After a series of coverage from our last trip to JAVFEST 2014, here’s the last car that we cover at the event. A Honda Civic FD1, owned by Ricky Rahardjo. Mengingat Civic milik pria yang akrab disapa Ahong ini merupakan mobil terakhir yang kami liput di event JAVFEST tersebut, maka kami pun memutuskan untuk melakukan photoshoot selagi event berlangsung.

However, ada sedikit kekurangan dari proses coverage yang kami lakukan kali ini, dimana gue nggak sempat melakukan interview secara live dengan Ahong karena kesibukan yang terjadi selama event berlangsung, baik Ahong sebagai penyelenggara acara, maupun gue dan tim yang berperan sebagai media partner. Akibatnya, gue terpaksa melakukan interview melalui instant messaging setelah gue dan tim Goodrides tiba di Jakarta. Meskipun begitu, pria humoris ini bersedia berbagi cerita yang cukup mendalam tentang segala hal yang berkaitan dengan Civic FD1 produksi tahun 2006 miliknya. Karena itu, pada artikel kali ini, gue akan membiarkan sang pemilik bercerita sendiri mengenai mobilnya yang gue ambil dari percakapan via instant messaging tersebut.
Kenapa pilih konsep stanced car untuk personalisasi di Civic FD1 ini dan darimana referensinya?
Mengenai konsep personalisasi, saya sudah sempat beberapa kali melakukan eksplorasi sebelum akhirnya memutuskan untuk mengaplikasi konsep tampilan stanced car. Meskipun begitu, untuk konsep tampilan mobil saya ini, saya masih berusaha mengedepankan fungsionalitas dari mobil itu sendiri, mengingat mobil ini masih saya pakai sebagai alat transportasi sehari-hari.
Kalau referensi, saya paling sering explore di social media seperti account Instagram milik para stanced car enthusiast mancanegara. Dari situ saya mulai mempelajari tentang berbagai jenis dan spesifikasi velg yang sepertinya bisa saya aplikasikan di mobil saya.
Kenapa saya pilih konsep tampilan ini, karena saya merasa tertantang untuk menciptakan tampilan tight fitment menggunakan velg berspesifikasi agresif tanpa mengorbankan sisi fungsionalitas sebuah mobil. Proses penggabungan ketiga faktor itu yang menurut saya sangat menarik untuk dinikmati. Lagipula, dari situ saya jadi bisa belajar banyak hal, seperti pemilihan spesifikasi lebar dan offset velg yang applicable, setting sudut camber, aplikasi profil ban yang tepat, hingga menentukan setup suspensi mobil demi menciptakan fitment yang sesuai keinginan sekaligus pemangkasan ground clearance yang ideal. Saya harus akui, berbagai proses itu justru membuat saya ketagihan. Ha…ha…ha…

Proses apa yang paling berkesan dalam langkah personalisasi yang dilakukan?
Proses yang paling berkesan sih buat saya adalah waktu saya hunting velg, dimana akhirnya saya memutuskan untuk membeli velg Leon Hardiritt Orden dengan spesifikasi 18×9.5/11 lewat sebuah auction site di Jepang. Hal ini membuat saya harus menunggu cukup lama, sekitar satu bulan lebih, sampai akhirnya velg itu sampai ke Semarang. Udah gitu, saat sampai di Semarang, saya menemukan bahwa kondisi cat velg tersebut bisa dibilang cukup buruk. Kayaknya pemilik sebelumnya di Jepang cuma modal spray paint deh waktu melabur velg ini. Ha…ha…ha…
Alhasil, saya memutuskan untuk melakukan refurbish. Karena konfigurasi velgnya 3-piece split, jadi velg terlebih dulu di pisah menjadi tiga bagian. Setelah itu, seluruh bagian dikerok dan dicat ulang, sementara bagian center face menjalani proses polishing.

Proses pemilihan ban sendiri juga terasa berkesan, karena saya sempat berulang kali melakukan bongkar pasang ban demi menciptakan tampilan stretch yang diinginkan, terutama untuk velg di roda belakang akibat spesifikasi lebar yang agresif. Awalnya, saya mencoba profil 205/40 di lebar 11 inci yang berakhir gagal. Kemudian saya kembali mencoba ukuran 215/35 yang kemudian berhasil terpasang. Tapi, masalah baru kemudian muncul, ada jarak yang cukup jauh antara dinding ban dan bibir velg. Kalau kita bilang ada “parit” nya. He…he…he… Nah, karena “parit” ini, roda bagian belakang jadi terlihat kurus. Tapi di sisi lain, saya nggak bisa pasang profil ban yang lebih lebar lagi, mengingat dimensi fender yang tidak mencukupi. Setelah cari-cari akal, akhirnya saya kembali memasang ban dengan ukuran yang sama, namun diusahakan “parit” antara dinding ban dan bibir velg itu ada di bagian belakang, sehingga tidak terlihat kurus dari sisi luar. Akumulasi proses ini sendiri berlangsung selama tiga minggu.

Kalau mengenai pilihan mobilnya sendiri, kenapa pilih Civic FD? Ada latar belakang tertentu nggak?
Sebenernya sih dulu saya mintanya Civic ES (S5A – Red.), nggak terpikir sama sekali untuk mengeksplorasi Civic FD. Tapi setelah orang tua melakukan perbandingan dari segi fitur serta desain eksterior dan interior, orang tua saya memutuskan untuk membelikan Civic FD untuk saya gunakan sebagai alat transportasi pribadi.

