Gambaran sebagai seorang “fanatik Toyota” sepertinya cukup untuk merepresentasikan diri gue yang sedari kecil memang sudah jatuh cinta dengan berbagai mobil produksi Toyota, khususnya yang diproduksi pada era akhir 80-an sampai awal 90-an.
Kalau ditanya kenapa gue bisa tumbuh sebagai seorang fanatik Toyota, sejujurnya gue juga bingung. Tapi kalau gue runut ulang tentang perjalanan gue di masa lalu, fanatisme ini sepertinya muncul karena sejak kecil gue sudah “dipaksa” dekat dengan mobil-mobil produksi Toyota oleh lingkungan keluarga gue. Meskipun mobil yang dimiliki oleh orang tua gue saat gue lahir adalah sebuah Ford Cortina, tapi setahun setelah kelahiran gue, bokap gue segera memutuskan untuk membeli mobil dalam kondisi brand new untuk pertama kalinya, yaitu sebuah Toyota Starlet 1.0 XL (EP70) berwarna biru.
Tepat satu tahun setelahnya, bokap gue kembali membeli Toyota Starlet 1.0 XL (EP70) dalam kondisi brand new dengan warna merah. Dua mobil “kembar” inilah yang menghuni garasi gue hingga gue berusia tiga tahun. Mengingat dari kecil gue punya ketertarikan yang besar terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan mobil, maka sosok kedua mobil inipun melekat erat di dalam benak gue. Ditambah kakak gue yang umurnya 14 tahun lebih tua dari gue, secara nggak langsung kerap mendoktrin gue bahwa Toyota Starlet itu adalah mobil keren, yang secara otomatis membuat gue jadi mengidolakan sosok Starlet.
Menjelang usia gue yang keempat, bokap gue pun memutuskan untuk trade-in Starlet biru dengan sebuah Toyota Corolla 1.3 SE (EE90) yang juga dibeli dalam kondisi brand new, yang kini dikenal sebagai “KZ” dan menjadi mobil paling identik dengan diri gue sebagai seorang car enthusiast. Gimana nggak, mobil ini sudah berjasa mengantar gue sejak gue TK, SD, SMP, hingga akhirnya dihibahkan oleh orang tua gue untuk dijadikan sebagai alat transportasi pribadi ketika gue duduk di bangku SMA, hingga hari ini.

And this is the car I’m talking about 🙂
Seiring berjalannya waktu, interaksi secara intens yang terjadi di masa lalu gue dengan mobil-mobil inilah yang sepertinya telah menciptakan mindset di dalam diri gue bahwa mobil-mobil produksi Toyota adalah yang terbaik. Akibat fanatisme tersebut, gue pun kerap memandang produk kompetitor sebagai produk yang lebih buruk, terutama produk Honda, mengingat brand tersebut bisa dibilang sebagai rival abadi dari Toyota. Mungkin fanatisme gue ini bisa diilustrasikan sebagai penggila bola yang selalu menganggap klub bola favoritnya sebagai klub bola terbaik sepanjang masa, meskipun klub tersebut lebih sering mengalami kekalahan dibanding mencetak prestasi. Make sense, right?

