Di dalam kehidupan, setiap orang kerap kali harus dihadapkan dengan sebuah pilihan dan dituntut untuk berani mengambil keputusan dalam menentukan pilihannya tersebut. Tentunya keputusan yang diambil selalu diiringi dengan konsekuensi yang harus ditanggung setelahnya, antara pilihan yang benar atau yang salah. Bener nggak?

Hal inilah yang dihadapi oleh one of our goodfriends, Muda Mulyana, yang pernah salah dalam mengambil keputusan untuk menjual Honda Civic SR3 kesayangannya yang sudah banyak mempersembahkan prestasi di dunia motorsport 5 tahun silam.

“Pertimbangan gue dulu untuk menjual Estilo (Civic SR3) karena saat itu gue udah nggak aktif lagi di dunia balap. Tapi jujur, gue menyesal karena mobil itu bener-bener jadi saksi bisu perjalanan hidup gue, mulai dari menjalani kehidupan sehari-hari, sampai menjuarai berbagai ajang balap di dunia motorsport seperti touring dan drag race yang diadain di sirkuit Sentul,” jawab Muda pada saat gue tanya tentang alasan mengapa ia menjual mobilnya tempo hari. Actually, dirinya hanya nggak kepengen ngeliat mobilnya menganggur dan nggak berguna, that’s it. Tapi yang gue bingung, kenapa Muda malah menjual mobilnya dalam keadaan standar?

Then I was like: “So what’s the problem? Kan mobilnya bisa dipakai juga karena masih layak untuk dibawa jalan sebagai kendaraan sehari-hari dan bukan sebagai mobil balap, jadi nggak sepenuhnya nganggur.” Dengan keramahannya, Muda menjawab: “Nah, itu dia kenapa gue menyesal. Walaupun ada alasan lain dibalik kenapa gue menjual mobil itu. Karena gue ingin serius ngejalanin kuliah.”

Back in the days, dalam kurun waktu tiga tahun setelah berpisah dengan mobil kesayangannya, Muda memiliki project car lain, yaitu sebuah Toyota Celica TA22 yang ditenagai oleh mesin 3S-GTE. Dalam masa-masa membangun “mainan” barunya itu, Muda tanpa sengaja bertemu dengan sebuah unit Civic SR3 bonestock berwarna silver yang sedang terparkir di suatu restoran di bilangan Dago, Bandung.

“Gue nggak tau kenapa, saat itu gue merasa kalau ini saat yang tepat untuk menebus penyesalan gue di masa lalu. Selain itu, saat melihat mobil ini, gue bener-bener jatuh cinta pada pandangan pertama,” kenang Muda.

Another story began, Muda meninggalkan kertas yang berisikan nomor telepon dan pesan untuk owner mobil tersebut yang bertujuan agar sang owner menghubungi dirinya. Tapi kenyataannya, setelah berhari-hari menunggu, Muda tidak kunjung mendapatkan balasan dari sang owner. Oleh karena itu, dengan susah payah, Muda mencoba mencari jalan lain untuk mengetahui identitas sang owner, hingga akhirnya membawa dirinya kepada seorang teman yang kebetulan kenal dengan owner mobil tersebut.

Long story short, keinginan Muda untuk menebus Civic SR 3 inipun disambut dengan baik oleh sang owner, hingga akhirnya Muda berhasil membawa pulang mobil ini setelah menjual Celica TA22-nya tanpa keraguan sedikitpun. Memasuki tahap ini, Muda kemudian mulai melakukan proses personalisasi yang bertujuan untuk menciptakan sebuah Civic SR3 yang lebih proper dibandingkan dengan mobil terdahulunya yang sekarang sudah entah kemana.