Apa saja pengalaman unik dan menarik yang pernah dialami bersama mobil ini?
Dari pertama kali beli mobil ini, saya langsung hunting velg. Singkat cerita, saya menemukan Work Meister S2R dengan spesifikasi 18×8.5/9.5. Karena dulu belum mengerti tentang offset, jadi saya langsung tebus velg itu. Ternyata saat dipasang, velg mentok ke shock absorber. Setelah diteliti, ternyata velg itu punya offset +58 dan +62, yang ternyata merupakan spesifikasi untuk Honda S2000. Berhubung sudah terlanjur beli, akhirnya saya mengambil cara instant agar velg bisa terpasang dengan mengganti baut roda dengan ukuran panjang dan mengaplikasikan 2 buah wheel spacer berukuran 8mm di setiap roda.

Nggak lama setelah itu, mulai timbul bunyi yang aneh di sektor roda. Setelah diperiksa, ternyata hampir semua wheel spacer yang terpasang pecah dan mengakibatkan ulir pada baut roda menjadi rusak. Alhasil velg yang terpasang di belakang tidak bisa terlepas hingga membutuhkan effort yang besar untuk memperbaikinya. Karena itu, akhirnya velg Work Meister S2R itupun saya jual. Dari sini, saya pun mulai belajar mengenai konsep offset velg.

Cerita unik lainnya saya alami saat berniat menghadiri event Honda Civic Meet Day yang diselenggarakan di Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang pada tahun 2012. Saat itu, saya benar-benar penasaran, seperti apa sih konsep meet up itu.
Rencana awal, saya akan berangkat bareng lima orang teman saya. Mobil sendiri akan dibawa menggunakan anhang yang ditarik oleh Toyota Hardtop (Land Cruiser – Red.), tapi rencana meleset karena ternyata Toyota Hardtopnya rusak. Belum menyerah, kita coba menggantinya dengan Toyota Innova, namun sayangnya posisi towing hook yang berbeda jauh membuat anhang tidak berada dalam posisi yang benar. Karena berbagai masalah ini, akhirnya tiga orang teman saya “mundur” pelan-pelan. He…he…he…

Saat itu, posisi mobil lagi pakai velg Enkei RPF1 spec 19×8.5/10 dengan sudut camber roda belakang -6 dan oil pan hanya berjarak sekitar empat jari dari permukaan jalan. Tapi karena tekad sudah bulat, saya pun memutuskan untuk tetap berangkat melalui jalan darat!
Perjalanan Semarang-Jakarta saya tempuh dalam waktu 18 jam. Sepanjang jalan, saya rehat sebanyak tiga kali karena pinggang rasanya seperti mau patah. Ha…ha…ha… Saat sampai di Cikampek, baut pegangan bumper depan pun copot semua. Mau nggak mau, saya perbaiki sendiri di rest area Cikampek sampai jadi tontonan banyak orang.

Sesampainya di lokasi, saya merasa sangat excited karena bisa bertemu banyak Civic enthusiast lainnya. Selain itu, saya juga disambangi oleh reporter salah satu media otomotif yang menanyakan apakah benar saya datang dari Semarang dengan membawa mobil ini lewat jalan darat. Saat saya ceritakan, mereka menanggapi seraya tidak percaya. Sebagai penutupan, saya di ajak foto bareng dengan komunitas FD Squad.
Perjalanan pulang sendiri tidak kalah berkesan. Karena berangkat siang, saya dan teman saya berencana untuk berhenti di rest area Cikampek untuk cari makan. Tapi nasib berkata lain, karena kurang konsentrasi saat bercanda dengan teman saya, mobil saya menginjak lubang yang sangat besar yang kemudian menimbulkan bunyi aneh di sektor roda. Setelah diperiksa, velg dan ban masih berada dalam kondisi normal, tapi unfortunately, ternyata camber kit yang saya pakai rusak parah yang membuat sudut camber roda berubah total. Selain itu, shock absorber juga mengalami kebocoran akibat terhantam bibir velg bagian dalam.

Saat saya bongkar sendiri di rest area, ternyata ulir camber kit yang saya pakai rusak. Yang saya nggak nyangka, saat saya lagi bongkar-bongkar, ada seseorang yang menghampiri saya dan bertanya apa yang saya lakukan. Out of nowhere, ternyata orang itu adalah seorang tukang las di sebuah bengkel yang ada di rest area! Sebenarnya sampai sekarang saya masih cukup heran sih, kenapa ada bengkel las di rest area. Tapi justru karena itu, saya jadi selamat. Setelah diukur-ukur, akhirnya camber kit tersebut saya perbaiki sementara dengan di las di posisi yang semestinya. Alhamdulillah, perbaikan darurat ini menyelamatkan saya hingga saya sampai kembali di Semarang.

Wah, seru banget ya! No pain no gain, right? LOL! Terus, ada rencana apa lagi untuk Civic ini?
Apa ya..? Paling saya berencana untuk mengganti front splitter dengan produk Mugen. Selain itu, saya lagi terpikir untuk cari velg pengganti. Selain itu, untuk Leon Hardiritt Orden lebar 11 inci yang ada di roda belakang, saya terpikir untuk mengganti ukuran bannya dengan profil 225/35 atau 235/35 agar terlihat lebih berisi. Sayangnya, produk lokal tidak memproduksi profil tersebut, sedangkan harga ban import masih terasa berat untuk kantong mahasiswa seperti saya. He…he…he…

However, setup suspensi belakang kini sudah kembali saya ubah setelah terakhir kali saya ketemu dengan tim Goodrides di Semarang. Untuk tampilan saat ini, roda belakang sudah berubah menjadi fender-to-lip setup. Sedangkan saat menjalani photo session bersama tim Goodrides, antara bibir velg dan fender roda belakang masih ada jarak. He…he…he…
Salute! Thanks for sharing, brother. Until we meet again!



Comments