Sebelum gue cerita panjang lebar mengenai perjalanan seru ke Semarang kali ini, gue mau cerita dulu tentang kenapa kita bisa ke Semarang untuk meliput acara ini. Awal mulanya, kita menerima proposal melalui e-mail dari gabungan sejumlah car enthusiast asal Semarang yang berniat membuat sebuah car meet dengan bertajuk JAVFSET 2014 : Proper Car Meet. Singkat cerita, setelah dipelajari, kami memandang proposal tersebut cukup promising. Karena itu, kami memutuskan untuk mengatur sebuah meeting dengan para pencetus JAVFEST 2014.
Tepat sebulan sebelum acara ini digelar, Ricky Rahardjo, Aditya Sanny dan Abie Prabowo, sejumlah petinggi sekaligus perwakilan dari Nobility Semarang yang menjadi host acara tersebut, sepakat untuk datang ke Jakarta dan ketemu untuk melakukan meeting. Tujuannya untuk memperkenalkan diri dan membicarakan lebih lanjut mengenai acara yang akan mereka selenggarakan dengan topik-topik seperti bagaimana potential participant dan sharing mengenai hubungan kerjasama yang bisa dilakukan dengan pihak kami.
Jujur, pandangan kami terhadap car scene Semarang bisa dibilang cukup minim dan membuat kita sangat penasaran tentang bagaimana budaya car scene di sana. Meskipun kami punya sejumlah kenalan car enthusiast yang berdomisili di Semarang, tapi kita tidak mengetahui secara general seperti apa karakter car enthusiast di kota yang dijuluki Venice Van Java tersebut. Untuk membuka mata kami, mereka kemudian memperlihatkan beberapa foto mobil milik crew mereka, and we’re feeling very excited about it! Meskipun begitu, kami belum berani berjanji untuk berangkat ke JAVFEST 2014, eventhough kita sudah membahas tentang term and conditions yang dijalankan oleh kedua belah pihak. However, 2 minggu sebelum hari H, kita akhirnya mengucap kata sepakat untuk berangkat ke Semarang. Mengenai metode keberangkatan, saat itu kami cukup optimis untuk membawa mobil masing-masing lewat jalan darat ke Semarang. Keputusan kembali berubah seminggu sebelum hari-H, terkait dengan kondisi jalan yang akan ditempuh dianggap tidak memungkinkan. Hal ini membuat kita cukup dipusingkan oleh pencarian tiket, either pesawat atau kereta api menuju Semarang.
Terkait dengan efisiensi waktu, maka kami memutuskan untuk mencari tiket pesawat terlebih dahulu. Unfortunately, karena berbagai alasan seperti musim kampanye dan musim liburan anak sekolah, membuat kami tidak berhasil mendapatkan tiket pesawat yang sesuai dengan keinginan. Karena itu, kita memilih opsi lainnya, yaitu mencari tiket kereta api. You know what, awalnya kita hanya berhasil mendapatkan tiket untuk berangkat saja, tapi saat last minute, akhirnya kita juga berhasil mendapatkan tiket untuk pulang kembali ke Ibu Kota Jakarta. Thank God!
Now fast forward to D-day!
Gue, Yahya, Adhi, Dito dan Ricky memutuskan untuk berangkat bareng dari kantor Goodrides yang terletak di daerah Gandaria, Jakarta Selatan.

Sedangkan Eka memutuskan untuk berangkat sendiri menggunakan taksi menuju stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Jodi? Dia membuat last minute decision untuk tidak ikut berangkat ke Semarang because of his DJ thingy! We hate you Jod!!!

Oh iya, gue lupa mention kalo tiket keberangkatan kita adalah pukul 07:00 WIB. Jadi setidaknya pukul 05.30 pagi, kita sudah standby di stasiun agar tidak ketinggalan kereta.

Dengan spare waktu yang banyak itu, kita pun memutuskan untuk mencari tempat sarapan yang proper and randomly we chose this place.

Disertai dengan barang-barang antik yang terpajang di dinding, kita mulai memesan menu sarapan yang diharapkan mampu membuat mood lebih enak untuk memulai perjalanan panjang ini.

Vaping game! Eka sepertinya sudah berhasil membuat Dito kecanduan! SMH!

Akhirnya setelah menyelesaikan sarapan sembari having a little chit-chat tentang akan seperti apa perjalanan kita kali ini, kita pun mendengar boarding announcement dari kereta yang akan kita tumpangi.

Rasa kantuk yang gue alami selama menunggu sekejap hilang, karena ini merupakan kali pertamanya gue menggunakan transportasi kereta api di Indonesia. Jadi gue masih nggak tau seperti apa rasanya, bagaimana pemandangannya, bagaimana service yang didapatkan dan lain-lain.


Kita pun mulai masuk ke dalam gerbong kereta. Kebetulan gue dan Yahya dapat tempat duduk di gerbong yang terpisah dari Adhi, Dito, Eka dan Ricky.


