Pertemuan pertama gue sama Doddy Herlianto terjadi di sebuah gathering komunitas Corolla AE92 yang digelar di sebuah tempat di kawasan Senayan, Jakarta Selatan sekitar lima tahun yang lalu. Jujur, tampilan mobil milik pria metroseksual yang akrab disapa Doddy ini, saat itu cukup menyita perhatian gue.
Overall look yang sangat clean dengan velg Zauber dengan spesifikasi 18×8/9 inci, tak ayal sudah menjadi magnet yang kuat bagi mata gue. Salah satu alasannya adalah, saat itu trend pengaplikasian velg dengan spesifikasi agresif belum hype kayak sekarang, jadi spesifikasi velg segitu sudah termasuk extraordinary buat gue.
Layaknya tujuan sebuah gathering, gue pun pengen kenal lebih dekat dengan pemilik Corolla AE92 atau yang lebih dikenal dengan nama Corolla Twincam berwarna biru ini. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya gue pun diperkenalkan ke Doddy oleh salah satu teman gue yang sudah lebih dulu kenal sama dia. Lalu, apa impresi gue terhadap Doddy?
Angkuh dan sombong banget! Ekspresinya yang datar dan cara ngomongnya yang seakan-akan dijaga banget, buat gue cukup antipati terhadap Doddy saat itu.
Tapi di sisi lain, gue yang saat itu baru mencoba mengaplikasikan velg dengan spesifikasi agresif di mobil gue, merasa bahwa Doddy bisa dijadikan sebagai teman konsultasi yang sempurna. Nggak lain dan nggak bukan karena dia sudah lebih dulu mencoba mengaplikasikan velg dengan spesifikasi yang agresif. Jadi, atas nama keingintahuan, gue pun terus mengajak pria yang awalnya gue anggap angkuh dan sombong ini untuk ngobrol dan berkonsultasi tentang segala hal yang berhubungan dengan stance and fitment.
“Fender belakang gue wide sob, soalnya kalo nggak di-wide, velg jadi keluar banget,” jawab Doddy jujur saat gue tanya gimana caranya mengaplikasikan velg lebar 9 inci di roda belakang tanpa keluar dari fender. Nah, dari sini, gue pun mulai berdebat sama Doddy mengenai apakah benar-benar nggak ada cara lain selain widebody biar bisa “masukin” velg dengan lebar 9 inci atau lebih.
Doddy pun mengakui, kalau pilihan itu dia ambil karena saran bengkel bodywork kepercayaannya. Gue pikir, ya wajar aja sih kalo masukannya adalah widebody, karena langkah research and development di sektor suspensi mobil customer kan memang bukan prioritas bidangnya.
Rupanya, ajakan gue untuk brainstorming tentang aplikasi velg berspesifikasi agresif di ruang fender Corolla AE92 (meskipun mobil gue itu EE90 sih, bukan AE92, tapi secara garis besar mobil gue dan Doddy itu berbagi platform body yang sama persis) itu memancing ketertarikan Doddy untuk melakukan research and development di sektor suspensi Corolla miliknya.
Singkat cerita, gue dan Doddy mulai melakukan “perjalanan” dalam mengaplikasikan velg berspesifikasi agresif. Tapi gue harus mengakui, kalo Doddy kerap lebih “gila” daripada gue dalam langkah-langkah percobaannya. Here’s the reason why, suatu waktu, setelah browsing di dunia maya, Doddy tiba-tiba terlintas untuk mengaplikasikani velg OZ Futura dengan spesifikasi yang agak kurang masuk akal.
Bayangin aja, velg yang waktu itu mau ditebus Doddy dari Negara tetangga itu merupakan velg eks Porsche yang punya spesifikasi 17×9 et 15 untuk roda depan dan 17×10 et -15 untuk roda belakang. Waktu itu Doddy juga nanya ke gue, “muat nggak ya?” Gue jawab aja, “muat.” Padahal gue sama sekali nggak tau apa jadinya kalo Corolla Doddy dipasangin velg itu. LOL!
Long story short, velgnya pun datang. Saat dipasang, velg pun keluar jauh dari fender, bahkan dengan spesifikasi fender belakang mobil Doddy yang sudah melar. Sejak saat itu, pertemuan gue dengan Doddy pun berlangsung cukup intens untuk brainstorming mengenai langkah yang bisa dilakukan agar velg itu bisa terpasang secara “manusiawi” di ruang fender Corolla miliknya.
Fast forward, gue dan Doddy pun berhasil menjadikannya “manusiawi” setelah melakukan berbagai proses trial and error dan Doddy juga mendapatkan reward secara nggak langsung dengan dikontak oleh salah satu media cetak untuk di-ekspose pada saat itu.
Ever since, Doddy pun terus melakukan eksplorasi di bidang stance and fitment. Ketertarikan gue yang besar terhadap dunia itupun membuat gue kerap melakukan pertemuan sama Doddy, either untuk brainstorming atau sekedar ngobrol ngalor ngidul.
Doddy pun sempat melakukan ubahan pada OZ Futura itu dengan mengganti barrel dan outer lips agar menghasilkan spesifikasi yang dianggap lebih tepat untuk mobilnya, sebelum akhirnya kembali menggantinya dengan velg TRD T3 berspesifikasi 17×8.5/9.5 inci yang peredarannya cukup langka.
