“Awalnya sih beli mobil ini untuk sekedar nostalgia aja, mengingat masa SMA waktu gue masih pakai Estilo. Makanya, cari mobilnya juga yang masih dalam pristine condition, karena gue berencana untuk menyimpannya dalam kondisi layaknya baru keluar dari pabrik,” jawab Yahya Adi Nugroho saat gue tanya tentang alasannya memilih Honda Civic SR3/EG6 atau yang populer dikenal dengan Estilo.
From this point, you might ask why did Yahya finally came up with this upgraded version of Estilo.
“Ini konyol sih. Gue akhirnya terpikir untuk melakukan ubahan setelah merasa kecewa karena salah satu kabel injector di mesin bawaan mobil gue digigit tikus,” bilangnya.
So I asked him with a bunch of questions that I normally ask to an owner, seperti apa cerita unik dibalik segala ubahan yang dilakukannya itu. Lalu, apa jawaban Yahya? Nothing. Gue pun terus berusaha mengorek cerita dari segala ubahan yang dilakukan Yahya. Tapi Yahya selalu menjawabnya dengan jawaban yang serba klise. Ok then, gue pikir, ini orang emang unik banget. Ditanya latar belakang tentang mobilnya aja dia nggak mau cerita. So, how the hell should I write about this damn car?!
Rasa penasaran sambil bingung tentang materi apa yang akan gue angkat di tulisan kali ini pun terus membayangi pikiran gue, sampai akhirnya pada suatu hari, gue minta izin untuk main kerumah Yahya. Tujuan utamanya sih gue mau nyobain main Gran Turismo 6 di sophisticated playseat yang dia punya dirumahnya. Tapi saat lagi main, gue pun come up with an idea. Why don’t I try to drive the car, jadi gue bisa merasakan impresi berkendara dari Estilo milik Yahya yang sudah mengaplikasi mesin K20A bawaan Integra Type R (DC5) ini.
Tanpa gue sangka, permintaan gue ini dikabulkan oleh Yahya. More than that, Yahya even ask me if I would take a long trip with his damn Civic. Gue pun nggak menyia-nyiakan kesempatan ini. After having a chit-chat, gue pun sepakat untuk take a trip ke Bandung sama dia. Untuk perjalanan kali ini, Yahya pun mengizinkan gue untuk drive along the way. How kool is that?
Fast forward ke H-1, gue pun kembali muncul dengan ide yang lebih “kurang ajar.” Yang ada di dalam benak gue cuma gini, mesin K20A yang jadi pilihan Yahya untuk di-swap ke engine bay Estilo miliknya kan dilahirkan sebagai mesin high performance. So I bet this car would run like hell, right? Jadi, kalau seandainya saja gue diizinkan oleh Yahya untuk mencoba mobilnya di track, instead of going to Bandung, gue pun bakalan lebih super excited layaknya anak kecil yang mengalami sugar rush. So there I go, sambil cengengesan, gue pun bilang ke Yahya. “Daripada ke Bandung, boleh nggak kalau cobain mobilnya di (sirkuit) Sentul aja?”
Gue pikir, kalaupun Yahya keberatan, gue bakalan sepenuhnya mengerti. Karena mengizinkan orang lain untuk nyobain mobil didalam track itu bukanlah hal kecil. Apalagi ini merupakan mobil yang sudah mencurahkan banyak keringat (dan lebih banyak uang tentunya) dalam proses personalisasinya. Tapi surprisingly, Yahya (yang saat itu lagi kurang tidur mungkin), justru kembali mengabulkan permintaan gue itu! Ok, sekarang gue yang takut. Hatchback kecil yang ringan, dipadu dengan mesin yang punya ouput mendekati 300 hp, didalam track. Sounds like a creepy combination. Tapi, lagi-lagi, kesempatan kayak gini sepertinya nggak akan datang dua kali ya, jadi gue pun dengan pedenya bilang:
“Ok, sampai ketemu besok,” seraya sok-sok nggak excited.