Pukul 07.22 WIB, kereta akhirnya mulai bergerak menjauhi dari stasiun Gambir. Sementara yang lain langsung memutuskan untuk tidur karena masih merasa ngantuk, gue malah kegirangan liat pemandangan selama perjalanan, mulai dari perumahan kumuh di pinggiran Jakarta hingga bertemu sawah-sawah di daerah Bekasi.

Sambil menikmati pemandangan, petugas pemeriksa tiket sudah mulai memasuki gerbong yang kita tumpangi. Jika mereka menemukan “penumpang gelap”, maka penumpang tersebut akan diturunkan di stasiun berikutnya.

Our ticket checked!

Gue mau cerita sedikit tentang Ricky, our very talented videographer. Sekitar sebulan sebelum keberangkatan, gue pernah ngerjain Ricky untuk duduk di mobil gue dan gue ajak jalan mundur sejauh 100 meter dengan kecepatan sekitar 40km/h. Suprisingly, kejailan gue ini justru membuat gue tau kalau Ricky itu kerap mengalami gejala mual yang berlebihan saat duduk dengan arah berlawanan dari gerak kendaraan yang dia tumpangi.

Mengetahui hal tersebut, di gerbong belakang, Adhi, Eka dan Dito kemudian memutar kursi yang diduduki oleh Eka dan Ricky menjadi berlawanan arah. Seperti yang sudah kita duga, Ricky nggak kuat menahan gejala mual berlebihan yang dialaminya! LOL!


Karena rasa mual yang sangat berlebihan itu, akhirnya Ricky memutuskan untuk berjalan ke gerbong depan sembari mencari udara segar.

Sebetulnya gue sendiri juga merasakan gejala ngantuk yang berlebih, tapi karena too excited, jadi gue sendiri juga nggak bisa tidur. Momen ini kemudian membuat Ricky memutuskan untuk menambah stock shot Yahya yang memang gampang sekali tertidur 😀


Randomly, di kereta ini, gue bertemu dengan teman SD gue yang udah lama banget nggak ketemu. Kejadian tersebut membuat gue merasa semakin excited terhadap perjalanan menuju Semarang ini.

It’s lunch time! Dan sepertinya hal ini menjadi hal yang sangat sulit bagi Yahya. No no, bukan masalah pilihan makanannya, tapi tentang berapa jumlah yang perlu dipesan. Keputusan Yahya membuat railway attendant ini merasa bingung. Mungkin dia mengira kalau kita ini bercanda. No, we’re serious! LOL!

About the trip itself, gue cukup terbawa suasana untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang melewati beberapa stasiun ini. Sayangnya pemandangan tersebut sulit diabadikan karena kaca kereta yang kita tumpangi dipenuhi oleh jamur yang sangat tebal.


Finally, pada pukul 13.36 WIB, kita akhirnya tiba dengan selamat di stasiun Tawang, Semarang. Then another funny thing happens!

Entah kenapa, jalan keluar gerbong gue dan Yahya dilengkapi dengan anak tangga untuk membantu para penumpang turun dengan mudah. Sedangkan di gerbong Adhi, Dito, Eka dan Ricky, tangga itu nggak ada. This means they have to jump.

Sebetulnya gue bingung juga kenapa mereka harus lompat, karena jarak ketinggiannya lumayan menyulitkan kita apalagi karena banyaknya bawaan (kecuali Adhi).

Seperti Dito dengan tas besar yang penuh berisikan merchandise Goodrides serta Eka dan Ricky dengan segala perangkat kameranya.


Eka sendiri mengalami cedera pada lutut karena salah landing. Poor you bro! But thats hillarious! :p


Keluar dari stasiun, kita langsung dijemput oleh Adit, Abie, dan Kiki. Setelah seluruh barang bawaan masuk ke dalam mobil, mereka pun segera mengajak kita untuk makan siang.







Saat keluar dari area parkir stasiun Tawang, gue lumayan kaget saat melihat taksi lokal kota Semarang yang menggunakan basis Peugeot 408. Something different that I’ve never seen before.

I also spotted this abandoned slammed Holden Commodore. Melihat keempat rodanya yang sudah berada dalam kondisi flat, sepertinya mobil ini sudah ditinggalkan dalam jangka waktu yang cukup lama oleh sang owner.

Selama perjalanan singkat menuju tempat makan siang, gue pun berusaha melakukan komparasi bentuk kota Semarang saat ini dengan kondisi delapan tahun lalu ketika gue pertama kali menginjak kota Semarang. Suasana kota kolonial khas Belanda yang kental, sepertinya membuat gue teringat akan humble-nya kota Semarang. Scenery seperti ini konon terbentuk karena dulunya kota Semarang merupakan kota persinggahan utama oleh kaum penjajah dari Belanda.

Setelah beberapa saat, kita pun akhirnya sampai di sebuah restoran untuk menyantap makan siang.


Quite nice place, huh?





Here’s our lunch!


Ternyata, sejumlah teman Ricky dari Nobility Semarang juga ikut menyambangi kita di sesi makan siang ini.


Setelah menyelesaikan makan siang, perjalanan pun dilanjutkan menuju hotel untuk beristirahat sejenak. But first, let me take a selfie!