Mindset inipun masih melekat erat di dalam benak gue saat Honda meluncurkan Civic Estilo di Indonesia pada tahun 1992. Jujur, saat kali pertama gue melihat desain Civic Estilo, ada sisi diri gue yang bilang bahwa mobil ini keren. Tapi benak dan hati gue selalu bilang bahwa hal itu nggak benar, terkait dengan fanatisme gue terhadap Toyota tersebut. Saat gue punya kesempatan untuk mengendarai Civic Estilo milik teman gue dalam keadaan standar, gue pun tetap menyangkal bahwa mobil ini mampu mengambil hati gue. Apalagi menurut gue, jok bawaan Civic Estilo terasa nggak nyaman untuk diduduki. Dengan pandangan itu, gue pun tetap memandang bahwa Toyota Starlet adalah produk yang lebih unggul daripada Civic Estilo, meskipun dari sisi teknologi, Estilo sudah mengaplikasi fitur yang lebih canggih seperti teknologi injeksi, meanwhile mesin 2E milik Starlet masih mempertahankan teknologi karburator.
Seiring berjalannya waktu, rasa antipati gue terhadap produk Honda inipun tumbuh semakin besar. Hal ini semakin membuat gue berpandangan bahwa produk Toyota adalah produk yang lebih baik di segala sektor dibanding produk buatan Honda. Sikap antipati gue terhadap produk Honda ini bahkan membuat gue menciptakan jokes di lingkungan main gue. Salah satunya adalah saat gue harus menyebutkan kata “Honda”, dimana gue segitu nggak maunya mengucapkan kata tersebut dan lebih memilih untuk menggantinya dengan sebutan “bongkahan besi berlambang ‘H’”. LOL!

Pandangan gue ini bahkan nggak bergeming setelah gue kenal dengan Yahya Adi Nugroho, seorang car enthusiast yang bisa dibilang sebagai die hard fans dari produk Honda, khususnya Civic. However, gue harus mengakui bahwa pria berperawakan overweight ini selalu to the max ketika menjalani proses personalisasi maupun upgrade terhadap Civic miliknya. Singkat kata, dia ini nggak pernah setengah-setengah kalau bangun mobil. Selalu pol! Begitu juga dengan taste personalisasinya. Yahya bisa dibilang hampir nggak pernah gagal bikin tampilan mobil jadi keren. (Walaupun dia pernah cerita, kalau taste personalisasi mobilnya di masa lalu cukup kelam. LOL!)
Meskipun begitu, Yahya kerap berusaha membuka mata gue, bahwa mobil produksi Honda itu punya keunggulan-keunggulan tertentu yang nggak bisa disetarakan dengan produk Toyota. Tapi ya itu tadi, karena gue antipati banget, jadi pandangan yang disampaikan Yahya selalu gue tepis. Kondisi ini akhirnya membuat kita berdua jadi lebih sering cela-celaan dengan topik komparasi produk Toyota dan Honda yang sepertinya nggak ada habisnya. Pokoknya kalau kita sudah ngomongin tentang dua brand itu, kita bisa debat panjang layaknya jaksa penuntut umum dan pengacara. Endless!

Tapi disamping itu semua, ada satu perbedaan mendasar tentang cara pandang gue dan Yahya. Iya, Yahya ini seorang die hard fans produk Honda, layaknya gue ke Toyota. Tapi Yahya nggak segitu antinya terhadap produk Toyota. Karena saat dia menemukan produk Toyota yang memang dirasa unggul, dia nggak segan-segan untuk menggunakan mobil itu sebagai alat transportasinya. Beda dengan gue, yang benar-benar merasa “dosa besar” kalau gue sampai harus menggunakan produk Honda sebagai kendaraan pribadi gue.

Kondisi inipun terus berlangsung. Hingga suatu hari, karena satu dan lain hal, gue diberikan kesempatan untuk membawa pulang D 51 EG (Civic Estilo milik Yahya – Red.) yang sudah mengalami upgrade di seluruh sektor serta personalisasi khas Yahya. Hal ini terjadi karena mobil ini kami pilih untuk mengisi kolom feature car di website Goodrides.

Kalau untuk urusan ini, tentunya gue harus bersikap profesional dengan berusaha jujur dalam menyampaikan pandangan gue terhadap Estilo milik Yahya. Lagian, terlepas dari rasa antipati gue, sebagai sebuah mobil, D 51 EG itu sudah lahir sebagai sosok mobil dengan karakter yang kuat dan memiliki tampilan yang pol banget. Seperti yang gue bilang sebelumnya, Yahya itu kalau bangun mobil hampir selalu pol, jadi mobilnya kerap menjadi hasil karya yang top notch.