Setelah having trouble sleeping karena nggak sabar nungguin pagi hari, gue pun meluncur dan sampai di rumah Yahya jam 5 pagi seperti yang dijanjikan. Jam janjian yang pagi ini kita set karena sebelum masuk ke sirkuit Sentul, kita berencana untuk cari sarapan dulu di daerah Bogor. What a perfect day. Sebelum gue cobain di track, gue pun berkesempatan untuk nyobain mobilnya di freeway. Pagi hari pula, dimana kondisi jalanan pasti sepi.
Gue pun mulai duduk di dalam Estilo dan cari driving position yang paling nyaman. Yahya pun mulai pasang GoPro di sisi penumpang buat capture perjalanan kita. Saat masih berada di jalan dalam kota, I have to admit kalau kopling J’s Racing hyper single yang jadi pilihan Yahya cukup “mengganggu” saat stop and go, meskipun pengoperasiannya nggak sesulit kopling “kompetisi”. Selain itu, engine mounting dari bahan dasar polyurethane buatan Hasport yang sekaligus merupakan bolt-on kit untuk mengaplikasi mesin K20A di Estilo juga membuat mobil terasa cukup bergetar saat idle, meskipun masih terasa sangat nyaman saat sedang cruising. Absennya fitur power steering juga agak janggal saat mengendarai sebuah Civic Estilo. Tapi buat gue sih nggak masalah sama sekali, karena mayoritas mobil gue belum dilengkapi dengan perangkat power steering, jadi stir yang berat sudah terasa sangat biasa buat gue. LOL!
Tapi overall, it’s a nice car. Bantingan suspensi Tein Super Street yang sudah di-adjust sedemikian rupa oleh salah satu racing workshop di bilangan Cilandak juga terasa sangat tolerable saat dikendarai di jalan dalam kota, bahkan saat melibas jalanan beton yang bergelombang.
After that city driving, gue pun mulai masuk ke tol Jagorawi untuk menuju ke kota Bogor. Karena masih pagi hari, tol inipun sangat lengang. Gue pun mulai buka throttle secara agresif untuk merasakan sensasi output mesin saat high reving. Dan untuk gue yang nggak punya mobil big horsepower, Estilo ini terasa sangat sensasional. Saat throttle dibuka penuh dari 2000 rpm, putaran mesin pun naik dengan sangat cepat, terlebih lagi saat i-VTEC aktif di putaran 6500 rpm all the way to redline at 8500 rpm.
Adjustable shifter buatan Hybrid Racing yang dipadu dengan shift knob bawaan Integra Type-R (DC5) pun terasa sangat menyenangkan untuk digunakan. Setup yang dilakukan Yahya pada shifter ini membuat proses shifting sangat minim gerakan. Segala kombinasi ini buat gue berulang kali melakukan full throttle. “Sayangnya mobil ini masih ada speed limiter. Gue udah beli sih perangkat untuk menonaktifkan speed limiter itu, tapi belum gue pasang,” bilang Yahya.
Speed limiter yang dimaksud aktif saat kecepatan mobil mencapai 190 km/jam. Saat ECU membaca speed mobil sudah mencapai kecepatan tersebut, mesin pun seakan-akan di –cut hingga mati sementara dan kembali normal saat kecepatan sudah kurang dari 190 km/jam. The crazy thing is, mobil yang dilengkapi dengan transmisi 6-speed bawaan K20A ini selalu bisa mencapai kecepatan maksimum itu di gigi kelima dan belum redline! Jujur, gue penasaran sih, mobil ini bisa lari berapa saat speed limiter sudah dinonaktifkan.
