Gue nggak bisa menggambarkan betapa bahagianya gue akhirnya bisa kembali melihat kompetisi drifting kembali digelar di dalam negeri, khususnya Jakarta. Terlebih lagi, karena gue akhirnya bisa kembali berlaga di ajang tersebut. Nah, sebelum gue cerita panjang lebar mengenai acara tersebut, gue mau cerita dulu bagaimana akhirnya gue bisa kembali terjun di dunia drifting.

It’s been two years. Gue sama sekali nggak ikut serta di pertandingan drift apapun yang digelar di dalam negeri sejak terakhir kali bertanding pada ajang Formula Drift 2012 di JI Expo Kemayoran, Jakarta. Tentang alasannya, gue harus cerita sedikit tentang sebuah tawaran dari salah satu pihak yang bersedia mensponsori gue dengan menyediakan unit drift car yang dapat gue gunakan untuk berkompetisi di seluruh ajang drift yang digelar. Long story short, ternyata tawaran tersebut hanya sebatas ucapan belaka yang akhirnya membuat gue berada dalam posisi menggantung. Sementara, BMW E36 yang sedang kalian lihat di artikel ini sudah mengalami sejumlah kerusakan pada berbagai sektor yang tentunya menuntut waktu untuk melakukan pembenahan. Kejadian yang kurang menyenangkan ini bahkan hampir membuat gue kehilangan sponsor yang selama ini sudah membantu gue secara all out sepanjang karir gue di dunia drifting. But yes, now I’m back as a part of the GT Radial Drift Team! 🙂

About the car itself, mobil ini memiliki tempat yang sangat spesial di dalam diri gue. First of all, mobil ini sudah hadir di lingkungan keluarga gue sejak gue masih duduk di bangku SD. Dulu, mobil ini digunakan oleh Ibunda gue sebagai daily driver untuk segala aktivitas beliau. Meskipun begitu, karena mobil ini dilengkapi dengan transmisi manual, jadi saat gue beranjak SMP, Ibunda gue memutuskan untuk membeli mobil bertransmisi otomatis karena dianggap lebih nyaman untuk menghadapi kondisi lalu lintas kota yang kerap mengalami macet, sementara beliau menghibahkan BMW E36 ini kepada gue untuk gue gunakan sebagai alat transportasi sehari-hari.

So, basically, mobil ini adalah mobil yang sudah paling lama mengabdi kepada keluarga gue sekaligus menenemani keseharian gue yang saat itu sedang giat-giatnya keluyuran seperti kebanyakan car enthusiast berusia belia umunya yang sedang mencari jati diri. LOL!

Satu hal yang paling berkesan buat gue adalah, gue pun belajar drifting dengan mobil ini. Karir gue di dunia drifting bahkan gue mulai bersama mobil ini saat gue ikut serta di sebuah event bertajuk Good Year Night Drift 2007 yang digelar di lahan Polda Metro Jaya, Jakarta. Meskipun saat itu mobil ini masih berstatus sebagai mobil jalan-lana, tapi gue berhasil membuktikan kemampuan gue dan berhasil meraih juara pertama di ajang tersebut. Keahlian ini tidak lain adalah berkat latihan yang gue lakukan hampir setiap hari di jalan raya. Jujur, gue sendiri saat itu seraya tak percaya bisa berhasil meraih kemenangan pada debut karir gue saat itu. Atas alasan tersebut, gue yakin kalian semua bisa mengerti kenapa akhirnya gue memutuskan untuk selalu keep mobil ini, bahkan hingga bisa bertransformasi menjadi proper drift car seperti sekarang.

Yap, this is my first love. Dengan segala kekurangan serta segala keraguan orang di era tersebut terhadap kapabilitas chassis E36 untuk bermanuver di drift track, justru memancing gue untuk selalu menunjukkan bahwa mobil kesayangan gue ini bisa unjuk gigi di depan para kompetitor lainnya.

Anyway, mungkin one day gue bisa cerita lebih dalam tentang mobil gue ini secara detail lewat sebuah artikel. Karena kalau gue ceritain disini, sepertinya akan jadi panjang banget. Jadi sekarang, gue mau langsung skip dulu ya ke era masa kini. He..he..