Ok, berhubung D 51 EG lagi di tangan gue dan gue harus menggambarkan sensasi berkendara dan pandangan gue terhadap mobil ini di sebuah artikel, jadi gue pun berusaha maksimal dalam merasakan segala feedback serta sensasi yang diberikan oleh D 51 EG. Saat gue berkendara bersama mobil ini, hal yang segera menarik perhatian gue adalah mesin K20A dari Integra Type-R (DC5) yang dipilih Yahya untuk menggantikan mesin bawaan mobil. I have to admit, mesin K20A ini terasa sangat sensasional berkat output yang cukup besar dibandingkan dengan mesin NA (normally aspirated) sekelasnya. Not to mention putaran mesin yang bisa mencapai 9000 RPM dalam kondisi stock!
Next was the interior. Mengingat Yahya mengkonversi seluruh bagian interior D 51 EG dengan interior set “Gathers” milik Civic EG6, jadi driving position D 51 EG terasa sangat nyaman berkat desain jok yang terasa jauh lebih ergonomis daripada jok bawaan Estilo.
Hal ini juga berpengaruh terhadap appearance interior mobil itu sendiri berkat corak yang menurut gue terlihat keren dibanding corak fabric bawaan mobil. However, berbagai keunggulan tersebut belum segitu hebatnya untuk merubah mindset gue terhadap Honda.
Fast forward to the next day, setelah urusan coverage selesai, gue pun berniat mengembalikan D 51 EG. Tapi karena satu dan lain hal, Yahya justu bilang ke gue kalau gue nggak perlu buru-buru mengembalikan mobil ini. Dengan kata lain, Yahya nggak keberatan kalau mobil ini sementara menempati garasi rumah gue dan gue boleh menggunakannya untuk beraktivitas. Meskipun gue masih antipati, tapi gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dalam benak gue, gue cuma berpikir: “Mari kita coba produk Honda yang sudah di-upgrade secara proper oleh seorang die hard fans Honda. Kayak apa sih rasanya..?”

And so, there I go. Gue mulai pakai D 51 EG untuk menjalani aktivitas gue sehari-hari. Selama gue pakai, mobil inipun muncul sebagai sosok mobil yang bersahabat. Meskipun kopling J’s Racing Hyper Single yang terpasang di mobil terasa cukup berat saat harus bertemu kondisi lalu lintas stop and go dan absennya fitur power steering membuat putaran stir terasa berat, tapi segala kekurangan itu masih bisa gue tolerir. Kalau urusan kopling, gue mau mentolerir karena kopling ini diprioritaskan untuk bisa mentransfer output tenaga mesin K20A ke roda secara sempurna. Kalau putaran stir berat, gue sudah sangat terbiasa, karena mobil gue nggak ada yang pakai power steering. LOL!

Hal ini terus berlangsung, hingga suatu hari, gue membawa mobil ini untuk sebuah illegal race melawan mobil yang gue idolakan, Toyota Starlet! Untuk guilty pleasure kali ini, rival D 51 EG adalah sebuah Starlet yang sudah mengalami upgrade di sektor tenaga menggunakan mesin 5E berkapasitas 1500cc dengan turbocharger yang membuatnya mampu melesat super cepat. Meskipun situasi ini membuat gue merasa berkhianat karena justru berada di belakang kemudi produk Honda, tapi gue memutuskan untuk tetap melakukannya, just for pure fun.

Terlepas dari hasil illegal race tersebut, pengalaman gue dalam memacu D 51 EG secara full throttle dari first gear hingga sixth gear, or I can say, from full stop to max speed yang gue lakukan berulang kali saat illegal race tersebut, akhirnya memaksa benak gue untuk melunak sedikit dan mengakui bahwa gue cukup kagum (ok, sebenarnya gue sangat kagum, tapi gue gengsi) dengan overall performance dari D 51 EG ini. Terutama, lagi-lagi, berkat performa mesin K20A yang menghuni engine bay. From this point on, sepertinya gue mengalami masa dimana gue harus tunduk pada realita dan mau memberikan toleransi terhadap rasa antipati gue kepada kualitas produk kompetitor, atau secara spesifik, sosok D 51 EG. What makes it even worse is, setelah pengalaman sensasional di jalan bebas hambatan tersebut, D 51 EG masih duduk manis di garasi rumah gue dan kembali menemani gue menjalani aktivitas gue selama beberapa hari. Kondisi inipun membuat gue semakin intens memandangi appearance D 51 EG dari segala sisi.