Nggak kerasa, kita pun akhirnya sampai di exit kota Bogor where we would find some breakfast and have a little chit-chat. Disini, Yahya pun akhirnya dengan jujur menyampaikan pernyataan yang terkait dengan keputusan dia untuk nggak cerita apa-apa tentang latar belakang mobilnya ini. “Basically, gue udah beberapa kali melakukan ubahan pada mobil. Jadi, to be honest, proses ubahan yang gue lakukan di mobil ini semuanya sudah sistematis. Gue udah tau apa yang harus gue lakukan sebelum mengeksekusi suatu ubahan. Jadi, buat gue pribadi, proses ubahan pada mesin, suspensi dan segala peranti pendukungnya pada dasarnya nggak ada yang istimewa. Karena itu, gue juga bingung mau cerita apa saat loe tanya mengenai cerita unik yang ada di belakang proses ubahan di mobil ini, selain cerita unik dimana ubahan justru diawali oleh cerita tikus (yang gigit kabel injector) itu. Hahaha,” kenang Yahya. “Makanya, gue justru lebih suka saat loe bilang mau cobain mobil ini, jadi gue nggak perlu ngarang cerita apa-apa,” tambahnya lagi sambil ketawa ngakak.
Ok, now I get the point. Gue pikir karena dasarnya orang introvert aja, makanya tertutup banget nggak mau cerita. ROTFL! Kidding mate!
After having breakfast, kita pun bersiap melanjutkan perjalanan ke sirkuit Sentul. Jujur, sampai tahap ini, perut gue mulai terasa sakit karena terlalu excited akan nyobain mobil ini didalam track. Tapi di sisi lain, karena selama perjalanan gue sudah mulai mengenali karakter mobil ini, gue pun sudah cukup percaya diri untuk mengendarainya di track.
Setelah refueling di sebuah rest area yang terletak di sebelum exit tol, kita pun mulai memasuki kawasan sirkuit Sentul. Luckilly for us, sirkuit Sentul sedang tidak dipergunakan untuk event apapun, jadi status sirkuitnya open for public. This is it, gue pun semakin nggak karuan karena super excited. Setelah menunggu beberapa saat hingga sesi motorcycle usai, saat yang gue tunggu-tunggu pun tiba. Oh yes, I’m gonna drive this mighty Civic on the track baby!
Putaran pertama dan kedua pun gue pergunakan untuk mengenali karakter handling mobil milik Yahya. Gue pun sangat terkejut ketika mobil ini terasa sangat grippy di track, baik saat dipacu di straight line maupun cornering. Memasuki putaran ketiga, gue pun mulai pushing the car as far as I can dan gue pun semakin terkejut. This car is just stunning! Sejak memasuki straight, mobil ini selalu bisa mencapai kecepatan 190 km/jam saat berada di depan tribun, jauh sebelum sampai di R1. Not to forget, kecepatan itu dicapai di gigi kelima, which the tranny is equipped with 6th gear! Performa suspensi yang sudah di-adjust secara proper juga menunjukkan keunggulannya disini. Performa rem juga nggak kalah superb, brake caliper depan buatan Spoon yang terpasang bersama knuckle EK9 Type R juga menunjukkan tajinya saat hard braking. Not to mention ban Advan Neova AD08 ukuran 205/45 di Sprinthart CP-R berspesifikasi 16×8 dipadu dengan kehadiran piranti adjustable camber kit dan rear subframe tie yang membuat mobil terasa sangat melekat di aspal. Everything is just on point! Rasanya, tiap ubahan yang dilakukan Yahya terasa sangat mendukung satu sama lain, sehingga mobil tetap terasa sangat mudah dikendalikan, even with that massive engine power.
Unfortunately, di putaran keenam atau ketujuh, tiba-tiba gue merasa handling mobil berubah total. Gue pun nggak berani melanjutkan dan memilih berhenti masuk ke pit 46 yang sudah disewa Yahya. You know what, dinding ban bagian luar yang terletak di roda depan kiri, terlepas dari bibir velg! Shit f*ckin happens! Rupanya, karena udah terlalu excited untuk masuk ke dalam track, gue dan Yahya jadi lupa periksa tire pressure dan sepertinya pressure di roda depan kiri is slightly under inflated. Gue pun merasa sangat bersalah sama Yahya dan nggak henti-hentinya minta maaf atas kejadian tidak mengenakkan itu.
