Gue mulai cerita dari mana ya.
Ok. Jadi begini. Awal mulanya, Amandio randomly menghubungi gue via LINE untuk apakah gue bersedia menjadi juri dalam kompetisi RC (remote control – red) drift.
Sebelumnya, gue sendirii sudah pernah dipercaya untuk menjadi juri dalam kompetisi mobil berskala 1:10 ini. Gue masih ingat betul, kompetisi tersebut digelar bersamaan dengan sebuah festival otomotif berskala besar yang diselenggarakan di daerah Senayan. Meskipun begitu, ada perbedaan besar antara event tersebut dengan event yang digagas oleh Amandio kali ini, dimana event kali ini merupakan event bertaraf internasional. As you can see on the e-flyer that I posted on Instagram. As said on the flyer that this event is an international class event in 2016 which came up as a kick-off.
Seperti pada R/C drift event pada umumnya, orang yang ditunjuk menjadi juri akan berjumlah tiga orang. Sementara itu, Dio mendaulat gue dan one of my brother in Drift Inc. family, Lucky Reza untuk menjadi juri pada kesempatan kali ini. Lantas hal tersebut menelurkan pertanyaan besar bagi gue tentang siapa sosok juri ketiga yang akan mendampingi kita.

Well, it’s Evan Pratama! Known as Mr. Cuan or whatever you name it!

I accidentally brought the same car with Evan. LOL.

After filling up our tummy, we managed ourself to the venue yang terletak di Level 2.

Imma bit surprised with the banner. Ternyata Dio memilih foto dimana gue, Lucky dan Evan sedang berpose bersama di event DriftWar 2014.

Kurang lebih seperti inilah suasana track di event kali ini. Sembari jalan memasuki venue, gue memperhatikan line yang dimainkan oleh para R/C drifter ini. Then i realized that we got a very long rear clipping zone.

Which is nice. Meskipun in real life kayaknya rada susah dilakukan ya. I mean, dengan mobil skala 1:1.

And that’s our judging table, right across of me.

Setelah kurang lebih 15 menit berada di dalam ruangan, akhirnya gue menyadari kenapa Dio dan beberapa R/C drifter lainnya menggunakan masker. Berhubung gue lumayan sensitif dengan debu-debu halus seperti ini, hasilnya tubuh gue mulai bereaksi dengan nafas yang agak sesak serta hidung yang agak ngaco dan mulai pilek.

Mac Arthur as MC on that day.

Di dalam track, para peserta terlihat lebih intense melakukan latihan.

I mean, benar-benar serius.

Berhubung waktu practice lumayan terbatas dan tidak lagi dibuka saat sesi qualification, jadi para R/C drifter ini sebisa mungkin melakukan practice sebanyak-banyaknya. Basicnya memang sudah jago semua, hanya butuh adjusting dengan track layout-nya saja.

Oh iya, perlu gue jelaskan juga bahwa event seperti ini nggak mengenal umur. Kalian bisa lihat sendiri melalui foto, beragam R/C drifter dari anak-anak sampai bapak-bapak berbaur menjadi satu. Awesome spirit!

Mengenai spesifikasi mobil, hanya ada dua jenis yang terlihat ada di sini. All Wheel Drive (AWD) dan Rear Wheel Drive (RWD). Namun surprisingly, keduanya sama-sama bisa dipacu untuk melintasi line yang sama. Hanya saja menurut gue, tipe RWD punya perilaku yang lebih identik dengan drift yang ada di skala 1:1.


Di pit area yang berada di sisi track juga tidak kalah seru. Layaknya drift car 1:1, semua sangat diperhitungkan mulai dari weight distribution hingga urusan detail seperti wheel alignment.


Belum lagi dengan sistem yang canggih seperti pengaturan melalui remote control untuk pembatasan throttle, power distribution, hingga hal-hal lain yang berhubungan dengan elektronik. Jadi intinya, remote ini sudah berperan layaknya wireless dongle yang dapat mengatur apapun.

So yea, this is more than just an ordinary toy.

Now let’s take a look at the details of the cars.

Such as this engine bay.

They also had a little driver on it.

Ada juga R/C yang dilengkapi dengan speaker, sehingga bisa menghasilkan suara layaknya mobil sungguhan.

Sebetulnya ada lagi yang next level dengan menggunakan semacam smoke launcher. Jadi drifting yang dilakukan oleh R/C drift car semakin terlihat nyata berkat debit asap yang layaknya tercipta dari ban.

