Close X FEATURE MINISPROUTS

A Creativity Test // Rover Mini Mayfair

Gue tipikal orang yang jarang menghabiskan waktu senggang untuk menonton televisi. Kalaupun iya, instead nonton acara yang nggak jelas, gue lebih memilih untuk menonton acara-acara yang menurut gue bisa menambah pengetahuan. Nah, belum lama ini ada hal unik yang gue dapat dari sebuah acara kompetisi memasak yang jarang banget gue tonton.

Tapi kali ini bukan sekedar acara kompetisi memasak biasa, melainkan acara yang menampilkan chef  berusia belia yang belum beranjak remaja. Memang kebetulan motivasi gue melihat acara itu karena ada anaknya temen gue yang ikut sebagai peserta sih. Meskipun begitu, karena penasaran, gue yang awalnya cuma sekedar nonton aja, secara nggak sengaja justru jadi ngikutin acaranya.

Disitu gue melihat bagaimana pola pikir seorang anak yang dituntut untuk mampu mengeksplorasi sisi kreatifitasnya ketika diberi tantangan melalui pemilihan bahan dasar makanan yang dapat dijadikan berbagai macam jenis makanan yang akan dinilai oleh para senior chef  yang berlaku sebagai juri. Singkat kata, acara ini adalah sebuah ajang uji kreatifitas dari seorang junior chef.

Somehow, gue melihat perilaku ini sepertinya selaras dengan apa yang dilakukan oleh Edward Nelson Jusuf terhadap Rover Mini Mayfair berwarna kuning miliknya yang sedang kalian lihat. Mobil keluaran tahun 1992 ini telah melewati sebuah proses personalisasi yang belum pernah dilakukan oleh para penggemar classic Mini Cooper, khususnya di kalangan dalam negeri.

Karena langkah restorasi yang sudah dijalani terhadap tiga unit Mini Cooper miliknya dirasa kurang kreatif, pria yang akrab disapa Edu ini lalu merasa tertantang untuk menjalani proses engine swap terhadap salah satu unit Mini Cooper kesayangannya tersebut.

“Bagi kalangan tertentu, engine swap kerap dianggap sebagai sebuah hal yang tabu. Namun bagi saya, ini merupakan sebuah langkah uji kreatifitas yang menimbulkan sebuah tantangan tersendiri,” ungkap pria humble ini saat membuka sesi interview. Meskipun begitu, Edu memiliki concern yang besar terhadap sejumlah aspek yang tidak boleh terpengaruh oleh proses engine swap tersebut, seperti tidak boleh merubah bentuk atau dimensi dasar dan handling ala go-kart yang merupakan ciri khas dari classic Mini Cooper tersebut.

Now, let’s talk about the engine swap itself. Edu sendiri mengatakan bahwa kebanyakan pengguna classic Mini Cooper kerap memilih mesin B-series milik Honda untuk menggantikan posisi mesin asli di engine bay. From this point on, Edu justru berusaha untuk stepping up the game dengan memilih mesin yang tergolong langka untuk dimasukkan ke dalam engine bay milik classic Mini Cooper.

“Saat sedang melakukan research, secara tidak sengaja saya berkenalan dengan seorang rekan yang kebetulan memiliki sebuah Toyota Starlet GT Turbo (EP82 – Red.). Setelah brainstorming, akhirnya kita sepakat untuk mencoba menciptakan sebuah one of a kind Mini. Dari sini, kami membentuk MiniSprouts yang merupakan sebuah tuning house untuk kalangan pribadi pemilik classic Mini,” tukas Edu seraya menjelaskan alasan mengapa dirinya memilih mesin berkode 4E-FTE milik Toyota Starlet EP82 untuk dijejalkan ke dalam engine bay Mini Cooper miliknya.

Di titik inilah proses paling rumit terjadi. Luckily, Edu mau menceritakan proses tersebut secara detail.

“Proses ini dimulai dengan proses pelepasan mesin lama yang dilanjutkan dengan proses reinforce pada bagian subframe Mini. Langkah ini lalu diteruskan dengan proses pembuatan lower arm dan engine mounting baru. Kami juga memilah tiga tenaga ahli untuk proses pengerjaan tersebut. Satu orang untuk pengerjaan di bagian bodywork, satu orang untuk bagian subframe dan satu orang lagi untuk bagian mesin dan wiring. Sedangkan saya bersama dua rekan lainnya bertugas sebagai konseptor,” ungkap Edu.

“Masing-masing tenaga ahli kami berikan tantangan tersendiri. Contohnya, orang yang bertugas pada sektor body, harus bisa mengikuti keinginan saya yang menuntut agar tidak boleh ada perubahan dimensi atau bentuk apapun dalam proses pengerjaannya. Lalu untuk bagian subframe, saya juga menuntut agar mobil ini tetap memiliki bobot yang ringan, namun tetap kuat agar mampu menjaga handling Mini yang khas. Dalam prosesnya, saya telah merubah struktur subframe sebanyak tujuh kali demi mencapai kesempurnaan. Karena itu, saya sering menyebut subframe terakhir ini dengan nama subframe Mk7,” lanjutnya.

“Proses engine swap  sendiri tidak berjalan dengan mudah. Mesin harus berulang kali naik-turun dari engine bay. Ada beberapa custom parts yang ternyata tidak dapat dipergunakan dan harus diganti dengan yang baru. Beruntung, saya sangat terbantu oleh berbagai panduan dan referensi yang ada di dunia maya, sehingga saya berhasil menyelesaikan proses engine swap ini,” ungkap Edu mengenai proses engine swap yang dijalaninya selama kurun waktu tiga tahun tersebut.

Setelah proses implant mesin berkode 4E-FTE tersebut berhasil, perhatian terhadap segi estetika dari mobil yang dilabur warna lemon twist yellow dengan gold xyralic ini pun tidak luput begitu saja. Untuk sektor interior, mobil yang awalnya berwarna merah ini tetap mengusung tema classic.

Hal ini dapat terlihat lewat penggunaan original classic Mini Cooper leather seat yang dipadu dengan Montecarlo Red seatbelt,

serta berbagai accessories yang sangat  kental akan nuansa classic Mini.

Sebagai pembuktian kapabilitas mobil yang baik, segera setelah project ini selesai, Edu tidak tanggung-tanggung mengajak mobil miliknya tersebut untuk touring bersama rekan-rekannya dari Jakarta Morris Club (JMC) menuju Candi Borobudur yang terletak di kota Jogjakarta.

 

Meskipun begitu, Edu mengaku bahwa Mini Cooper miliknya masih mengalami sejumlah kendala minor, seperti sudut camber roda depan yang kerap berubah-ubah, yang membuat dirinya terpaksa membeli sepasang ban baru untuk perjalanan pulang.

Setelah melakukan sejumlah langkah penyempurnaan, Edu yang belum lama ini melepas jabatannya sebagai ketua JMC tersebut mengatakan bahwa Mini Cooper miliknya kini sudah berada dalam kondisi yang sempurna. Dengan handling yang cukup baik dan power-to-weight ratio yang mumpuni, membuat mobil kecil ini kerap sulit dikejar saat melaju di jalan bebas hambatan.

As I mentioned earlier, Edu berhasil menunjukkan sebuah bentuk kreatifitas yang membuat Mini Cooper miliknya sangat menonjol dibanding mobil sejenis lainnya.

Sir, you really did a great job!

 

Comments

Loading Facebook Comments ...
Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...