Pengalaman gue bersama D 51 EG yang secara perlahan menjadi pengalaman menyenangkan inipun berlangsung selama dua minggu lebih. Semakin lama gue berinteraksi dengan D 51 EG, tak dapat dipungkiri, mobil ini pun mulai menyentuh hati gue dan melunturkan rasa antipati gue terhadap produk Honda, atau dalam hal ini, Honda Civic SR3 – D 51 EG milik Yahya. D 51 EG telah memaksa gue membuka mata bahwa brand kompetitor juga tetap memiliki keunggulannya sendiri. Kondisi inipun membuat gue tersadar bahwa gue nggak bisa terus-terusan memiliki pandangan yang sempit, hanya akibat fanatisme yang terlalu berlebihan terhadap satu brand.
Tapi, jangan dulu menganggap bahwa akhirnya fanatisme gue ini berubah secara drastis. Pergeseran pandangan di benak gue belum terjadi dalam ruang lingkup yang sebesar itu. Tapi untuk kasus D 51 EG, meskipun gue masih punya perasaan mengganjal untuk mengakuinya, tapi gue akhirnya memang benar-benar harus takluk oleh the whole package of that mighty D 51 EG, meskipun ini adalah breed yang lahir dari brand Honda.
Ok, let’s talk a bit more about the car. First of all, again, the engine. Sampai hari ini, gue masih ingat betul perasaan kagum yang selalu muncul setiap kali gue memacu Estilo bermesin K20A dari Integra Type-R (DC5) ini. How can I not. Dari sudut pandang gue, mesin ini mampu menghasilkan output yang bisa membuat gue merasakan euphoria setiap kali gue memacunya secara full throttle, all the way to 9000 rpm. Padahal, penyempurnaan yang dilakukan Yahya terhadap mesin D 51 EG ini “hanya” dilakukan melalui pengaplikasian ECU Hondata K-Pro yang membuat manajemen mesin bisa diatur sedemikian rupa hingga selalu menghasilkan performa yang maksimal.
Sisanya, Yahya relatif hanya mengganti exhaust manifold bawaan mesin dengan race header dari Hybrid Racing dan Spoon Sports Street Exhaust. Sedangkan untuk penyempurnaan daya ke roda, Yahya memilih untuk menggunakan kopling hyper single dari J’s Racing dan drive shaft berkarakter heavy duty dari DSS. That’s it! Secara garis besar, komponen internal mesin masih berada dalam kondisi stock. And the best thing is, mesin K20A ini merupakan mesin produksi massal dan bukan special engine yang hanya diproduksi untuk tujuan kompetisi semata!

Design wise, mengingat gue sedang memberikan toleransi terhadap keunggulan produk kompetitor, jadi sebagai pecinta mobil hatchback, gue juga harus mengakui bahwa desain Estilo itu keren. Konfigurasi two-doors dengan roof line yang rendah, membuat Estilo terlihat sangat dinamis.
Selain itu, desain muka Estilo dengan headlamp yang sipit juga menjadikan muka mobil ini terlihat agresif. Meskipun bagi gue, dalam keadaan standar,mobil ini tetap belum mampu membuat gue terpana. Ngertiin aja lah ya, gue itu fanatik banget sama Toyota Starlet, jadi gue agak nggak peduli kalau banyak yang nggak setuju. Tapi buat gue, Starlet itu masih lebih keren. Period.

