Close X Yandinov's C10

Hooked Up! // 1968 Chevrolet C10

Just like a dope in your blood. It’ll be hard to stop once you get it.

Kurang lebih seperti itu gambaran yang gue bisa lihat dari sosok Yandinov Taqwa Putra, pemilik Chevrolet C10 ini. Meskipun begitu, sebelum bermain dengan American truck, pria yang akrab disapa Dinov ini lebih dulu berkiprah sebagai seorang Holden enthusiast. Nggak bisa dipungkiri, gue pun banyak melihat bahwa orang yang awalnya berkecimpung dengan brand Holden, kerap stepping up their game by putting the V8 engine from GM and ended up with buying the American car insteadMeanwhile some purist will stay on their game tho.

Gue sendiri merasa cukup yakin bahwa Dinov juga awalnya melakukan hal yang sama pada Holden miliknya sebelum beralih ke American truck. Karena itu, gue pun mengutarakan pertanyaan mengenai penggunaan mesin V8 di Holden tersebut saat menjalani sesi interview. Lucunya, jawaban Dinov justru tidak sesuai harapan gue. Saat masih menggunakan Holden, dari Holden Special, Belmont hingga Statesman yang baru saja ia jual dua minggu lalu, Dinov justru memilih untuk mempertahankan mesin inline 6-cyl bawaannya

Lantas apa yang mendorong dirinya untuk beralih ke mobil keluaran Amerika?

Here comes another unique story behind his choice to be an American minded. Ternyata sebelum menjadi pengguna Holden, Dinov sudah lebih dulu menggunakan Jeep YJ Wrangler saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Namun, berhubung harga bensin melambung tinggi pada tahun 2006, Dinov akhirnya memutuskan untuk menjual YJ dan beralih ke Holden. (Walaupun sampai sekarang gue masih bingung dengan keputusan Dinov yang menjual Jeep karena alasan harga bensin, namun justru menggantinya dengan mobil yang konsumsinya bahan bakarnya boros juga. LOL!)

After a long story with the Holdens, akhirnya Dinov mengaku rindu dengan YJ Wrangler yang sempat menemani kesehariannya di masa remaja tersebut. Karena itu, Dinov akhirnya kembali membeli unit YJ Wrangler dan berniat membuat tampilan yang serupa dengan YJ miliknya di masa lalu. Dalam prosesnya, Dinov pun harus kerap mengunjungi beberapa website maupun forum asal Amerika saat akan membeli sejumlah parts untuk proses personalisasi terhadap YJ miliknya.

“Saat itulah, gue beberapa kali lost di forum-forum mancanegara, salah satunya forum yang berisikan American truck seperti yang terlihat di website 67-72chevytruck.com. Dari situ, gue jadi tertarik banget sama American truck. Selain itu, bokap gue juga suka banget sama platform mobil pick-up. Jadilah, gue dan bokap sepakat untuk mencari American pick-up truck,” ungkap Dinov saat sesi interview.

Segera setelah ide tersebut muncul, Dinov pun mulai melakukan pencarian terhadap old American truck yang potensial, dimana unitnya masih bisa di cari dan di beli di Indonesia dengan harga yang reasonable. Setelah melakukan riset, Dinov pun menemukan fakta bahwa unit Chevrolet C10 masih bisa ditemukan di kota Semarang karena sebelumnya pernah digunakan sebagai mobil dinas oleh Departemen Pekerjaan Umum kota Semarang. Namun, beruntung bagi Dinov, saat melakukan pencarian, Dinov justru mendapatkan unit Chevrolet C10 yang kini menjadi miliknya di Jakarta pada bulan April 2013 lalu.

Namun saat berpindah tangan, kondisi mobil masih jauh dari sebuah proper American truck. “Saat gue beli, kondisinya layaknya kebanyakan mobil tua sih. Cat mobil yang awalnya berwarna biru tua sudah terlihat sangat usang. Sama yang paling parah, mesin bawaan sudah diganti dengan mesin diesel keluaran Mitsubishi,” keluh Dinov.

Setelah melakukan transaksi, instead of picking up the truck using a car carrier, Dinov justru memilih untuk mengemudikan truck ini sendiri menuju bengkel pribadinya yang terletak di daerah Pamulang. “Kondisinya bisa dibilang kurang layak sih. Kemudi loose nggak karuan dan remnya blong. Hari kedua setelah gue beli, gue sempat mau coba jalan-jalan dengan mobil ini, eh malah mogok! Dan yang lebih parahnya lagi, mobil ini mogok pas di underpass Casablanca. Tengah malam pula,” kenangnya.

