Keputusan seorang car enthusiast terhadap jenis mobil pilihannya, kerap dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting. Hal ini tentu berkaitan dengan kebutuhan sang pemilik dalam menjalani aktivitas sehari-harinya. Tak terkecuali bagi Haruns Maharbina, yang menjatuhkan pilihannya kepada mobil jenis MPV untuk dijadikan sebagai media dalam melakukan personalisasi, sekaligus sebagai alat transportasi bagi keluarga kecilnya.

“Awalnya sih gue terpikir untuk cari Toyota Alphard, tapi gue nggak mau beli mobil bekas. Sedangkan kalau gue beli Alphard baru, budget masih kurang. Setelah melakukan pertimbangan bersama istri gue, akhirnya kita memutuskan untuk beli Honda Freed di bulan Maret 2013.

Selain karena pertimbangan budget, gue dan istri memilih Freed juga karena ukuran garasi rumah gue nggak terlalu besar dan Freed pas banget dengan dimensi garasi gue,” ungkap pria berpostur kekar ini saat memulai sesi interview. “Selain itu, dari dulu gue memang suka banget sama MPV yang dilengkapi dengan sliding door dan Freed memenuhi kriteria itu,” tambahnya.

Setelah unit Honda Freed pesanan Haruns, sapaan akrabnya, sudah sampai di rumah, pria ini pun segera memikirkan langkah personalisasi yang akan dilakukannya demi membentuk karakter mobil miliknya tersebut. “Hal pertama yang gue lakukan adalah mengaplikasikan beberapa perangkat OEM milik Freed Hybrid yang beredar di Jepang,” ungkap Haruns.

Perangkat OEM yang dimaksud adalah stoplamp yang memiliki tampilan clear dan steering wheel yang sudah dilengkapi dengan audio control. “Bagian depan juga rencananya akan gue facelift jadi Freed Hybrid, tapi saat ini barang-barangnya belum lengkap semua, jadi belum gue pasang. Mudah-mudahan dalam waktu dua atau tiga bulan ke depan, semua perangkat sudah lengkap dan bisa gue pasang,” lanjutnya. Sedangkan untuk bagian side skirt, Haruns lebih memilih untuk mengaplikasikan produk aftermarket buatan Mugen.

Untuk kenyamanan berkendara, Haruns juga turut melakukan upgrade di sektor audio. “Yang penting enak di dengar aja, makanya gue cuma pakai power amplifier jenis monoblock. Rencananya sih nanti mau tambah processor biar suaranya bisa seimbang semua,” jelasnya. Uniknya,



Haruns sendiri mengaku pernah mengaplikasikan jok Recaro SR4 di bagian depan, namun hal itu tidak berlangsung lama hingga dirinya memutuskan untuk kembali menggunakan jok bawaan mobil. “Duduknya nggak terlalu nyaman. Selain itu, setelah gue lihat-lihat, sepertinya nggak cocok dengan konsep tampilan mobilnya,” tukas pria ramah ini menanggapi.


Setelah sampai ke tahap ini, Haruns pun mulai melakukan bentuk personalisasi yang lebih massive. Yes, you’ve guess it. The wheel game! Tapi sebelum gue cerita lebih jauh tentang langkah personalisasi yang dilakukan Haruns di sektor roda, ada hal yang menurut gue sangat menarik dari cerita Haruns.


“Setiap gue mau beli car parts, gue selalu berunding dulu sama istri dan anak gue, karena kebetulan istri dan anak gue, si Azel (8 tahun) mendukung penuh hobby gue ini. Gue bersyukur banget dengan keadaan ini. Semoga dengan kayak gini, apa yang gue lakukan ini jadi berkah,” ungkapnya seraya tersenyum. Oh, how lucky you are, Mr. Haruns!

Ok, back to the story. Untuk sektor roda, keluarga Haruns sepakat untuk menjatuhkan pilihan pada CCW LM5T dengan spesifikasi 18×9.5 inch untuk roda depan dan 18×10.5 inch untuk roda belakang. “Kebetulan gue, istri dan anak gue, suka banget dengan tampilan stanced car, makanya gue pilih velg ini.

Sayangnya, saat dipasang, velg ini keluar dari fender. Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, fender mengalami wide body seperlunya. Lalu untuk mengurangi ground clearance, gue mengaplikasi coilover Hotbits DT1 yang kemudian gue rubah lagi pernya agar bisa menciptakan tampilan seperti yang terlihat saat ini,” jelasnya. Sebagai pelengkap, Haruns juga turut menyematkan lug nut dari produk Kranze.

“Setelah mobil jadi, Azel malah bilang kalau dia pengen knalpotnya ada bunyinya. Jadilah, gue cari-cari exhaust system yang cocok. Setelah hunting, akhirnya gue memilih front pipe, down pipe dan muffler buatan J’s Racing. Azel sendiri menemani gue selama proses pemasangan,” cerita Haruns seraya tertawa.

Cerita mengenai hubungan Haruns, Azel dan Freed kesayangan mereka tersebut bahkan tidak berhenti sampai disini. “Saat Azel berulang tahun yang ketujuh, coba tebak apa yang dia minta? Sunroof! Ha..ha..ha.. Ya udah, untuk memenuhi keinginannya tersebut, gue pun mulai mencari-cari produk aftermarket yang cocok. Tapi kesulitan timbul karena Freed gue adalah tipe yang sudah dilengkapi dengan perangkat double blower. Awalnya niat gue, gue mau pasang satu aja yang besar, tapi karena double blower itu, jadi kalau dipasang, posisinya terlalu ke depan. Akhirnya setelah berunding, kita memutuskan untuk pasang dua sunroof Webasto, ukuran medium di depan dan large di belakang,” bebernya lagi.

Kekompakan keluarga Haruns terhadap Freed kesayangannya ini, bahkan terlihat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. “Setiap kali parkir, Azel dan istri gue bantu parkirin, karena takut knalpotnya kena pembatas parkir. Bahkan gue pernah turun dari mobil untuk dorong mobil sementara istri gue nyetir karena nyangkut di polisi tidur. Ha..ha..ha.. Bahkan pernah di suatu hari, gue sekeluarga pergi ke Bandung dengan kondisi mobil yang sekarang.

Sesampainya di daerah Lembang, ada lubang di jalan yang sepertinya nggak bisa dilewati sama mobil gue yang pada akhirnya gue memutuskan untuk putar balik dan membatalkan perjalanan. Istri gue pun ngambek. Tapi demi membayar kekecewaan, minggu depannya gue kembali mengajak gue pergi ke Lembang, tapi kali ini mobil gue parkir di hotel dan kita melanjutkan perjalanan naik travel, jadi semua senang,” kenang pria yang gemar bercanda ini.

Last question, apakah Haruns akan menjual mobil ini saat kebutuhan dirinya akan alat transportasi sudah berubah?

“Kalo rejeki keluarga gue lancar, gue sih mau mempertahankan mobil ini terus. Sudah terlalu banyak kenangan di dalam Freed ini, meskipun umurnya baru satu tahun lebih. Harapan gue, gue bisa menambahkan isi garasi gue dengan MPV yang lebih besar aja saat anak gue sudah tumbuh besar. Impian gue sih, gue bisa punya MPV gede dengan setelan ‘ambles” pakai air suspension, jadi tetap bisa dibawa kemana saja tanpa halangan,” tutup Haruns.

Respect!



One thought on “Defining Family Van // Honda Freed E”