Sialnya (bagi gue), segala personalisasi yang dilakukan Yahya terhadap D 51 EG, menurut gue sangat berhasil membuat sebuah Estilo menjadi mobil yang bisa membuat gue terpana. Dari pilihan warna yang unik, ditambah tampilan terakhir yang sudah menggunakan velg Weds Sport TC05 16×8 +29 dengan paduan ban Advan Neova AD08 berukuran 205/45 serta setup suspensi on point yang berhasil menjembatani form dan function secara sempurna, sepertinya menjadi resep paling jitu untuk mendongkrak penampilan Estilo. Not to mention all those EG6 stuffs dan lip spoiler dari Backyard Special yang makin membuat D 51 EG terlihat superbly kool.

Sayangnya, karena sejumlah faktor, di akhir tahun 2014 lalu, Yahya memutuskan untuk menyudahi perjalanannya bersama D 51 EG. Gue nggak mau cerita lebih jauh tentang hal itu, karena ini sudah berhubungan dengan keputusan sang owner yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi, terlepas dari keadaan bahwa mobil itu sudah “hilang”, namun bagi gue, D 51 EG adalah sebuah sosok mobil yang sudah berhasil merubah cara pandang gue secara drastis. Dalam hal ini, gue berbicara mengenai keberhasilan sesosok Honda Civic yang telah merubah cara pandang gue dalam menyikapi sebuah fanatisme. Entah apakah ini terasa berlebihan bagi kalian semua atau nggak, tapi sebagai seorang car enthusiast, menurut gue pengalaman seperti ini adalah pengalaman yang cukup berharga dan menarik untuk di-share.

However, sebagai end result, lagi-lagi gue mau menekankan bahwa perubahan pandangan yang terjadi dalam diri gue ini, masih berada dalam ruang lingkup yang tidak terlalu besar. Perubahan pandangan ini hanya terjadi dalam konteks bahwa gue tidak bisa terus bersikap denial dengan tidak mau mengakui keunggulan yang dimiliki oleh produk kompetitor. Tapi tidak sampai ruang lingkup dimana gue sudah berpikir untuk beralih menggunakan mobil hasil produksi brand kompetitor tersebut. Sebagai ilustrasi, jika suatu hari gue harus menghadapi keadaan dimana gue terpaksa mencari mobil pengganti, most definitely gue masih akan tetap memilih produk buatan Toyota, instead melirik mobil buatan Honda. It’s that simple.

By the way, ada kejadian menarik yang sepertinya harus gue ceritakan disini. Sebelum gue memutuskan untuk menulis artikel ini, gue pernah berbagi pandangan gue ini ke seorang sahabat yang kerap gue cemooh akibat keputusan yang diambilnya untuk beralih ke produk Honda, setelah sebelumnya menggunakan Toyota Starlet. Saat itu, dia sedikit memojokkan gue dengan menyampaikan pernyataan: “Tuh kan, gue bilang juga apa. Akhirnya loe mengakui juga kan, kalo produk Honda itu keren. Buktinya loe jadi suka banget sama Estilo!”

Gue pun hanya menjawab singkat. “Ya kalau bukan D 51 EG, gue belum tentu suka..”

So long buddy, thank you so much for the lesson given 🙂




4 thoughts on “Getting Close To Your Enemy – A Point Of View // Honda Civic SR3/EG6”
fvck my mindset! terimakasih mas adhi kz sudah merubah pandangan saya bahwa belum tentu brand mobil lain lebih jelek/kurang dari brand mobil yang kita miliki, thank you!
You’re most welcome mas.. Mungkin ucapan terima kasihnya lebih tepat disampaikan ke 51 EG mas, karena sebelumnya saya juga punya mindset yang sama.. LOL!
Anyways, thank you for visiting us ya, mas!
Gak pernah bosen baca artikel ini…. keren… btw pemenang waktu illegal race ama starlet turbo sapa ya?? heheheee
Thank you buat complimentnya, mas..
Kalau tentang illegal race, hasilnya tetap dirahasiakan mas. Demi kenyamanan bersama. Hahahahaha..
Again, thank you for visiting us ya mas. Appreciate it much!