Sejak saat itulah, Dinov memutuskan untuk menjalani proses restorasi terhadap Chevrolet C10 miliknya.

Saat sedang menjalani proses restorasi tersebut, Yandinov pun banyak mencari referensi untuk dijadikan acuan. Dari sekian banyak referensi yang diperolehnya tersebut, Dinov pun menjatuhkan pilihan kepada konsep pro touring truck sebagai acuan dalam menciptakan karakter tampilan sang Chevrolet C10.

(FYIPro-Touring is a style of classic muscle car with enhanced suspension components, brake system, drivetrain, and aesthetics, including many of the amenities of a new performance car – Red.)

Pilihan Dinov inipun menurut gue adalah pilihan yang sangat realistis. Cause instead of restoring the old car to its original condition, sepertinya melakukan upgrade di sejumlah sektor penting justru akan membuat mobil tersebut lebih reliable dan nyaman untuk digunakan di kondisi lalu lintas jaman sekarang yang kerap menyiksa mobil hingga titik maksimal.

Seluruh langkah ubahan yang dilakukan oleh Dinov bisa dibilang sangat detail dan selalu diusahakan berada dalam kondisi as clean as possible. Pekerjaan berat seperti chassis job, engine replacement hingga urusan accessories yang disematkan di mobil keluaran 1968 ini seluruhnya dilakukan dengan proses yang sangat hati-hati.

Kalau kalian mengira Dinov mempercayakan seluruh pekerjaan ini ke pihak lain, you’re so damn wrong! Karena seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan Chevrolet C10 ini dikerjaan oleh Dinov sendiri di bengkel pribadinya.

Let’s start from the chassis. Berhubung dari awal Dinov sudah berniat untuk menggunakan air suspension, maka sejumlah persiapan perlu dilakukan agar truck yang aslinya mengusung drop-center ladder frame ini bisa stand out saat aired out. Persiapan yang dilakukan antara lain seperti memisahkan chassis dari body shell agar struktur chassis bagian belakang dapat dirubah menjadi step notch. Fungsinya agar bracket perangkat suspensi bisa berada dalam posisi yang lebih tinggi, agar mobil dapat benar-benar amblas saat aired out. Ubahan ini kemudian berimbas pada posisi rear arm yang harus direlokasi agar tidak lagi terhalang oleh chassis. So does the panhardcrossmember drive-shaft and exhaust line. Dinov pun mengaku harus banyak memutar otak agar semua perangkat dapat berfungsi secara normal akibat perubahan struktur chassis ini.

Sementara untuk instalasi perangkat air suspension keluaran Accuair yang sudah dilengkapi dengan sistem e-level management ini, Dinov mengaku tidak menemui kesulitan berarti. Berhubung platform mobil yang digunakan adalah sebuah pick-up truck, jadi peletakkan tangki udara beserta kompresor yang berukuran cukup besar tersebut nampaknya dapat diatur dengan mudah.

Untuk itu, Dinov memutuskan untuk meletakannya seperti ini. Lookin’ good tho!

Meskipun begitu, akibat peletakkan posisi tangki udara dan kompresor tersebut, Dinov pun harus merelokasi tangki bensin ke bagian tengah chassis.

If we’re talkin’ bout the old American car, we used to be thinkin’ bout the old-fashion sound of American V8. And yes, Dinov also did some work on this truck’s engine.

Dinov kembali menghidupkan the American soul dari truck ini dengan menanggalkan mesin diesel buatan Mitsubishi yang tersemat di engine bay mobilnya dan menggantinya dengan crate engine GM Goodwrench 350ci yang dipadu dengan transmisi otomatis keluaran Summit Racing tipe TH400 lengkap dengan torque converter keluaran B&M.

Even more, Dinov kemudian turut melakukan improvement terhadap performa mesin tersebut dengan mengaplikasikan Lunati camshaft dengan durasi 282 derajat, 750cfm carburetor dan performer intake keluaran Edelbrock, Summit Racing distributor, Taylor spark plug wire, March Performance pulley dan alternator bracketair filter serta valve cover buatan GM Performance. List tersebut bahkan belum berhenti sampai disini, tapi sepertinya akan terlalu panjang kalau gue breakdown satu persatu.

Lalu, seperti apa suara mensinnya? One word. Gurih!

Kalian tentu akan membayangkan kalau truck sebesar ini dengan spesifikasi mesin seperti itu akan sulit berhenti jika Dinov tidak ikut melakukan upgrade pada sektor pengereman. With that said, Dinov pun melakukan improvement pada sektor pengereman lewat penggantian master cylinder dan dual diaphragm booster dari produk Classic Performance Products (CPP).