Sebagai seorang car guy, Muda juga merasa lebih tertantang dengan kondisi mobil yang masih standar seperti ini. As you know, pastinya ada kepuasan tersendiri saat menjalani proses membangun mobil dari keadaan standar, meskipun sudah pasti membutuhkan pengorbanan yang cukup besar dari segi waktu yang tersita, tenaga yang digunakan, hingga kesabaran yang diuji saat menjalani prosesi tersebut. Perjalanan seperti inilah yang ikut menciptakan hubungan emosional yang kuat antara Muda dengan mobil miliknya.
Berbasis dari pengalaman terdahulunya dalam membangun mobil dengan platform yang identik, Muda kali ini tidak ingin salah langkah dalam menentukan konsep dan pencarian referensi dalam mengambil setiap keputusan. “Pokoknya kali ini gue mau mobil gue masih reliable untuk dipakai sehari-hari, namun juga proper saat digunakan untuk track purpose,” tegas Muda.

Hal pertama yang dipikirkan adalah mesin mobil ini harus lebih kencang dan reliable bila dibandingkan dengan mesin ZC yang digunakan pada Civic terdahulunya. Keberuntungan kembali memihak pada Muda, setelah dirinya mendapatkan tawaran yang sepertinya tidak bisa ditolak, yaitu mesin K20A bawaan Integra DC5 Type R lengkap beserta drive shaft dan engine mounting Hasport.

“Setelah gue bawa pulang, mesin itu akhirnya cuma tergeletak di garasi gue selama 6 bulan. Di saat yang sama, gue akhirnya berpikir kalau mobil ini sepertinya lebih cocok jika dipasangkan mesin B18C,” tukas Muda sembari mengingat tentang keputusannya yang dinilai sangat janggal oleh teman-temannya.
Gue sendiri juga bingung sih dengan keputusan Muda ini. Realistis aja, mayoritas Honda freak bisa dibilang sangat mengidam-idamkan mesin K20A itu berkat performanya yang dahsyat.

Jadi gue bener-bener penasaran kenapa Muda lebih memilih mesin B18C dibanding K20A. Meskipun agak klise, tapi menurut Muda, hatchback sekecil ini dinilai terlalu berlebihan jika dipasangkan dengan mesin K20A, sehingga lebih cocok jika dipasangkan dengan mesin berkode B18C yang merupakan mesin bawaan Integra DC2 Type R ini.

“Mesin B18C ini gue ambil dari halfcut komplit milik Integra Type R DC2. Gue memang sengaja cari halfcut supaya sistem kaki2, subframe dan sistem rem bisa pake kepunyaan Integra Type R,” tegas Muda. Lalu, gimana dengan mesin K20A-nya? “Gue jual lagi!” Jawab Muda seraya tertawa terbahak-bahak.

Basically, terlepas dari pemilihan mesin yang digunakan, reliability dari mesin tersebut menjadi perhatian terbesar Muda. Material dari mesin B-series dinilai lebih kuat dan tahan lama. Hal penting lainnya yang nggak luput dari perhatian Muda adalah sektor handling yang harus mampu mengakomodir kebutuhan dirinya untuk memacu mobil ini secara maksimal.

“Nggak penting mesin kencang kalau handling mobilnya nggak enak. Setelah handling-nya mumpuni, baru deh mesinnya dioprek lagi biar lebih kencang,” ungkap Muda.

Perjalanan personalisasi yang dijalani Muda selama 1,5 tahun belakangan ini, tak ayal telah membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginannya. Performanya yang mumpuni dipadu dengan tampilan yang sleek, sepertinya sangat sempurna untuk menemani aktifitas Muda dalam menjalani kesehariannya maupun untuk memenuhi kebutuhannya akan adrenaline rush saat dirinya memacu mobilnya secara maksimal layaknya Muda saat sedang berada di masa kejayaan bersama Civic terdahulunya.

It’s called, reminiscing the old days 😀

And talkin ’bout changing the car. He says it will never happen again!




One thought on “Reminiscing the Old Days // Honda Civic SR3/EG6”
Lokasi pengambilan gambarnya bagus banget + Mobilnya sangat proper.. Reminds me of Initial D….
That car must’ve been lucky… having modified and taken care by such enthusiast!