

I’m very excited and can’t wait to walk into their garage.

Tapi sebelum gue bahas lebih lanjut, gue menyempatkan diri untuk merekam sedikit suasana yang ada di dalam garasi milik Power Vehicles dan juga garasi milik Team Orange ini. So, here’s the video.

Back to this Team Orange’s Garage. Di dalam ada sepasang Silvia S15 milik Naoto Suenaga yang kerap digunakan untuk berkompetisi di D1GP.

Pada awalnya gue merasa nggak enak untuk masuk ke dalam area workshop, karena mungkin saja mobil kompetisi setaraf ini mempunyai “rahasia dapur” yang tidak boleh diketahui oleh orang luar.

Namun kenyataannya gue malah diperbolehkan masuk dan memotret keadaan di dalam bengkel ini.

Ternyata tidak ada yang dirahasiakan sama sekali.

Padahal dengan kondisi seperti ini, dengan mudahnya gue bisa mempelajari piece-per-piece dari drift car ini.

Sejujurnya, gue mencatat hampir seluruh PR yang mungkin bisa gue aplikasikan pada drift car gue di Indonesia. Ha!

Final part of this tour was this place, the South Course a.k.a Minami.

Bagi gue, tempat ini merupakan tempat yang sangat legendaris. Bukan hanya karena gue sering melihat video-video yang di-upload oleh banyak orang di Youtube atau Vimeo. Tetapi menurut gue, tempat ini sudah berevolusi sejak pertama kali digunakan untuk kompetisi drift pada tahun 1999.

Dengan tingginya demand pada drifter dari seluruh dunia untuk datang ke tempat ini, membuat pihak pengelola Ebisu harus menyediakan berbagai sarana yang dapat memanjakan para drifter tersebut selama berada di kawasan Ebisu.

Mulai dari safety equipment.

Lalu ada D1GP arcade game yang mungkin bisa digunakan ketika mobil yang sesungguhnya sudah tidak bisa digunakan.

Tempat untuk beristirahat jika sudah merasa sangat lelah (walaupun gue rasa para drifter nggak mungkin ada lelahnya).

Hingga tempat untuk briefing yang bisa digunakan oleh para drifter untuk berdiskusi mengenai hal-hal berkaitan dengan drift yang telah mereka lakukan. Semua benar-benar mereka persiapkan demi memanjakan para drifter. Walaupun memang Jepang sudah terlampau advance dalam bidang drifting, namun gue nggak berhenti untuk selalu berdoa agar industri drifting di Indonesia dapat kembali ramai seperti di era 3-4 tahun yang lalu.

I think this is the end of the Ebisu tour, I’m surely had goodtimes here.

Ebisu, I know i got to go back again to you soon!

Comments

Loading Facebook Comments ...
Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...