Lalu rem depan menggunakan 6-pot BAER Extreme Plus dengan rotor berukuran 15 inch. Sementara untuk bagian belakang dibiarkan menggunakan drum brakes bawaan Chevrolet C10.

Dengan penggunaan rem sebesar ini, otomatis Dinov harus mengganti keempat velg dengan ukuran yang lebih besar. Dinov pun menjatuhkan pilihan kepada American Racing Torque Thrust ST dengan ukuran 20×8,5JJ.

Kembali ke tampilan luar secara keseluruhan. Dinov nampaknya tidak ingin membiarkan tampilan C10 miliknya nya yang diakui terlahir dengan spek terendah.

Atas alasan tersebut, Dinov membeli seluruh perangkat yang diperlukan untuk melakukan facelift, seperti front bumperrear bumperfront bezelside body mouldinghood mouldingwindshield mouldingrear windshield mouldingtailgate moulding, hingga karet-karet kaca depan-belakang serta pintu yang dipesannya langsung dari LMC Truck USA.

What about the interior?

Dinov juga melakukan personalisasi secara sederhana namun detail. “Owner sebelumnya sudah pernah mengganti jok yang seharunya one piece seperti ini jadi terpisah. Untuk menghemat budget, gue mengakalinya dengan melakukan customizing pada jok mobil Jepang dengan sedikit merubah frame bagian bawah sesuai dengan bawaan milik Chevrolet C10,” jelas Dinov.

The rest inside the cabin is tipically American builder yang terlihat lewat pengaplikasikan instrument velocity facia+meter.

Selain itu, Dinov juga turut mengaplikasikan steering wheel dan boss kit dari Billet Specialties yang dipadu dengan Summit Racing steering column bracket, Ididit steering column, Billet Specialties air conditioner vent, Billet Specialties door lock, Lokar rearview mirror, Summit Racing trottle pedal serta Lokar billet alumunium brake pedal.

I think its more than enough to break some neck. Dinov malah bercerita bahwa sejak mobilnya memiliki tampilan seperti ini, dirinya justru kerap disulitkan saat ingin masuk ke dalam mobilnya karena sering dikelilingi oleh orang banyak untuk sekedar berfoto atau melihat-lihat seluruh sisi dari Chevrolet C10 miliknya tersebut. “Nggak cuma itu. Bahkan suatu hari, ada orang yang mengalami kecelakaan di tol karena driver-nya terlalu asik memandangi mobil gue,” cerita Dinov. Insane!

But actually, this is not the end of Dinov’s ‘Granada Red’-ed truck. Saat ditanya tentang rencana kedepannya, Dinov mengaku sedang kembali melakukan riset agar truck miliknya dapat lebih rapat ke bumi saat berada dalam kondisi aired out. “Gue mau coba ganti drop member C10 ini dengan keluaran Porterbuilt (PBfab) supaya mobil ini bisa makin pendek lagi saat aired out,” tutup Dinov dalam sesi interview bersama Goodrides.

Everyone can be a car enthusiast. But being a real car enthusiast is more than just showing your interest to every car related things. It’s all about your passion, your taste, your knowledge and it would be perfect if you can do it all by yourself. Therefore, Dinov is one example of a true car enthusiast. I salute you, bro!

Comments

Loading Facebook Comments ...
What people say about this (2)

2 thoughts on “Hooked Up! // 1968 Chevrolet C10

  1. wah nggak nyangka orang kita indonesia a…aku emang lagi cari mesin murah smal blog 350….karna suamiku udah ada mercy amg 6.3v8 th 2012………….fotonya sangat bagus cara tulisnya sangat retorika bisa jadi editor majalah tuh kalo mau
    aku sangat cinta suamiku kasihan dia ingin punya super car nggak bisa tuh sibuk ngurus rt …aku aja yg bangun mobil bodong tampang aventador tapi mesin chevy small blog dan yang satunya lagi si imut dtm tapi mesin v12 7000cc merdu suaranya bisa untuk harian ,,,,trims suamiku tlh mencintaiku sepenuh hati dan juga kalian semua nya yg baca blog ini thanks dinov ..coba deh ajak communitas yg lebih besar lagi pasti ada tuh orang indonesia baik dalam negri maupun diluar sana di abu dhabi di london for my friend kasihan deh loch cafe cafe blajar di luar eh ngak bisa ferrari pokoknya life once be good one never surreder

Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...