What surprised me is, Yahya didn’t stop it here! Yahya justru menyewa truk gendong dari Jakarta untuk membawakan dirinya another set of wheels and tires! Long story short, setelah velg dan ban itu sampai dan dipasang ke Estilo, gue pun dipersilahkan kembali oleh Yahya untuk mencoba mobil miliknya di dalam track. Gue pun nggak menyia-nyiakan kesempatan ini dan terus memacu mobilnya, kali ini layaknya seorang anak kecil yang baru saja dipinjemin mainan canggih sama temannya. Oh man, what a lucky person I am! Thank you for the wonderful experience mate! Appreciate it, big time!
Tanpa terasa (buat gue sih, entah buat Yahya. Gue rasa dia mulai muak liat mobilnya dibawa muter-muter terus didalam track sama gue. LOL!), track pun ditutup. Kita pun segera menyiapkan diri untuk pulang. Meskipun begitu, gue pun kembali dihadapkan dengan situasi yang membuat gue bisa merasakan sensasi berkendara lainnya saat jalan pulang. Traffic di tol saat jalan pulang bisa dibilang cukup tersendat dan itu menuntut gue untuk constantly driving with a stop and go sequence. Bagi gue pribadi yang sudah merasakan sensasi di track, segala kekurangan seperti sedikit bergetar saat idle, kopling yang slightly heavy to operate dan absennya fitur power steering terasa semakin tolerable mengingat potensi apa yang tersimpan dibalik tampang sopan mobil ini.
From the bottom of my heart, gue menyatakan bahwa Yahya telah menghasilkan sebuah work of art lewat Estilo miliknya ini and he did it by brain, heart and soul. Semua langkah sudah diperhitungkan secara sangat matang dan sistematis yang membuat mobil ini muncul sebagai mobil yang perfectly built.
Meskipun begitu, Yahya juga tetap memiliki mental sabar dalam melakukan personalisasinya. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh kesabaran dirinya dalam mencari salah satu fitur yang paling unik buat gue di Estilo miliknya, yaitu pengaplikasian JDM EG6 Gathers interior yang belum pernah gue lihat sebelumnya karena peredarannya yang cukup langka di pasaran. Salah satu ciri unik dari spesifikasi interior ini adalah hadirnya fitur rear folding seat dan compartment di bagasi yang fungsional. Not to mention aplikasi fitur interior OEM milik EG6 lainnya yang bisa bikin tulisan ini semakin panjang jika dijabarkan satu-persatu.
Selain itu, Yahya juga tetap memikirkan faktor estetika dan character building di sektor eksterior layaknya seorang pure car enthusiast. Gambaran ini dapat terlihat lewat segala langkah konversi spesifikasi yang dilakukan Yahya, seperti pengaplikasian front lips spoiler, retractable mirror, rear wing spoiler, decals, foglight, hingga tinted windows yang seluruhnya merupakan OEM parts milik EG6 spesifikasi JDM.
Tapi, dari sisi pandang gue pribadi, ada hal yang sangat menarik dari coverage kali ini. First of all, dari apa yang sudah dilakukan Yahya terhadap Estilo miliknya, gue menilai bahwa Yahya merupakan salah satu dari segelintir orang yang gue anggap sudah pantas disebut sebagai representasi sempurna dari seorang true car enthusiast. Tapi disamping itu, what makes this coverage is so special is, Yahya sudah sangat berjasa menyuguhkan pengalaman yang sangat menarik bagi tim Goodrides. Bukan hanya karena dirinya nggak segan-segan mengabulkan permintaan gue untuk merasakan sensasi berkendara dari mobilnya, tapi Yahya sudah menyuguhkan sebuah unforgettable experience buat kita semua yang sepertinya sangat tepat untuk merepresentasikan tagline milik Goodrides. We’re definitely having superb goodtimes, thanks to mr. Yahya as our superb goodfriend, by letting us deeply involved with his beautifully made, goodrides.
Don’t forget to check out our video coverage of our trip with this sleeper Civic.
We just can’t thank you enough, brother. Last but not least, we also wanna say thank you to that anonymous little mouse for letting this happen! Cheers!




One thought on “Started Off by a Mouse // Honda Civic SR3/EG6”