Lalu gue melanjutkan perjalanan ke pit-pit lainnya.

Charging game went too strong right here.


Berhubung tempatnya sangat berdebu, pihak penyelenggara juga menyediakan kompresor yang bisa digunakan oleh semua peserta untuk membersihkan R/C car, dari bagian body hingga bolts yang tertutup debu dari dalam lintasan.

Its very helpful tho!

Karena untuk mobil-mobil berukuran kecil seperti ini, debu bisa mengakibatkan kerusakan pada bagian2 krusial seperti bearing roda hingga bagian fatal seperti gear yang menyalurkan tenaga ke setiap roda dari dinamo.

Ya memang agak fragile, namanya juga barang elektronik.

Demi mengurangi jumlah debu yang menempel pada mobil-mobil milik peserta, Dio-pun kerap kali membersihkan track untuk mengurangi jumlah debu yang ada di dalam track.

Back to the track, para peserta justru makin gila saat sesi practice run.

Berhubung gue menggunakan lensa 35mm, jadi lumayan susah untuk mengakomodir manuver-manuver mobil kecil ini. Mau nggak mau gue harus lebih dekat dengan objek.




Nggak lama kemudian, briefing pun dimulai dengan melakukan absen ulang para peserta.

Pada saat absen ulang, list nama ini sekaligus memilah kategori para peserta yang terbagi menjadi Pro CS dan RWD.


Selain itu, ketiga judges pun ikut dipersilakan memberikan parameter mengenai penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta.


Sayangnya gue nggak bisa motret satu persatu di setiap battle karena sedang bertugas menjadi juri. So, straight to the final. These two guys was definitely nuts!

Mengenai acara secara keseluruhan, jujur gue lumayan suka dengan culture antar para peserta yang menurut gue sangat fair. Walaupun memang ada protes yang dilayangkan ke meja juri, tapi dengan penjelasan terperinci yang diberikan oleh pihak juri, para peserta dapat menerima keputusan dengan baik. Well, overall, i love this kind of what you called sports or whatever.

Anyways, ternyata selain drift battle, ada pula kompetisi car show yang digelar. Contohnya seperti ER34 yang menggunakan mini stage seperti ini.


Ada juga 86 Rocket Bunny di tenda sebuah paddock, lengkap dengan objek pelengkap lainnya.


Atau FD3S dengan detail yang sangat lengkap seperti kamera GoPro yang tertancap di pilar B. Tapi sayangnya mobil ini tidak berada di atas stage, melainkan hanya tergeletak begitu saja. Sedangkan Dio bilang ke gue kalau car show ya bukan mobilnya doang, tapi lebih ke stage appearance. We’ll see on their next event, bisa jadi lebih banyak yang ikutan di sini.

Tidak lama kemudian, gue pun dikagetkan dengan kedatangan Nanda ke lokasi pertandingan ini.

Dia datang dengan Dhan-dhan yang ternyata dulunya juga pemain R/C drift. Dia bawa complete set mulai dari charger, battery, remote, hingga R/C ber-layout RWD dengan bodi Mazda RX7 FC3S. Kedatangan dia kali ini hanya sekedar remeniscing, bukan untuk bertanding. Kebetulan Dio juga memperbolehkan dirinya untuk main ke dalam track berhubung perlombaan sudah selesai.

Anyways, here’s some photos of the winners.

And this is Opan’s little drift machine. Cara bermain Opan sangat tenang dan juga tactical, nggak salah kalau dia bisa berada di posisi pertama untuk pertandingan hari ini. Mungkin karena jam terbang yang sangat tinggi berkat pengalaman bertanding di dalam maupun luar negeri, jadi Opan mampu mempunyai karakter yang sangat baik dalam mengemudikan mobil berskala 1:10 ini.


JZX100 in 1:10

Kayaknya gue jadi tertarik untuk kembali main R/C drift. Kalau diingat-ingat, terakhir gue main cuma sampai di Tamiya TT01 dan tentunya masih mengusung teknologi yang tertinggal sangat jauh bila dibandingan dengan semua yang ada di hari ini.

Gimana kalo gue bangun satu lagi? I think the RWD seems right to me.

Yuk, yang lain main juga!
some photos are credit to our goodfriends from #MaximumDogs, Rizal Yogaswara.
Race Results:
Pro
1st Opan
2nd Edo
3rd Gatot
RWD
1st Probo
2nd Sonny
3rd Fadri
BONUS IMAGES




































Comments