After the long hibernation, saat mendengar adanya promotor yang menggelar sebuah drift event dengan tajuk Drift++ yang akan digelar di sirkuit drift JI Expo Kemayoran, Yahya, Iwan dan Andrie selaku pemilik Inspiration Motorsports memberikan gue sebuah tawaran yang sepertinya tidak mungkin gue tolak. Mereka bersedia memberikan sponsor lewat pembenahan mobil gue yang telah lama mati suri itu.

Perlu kalian ketahui bahwa Inspiration Motorsport merupakan bengkel yang memiliki keahlian khusus, terutama untuk drift car yang menggunakan mesin 2JZ dari Toyota. Setelah gue pertimbangkan, E36 gue yang sudah menggunakan mesin 2JZ ini, nampaknya akan sangat cocok jika dibenahi oleh expertise seperti Iwan yang akrab disapa Iwano ini. So back then, we had a deal and they asked me to send my E36 to their workshop.

Sebelumnya, Iwano juga sudah menanyakan kepada gue tentang permasalahan apa saja yang ada pada E36 ini sebelum akhirnya gue terlantarkan selama dua tahun di halaman rumah gue. Namun, sepertinya problem yang terdapat di mobil gue terlihat lebih besar daripada ekspektasi Iwano. Saat mobil ini tiba di workshop milik Inspiration Motorsport, gue bisa melihat reaksi Iwano yang benar-benar terlihat pusing. I believe he really doubt the available working hour, karena waktu yang tersedia hanya tiga setengah minggu dari hari-H digelarnya event. Hal ini sepertinya membuat Iwano harus berpikir keras tentang prioritas pekerjaan yang harus dilakukan kepada drift car gue tersebut.

Sejumlah perbaikan pun dilakukan oleh Iwano, mulai dari penggantian turbocharger baru hingga penggantian sejumlah parts yang rusak karena kesalahan gue memarkirkan mobil tersebut selama dua tahun di lahan parkir tanpa atap alias outdoor.

Setiap minggu, gue melihat progress yang terjadi sangat berarti, meskipun problem baru terus bermunculan ketika proses percobaan menyalakan mesin dilakukan setelah tidur panjangnya. Dalam masa itu pun, gue akhirnya kembali mendapatkan kontrak dengan GT Radial Drift Team. Selain itu, ada juga sponsor baru yang ikut memberikan support kepada gue, yaitu Chemical Guys Indonesia.

Di masa ini pula, gue terus merasa ketar-ketir apakah mobil ini masih layak digunakan untuk drifting atau tidak. In the very last minute, tepatnya lima hari sebelum Drift++ digelar, akhirnya mesin mobil gue bisa hidup dan dinyatakan ready untuk melakukan tuning di atas mesin dyno. Hasilnya, mesin 2JZ racikan Inspiration Motorsport ini mampu menghasilkan output maksimum hingga 421 RWHP!

On to the D-day, gue kembali merasakan emotional feelings yang dulu selalu gue rasakan saat akan terjun di sebuah event. Namun kali ini, gue merasa over excited. Karena jujur, gue masih merasa sangat girang dengan kembalinya gue di dunia drifting ini. Terlebih lagi, seluruh anggota keluarga gue bisa ikut mendampingi gue berkompetisi di ajang ini.

Apalagi hal ini dilakukan bersama teman-teman gue dari Driftinc, teman-teman dari tim lain, serta tidak ketinggalan para drifter baru yang menurut gue sangat kompeten untuk bertarung dengan drifter senior yang sudah memulai karir lebih dulu.




Hal lain yang membuat gue sangat bersemangat adalah dukungan dari seluruh tim Goodrides (kecuali Adhi yang justru baru datang saat event sudah berakhir).

Saat qualifying day yang digelar di hari Sabtu, Iwano juga menyampaikan pesan khusus kepada gue. “Dean, hari ini santai aja. Jangan terlalu di-push. Dengan persiapan yang bisa dibilang minim, kita nggak bisa prediksi apakah mesin ini masih sanggup menerima siksaan dari loe atau nggak,” wanti Iwano.



Mendengar pernyataan tersebut, gue pun cenderung tidak terlalu all-out saat qualifying day. Selain itu, gue juga masih perlu melakukan sedikit adjustment terhadap karakter mesin mobil gue yang kini terasa lebih responsif dari sebelumnya.




Then the result is, we placed 9th on top 32 driver yang lolos pada kualifikasi itu.


Oh iya, pada event yang penjuriannya dilakukan oleh Emanuelle Amandio, Dika CH dan Ghulam ini, Goodrides juga membentuk sebuah team kecil, yang terdiri dari:


Gue sendiri dengan 2JZ powered BMW E36.