Ada keunikan tersendiri yang kita dapatkan pada MG Suites Maven Hotel ini. Pertama-tama, gue bingung kenapa lobby hotelnya ada di gedung parkir lantai 6.

Kedua, setelah check-in, kita diarahkan untuk turun ke parkiran lantai 5 dan menemukan lobby baru lagi! This is weird but it’s okay, karena nyatanya kamar yang disediakan tergolong besar untuk tim Goodrides yang berjumlah enam orang.

Besides the weirdness, gue melihat ada mockup di lobby lantai 6 yang mendorong eager gue untuk mencoba memotret makro menggunakan fixed lens 35mm F1.4 gue. Hasilnya? Kayaknya nggak perlu gue kasih liat deh, LOL!

Fun time. Woo-hoo! LMAO!




Setelah sampai di kamar yang terletak di lantai 5, Adit, Abie dan Kiki pun meninggalkan kita dan bilang bahwa mereka akan datang untuk menjemput kembali pada malam hari. Meanwhile, gue harus menyelesaikan artikel SOUTH GATH supaya bisa publish besok pagi.



Kita punya spare time yang cukup banyak untuk beristirahat saat itu.

Sore yang singkat pun telah berganti menjadi malam. Di saat perut sudah mulai merasa lapar, kita pun kembali dijemput untuk mencari makan malam.

Sebelum menuju ke tempat makan, Abie minta agar dirinya diantar untuk mengambil Civic Estilo miliknya, karena malam itu kita sudah sepakat untuk melakukan photo shoot terhadap mobil milik Abie usai makan malam.



So we’re heading to Simpang Lima, dimana tersedia begitu banyak jenis makanan. Saat kita turun dari mobil, gue masih belum tau makanan seperti apa yang akan kita makan malam itu.






Ternyata kita diarahkan untuk makan “Nasi Pecel Mbok Sador” ini. Rasanya? Nggak usah ditanya lagi.




Ini enak banget! Kalau ada kesempatan lain untuk datang ke kota Semarang, gue wajib makan di sini lagi.

I also spotted this 86 with TRD aero kit, which turns out that the owner adalah kenalan dari anak-anak yang menjemput kita juga.

Sebelum berangkat menuju lokasi photo shoot, kita juga sempat menemukan beberapa Civic yang kami anggap menarik.


Interesting, right?

Setelah mengabadikan beberapa frame, kita pun berangkat menuju lokasi photo shoot yang terletak di sebuah marina yang letaknya tidak jauh dari sirkuit balap Tawang Mas.

Dalam perjalanan menuju lokasi, kita sempat melihat sebuah bengkel ban yang masih ramai diisi oleh mobil para customer meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Karena itu, kita menyempatkan diri untuk mampir ke bengkel tersebut karena penasaran tentang aktivitas mereka.





Ternyata mayoritas customer yang ada di bengkel itu adalah para partisipan yang melakukan persiapan untuk mengikuti JAVFEST 2014 di hari Minggu.


Termasuk Ricky yang sedang pusing dengan prosesi pemasangan ban terhadap velg Leon Hardiritt by Weds miliknya.





Setelah puas berinteraksi di bengkel, kita kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi photo shoot untuk mobil Abie.

Such a nice place with good lighting! Layaknya tim Goodrides saat melakukan coverage, Eka segera melakukan setting terhadap berbagai perlengkapan fotografinya yang mutakhir untuk melakukan photo shoot.



Sedangkan Adhi, yang bertugas menjadi writer untuk feature car kali ini, juga langsung mengajak Abie sebagai owner dari Civic Estilo ini untuk melakukan sesi interview.



Goodtimes fo sho!

Surprisingly, saat sesi photo shoot, sejumlah pria berseragam loreng menghampiri dan meminta kita untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Sontak gue pun terheran-heran kenapa kita diusir dari tempat ini. Meskipun begitu, beliau memberi penjelasan bahwa sebenarnya area ini adalah restricted area yang tidak boleh diakses oleh sembarang orang.

Dengan penuh kesedihan, kita pun terpaksa meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kamar hotel,

bersama seluruh teman-teman yang ikut dalam sesi photo shoot.

Tapi disamping kekecewaan tersebut, sesi di kamar hotel ini justru menjadi sesi goodtimes yang “sebenarnya”. Kesempatan ini kita gunakan untuk berbagai hal menyenangkan, mulai dari ngobrol ngalor-ngidul, telling jokes, hingga saling tukar cerita antara tim Goodrides dan car enthusiast asal Semarang mengenai perbedaan budaya yang terjadi di Jakarta dan Semarang terkait dengan car culture scene.

Even more, we went way too far that night. Apalagi setelah chit-chat yang kita lakukan mendapat enhancement dari berbotol-botol “congyang” yang memiliki kadar alkohol sekitar 19.5%.

Meskipun begitu, sesi ini harus diakui merupakan sebuah quality time yang berharga, paling tidak bagi tim Goodrides yang mendapat banyak masukan dan pengetahuan yang cukup luas mengenai car culture scene di kota Semarang.


If you want to know more about our experience in Semarang, please stay tune for our part 2 of the coverage!





One thought on “Part.1: The Beginning // JAVFEST 2014”