Lalu, apakah Doddy puas sampai disini? Nggak sama sekali. Setelah sekian lama, Doddy justru merasa cukup lelah mengendarai mobil dengan suspensi yang rigid dan bunyi rubbing yang rutin muncul di perjalanan. Pertanyaannya adalah, kalau Doddy udah “capek”, terus mobilnya mau diapain dong?
“Gue mau engine swap,” jawab Doddy tegas saat pertanyaan itu gue sampaikan. Jujur aja, jawaban Doddy ini membuat gue tercengang untuk kedua kalinya.
Rasa kaget itupun bertambah besar ketika Doddy menyampaikan platform mesin apa yang dijadikan pilihan untuk menggantikan mesin berkode 4A-F yang menjadi bawaan mobilnya.
Yes, in the name of research and development, Doddy pun berencana untuk melakukan eksperimen bersama tuner kepercayaannya. Doddy berniat untuk mengaplikasikan mesin normally aspirated berkode 7A-FE dengan kapasitas 1800 cc yang merupakan mesin bawaan New Corolla (AE112).
Nggak berhenti sampai disitu, Doddy punya niat yang agak diluar batas, yaitu mengaplikasikan turbocharger di mesin yang akan digunakannya tersebut. “Gue udah konsultasi sekaligus brainstorming sama tuner kepercayaan gue dan dia bilang kalau niat gue itu bisa diterapkan. Gue pun minta dia untuk mengkalkulasikan biayanya. Untungnya, biaya yang dia ajukan masih bisa gue handle,” kenang Doddy. And so, the project begins.
Butuh waktu yang cukup lama bagi Doddy untuk menunggu proses pengaplikasian mesin idamannya ini hingga bisa bekerja secara sempurna. Tapi penantian Doddy ini nggak sia-sia.
Kini, performa mesin di mobil Doddy pun mempunyai output yang luar biasa jika dibandingkan dengan mesin bawaan mobilnya yang masih mengaplikasikan perangkat karburator. Doddy pun jelas menikmati setiap kilometer perjalanan bersama mobilnya setelah prosesi engine swap ini selesai.
Pertanyaan lain pun muncul di benak gue. Setelah ini, apakah Dodddy berhenti memikirkan personalisasi pada sektor tampilan mobilnya? Not even close! First of all, biar suspensi bisa bekerja sebagaimana mestinya dan Doddy nggak perlu lagi denger suara gesekan ban dengan fender, Doddy menjatuhkan pilihannya kepada velg Enkei Sport – Tarmac dengan spesifikasi 16×8 inci yang dibelinya dalam kondisi brand new, langsung dari Jepang.
“Proses shipping velg butuh waktu kira-kira dua bulan. Karena untuk meminimalisir biaya, gue pilih jalur laut. Untuk urusan pemesanan, gue dibantu salah satu teman baik gue yang punya showroom velg,” ungkapnya.
Velg pesanan Doddy itupun langsung terpasang manis di keempat fender mobilnya. Meskipun gue harus jujur, kalo bagian belakang kelihatan sedikit “kedodoran” karena dimensi fender bawaan mobil yang sudah melar. Nggak papa sih, kalo nggak kecebur kan nggak belajar ya Dod. LOL!
Selain sektor roda, Doddy pun bisa dibilang all out dalam melakukan personalisasi terhadap mobilnya, baik di sektor eksterior maupun interior. Seperti pengaplikasian segala bentuk OEM parts milik mobil dengan platform sejenis yang punya tampilan berbeda dengan Corolla AE92 yang beredar disini.
Untuk sektor interior, Doddy juga mengaplikasikan berbagai piranti OEM punya Corolla AE92 yang beredar di berbagai Negara. Saat baca spec list pun, gue memutuskan untuk nggak menjabarkannya satu-persatu disini. Panjang banget! Tapi salah satu yang paling menarik perhatian gue adalah speedometer cluster yang sudah dilengkapi dengan sistem digital. Wicked!
Sektor lain yang juga mendapat perhatian maksimal dari Doddy adalah in car entertainment. Karena sektor eksterior dan interior nggak gue jabarkan, jadi untuk sektor ini, gue pun memutuskan untuk nggak menjabarkannya juga.
Sorry ya Dod, soalnya kalau semua ditulis, bisa-bisa laptop gue hang gara-gara kebanyakan tulisan.
The thing is, di tulisan ini, dengan sepenuh hati gue ingin menyatakan tentang kekaguman gue terhadap komitmen Doddy dalam melakukan personalisasi terhadap mobilnya yang sepertinya nggak pernah tanggung-tanggung.
Saat gue tanya dengan pertanyaan singkat, kenapa dia begitu sayangnya dengan Corolla ini, jawaban yang dilontarkan Doddy pun nggak kalah singkat. “Ini warisan, dan almarhum bokap beli dari baru.”
Oh sh*t. I’m out of words, brother..




One thought on “Showin’ Love To My Old Man // Toyota Corolla AE92”
Great car, more on the engine, please!