Ahmad Fadillah Alam, owner dari Scion FRS Rocket Bunny yang pernah kita liput ini juga ikut berlaga menggunakan SR20 DET powered Nissan Silvia S13.


Dan terakhir Muhammad Fenno dengan 1UZ powered BMW E36.

Masing masing berhasil lolos kualifikasi dengan memposisikan diri di urutan ke 13 dan 20.

The next day after qualifying day, panitia membagikan tandem bracket untuk para top 32 drivers. Pada tandem chart tersebut, gue melihat lawan tandem gue adalah M Iqbal, the funny guy who drive an RB25DET powered Nissan Cefiro A31.

Karena ada sejumlah kerusakan pada mobilnya, Cefiro yang ia kemudikan mengalami spin out pada saat dirinya berada di posisi chaser, so I managed myself up to the top 16. Setelah gue lihat, lawan gue selanjutnya adalah Danny Ferdito. He’s one of my best friend in Driftinc. Sayangnya, karena Toyota Soarer 2JZ miliknya tidak bisa digunakan pada event kali ini, jadi ia terpaksa menyewa Nissan 200SX milik TB Deyang yang menggunakan mesin RB25DET.

Pada run pertama, berhubung poin kualifikasi Danny lebih baik dari poin gue, maka posisi gue menjadi chaser. So all I got to do is push my car as hard as I can.

Namun hal tersebut justru menimbulkan sedikit drama. Pada run pertama, saat gue melakukan approach terhadap 200SX milik Danny, mobil gue memanjat mobil dia. Akibat kejadian ini, baik mobil gue maupun Danny mengalami kerusakan yang cukup serius di bagian kaki-kaki.




Velg AZEV yang terpasang di roda depan mobil gue mengalami kerusakan dan tie rod mobil gue pun terlepas dari posisi yang seharusnya.


Sedangkan Danny mengalami kerusakan pada bagian knuckle serta perubahan alignment pada roda kanan belakang.


Berhubung kedua mobil ini tidak bisa melanjutkan run kedua, maka pihak panitia mengizinkan kami untuk memperbaiki mobil masing-masing dengan tenggat waktu hingga battle terakhir di best 16 ini dimulai.


Dengan tenggat waktu yang singkat tersebut, gue langsung memaksakan mobil dengan menjalankannya ke paddock area. Di sana gue disambut oleh crew dari Inspiration Motorsport yang langsung memperbaiki sejumlah kerusakan yang dialami mobil gue. Hal yang sama juga terjadi di dalam paddock milik Danny yang langsung sibuk dengan proses perbaikan pada mobil yang digunakan Danny tersebut.


Finally, kedua mobil ini dapat kembali melanjutkan run kedua. Di titik inipun, gue merasa nothing to lose. Karena pada dasarnya, gue sudah berada di posisi yang kalah akibat insiden yang gue perbuat pada run pertama. So all I got to do is giving my best shot when I’m doing the lead run.


Suddenly, gue melihat Danny mengalami spin out saat menjadi chaser. Oleh karena itu, para juri akhirnya memutuskan untuk melakukan one more time. So, we’re going back to the starting line with me as a chaser again.

Kelihatannya akibat perbaikan kilat yang dilakukan pada knuckle mobil milik Danny, membuat dirinya terpaksa bekerja ekstra keras untuk mengemudikan mobilnya, terutama saat switching. Guess what, he did spun out again.

And also on the second run. Juri pun memutuskan gue bisa lanjut ke babak 8 besar dan bertemu dengan teammate dari GT Radial Drift Team, Rully Armando dengan 2JZ-GTE powered Cefiro A31. So sorry Danny!

Pada babak 8 besar inilah, akhirnya mobil gue menunjukkan batas akhir kemampuannya. Pada saat itu, differential gue akhirnya jebol! LOL!

Well, that’s really fair enough. Setelah gue anggurin selama 2 tahun dan bertarung dengan persiapan yang sangat minim waktu, gue dan team dari Inspiration Motorsport sudah merasa sangat puas. Next event, we’ll do it even better and stronger!

Until next time! HOO YAA YAA!
Special thanks to Inspiration Motorsport, GT Radial Indonesia and Chemical Guys.




One thought on “The Ressurection // GOODRIDES BMW 2JZ E36 at DRIFT ++ 2014”