“Dhi, loe musti liat Starko yang lagi ada di Beo sekarang!”
Penggalan kata itulah yang diucapkan oleh Timoti Elias via telepon, back in 2009, saat seorang customer datang membawa sebuah Starlet EP70 produksi tahun 1987. Gue pun menjadi begitu penasarannya dengan mobil itu, mengingat tuner yang akrab disapa Moty ini merupakan seorang perfeksionis jika menyangkut tentang kondisi mobil, terutama Starlet, consider dirinya adalah seorang die hard fans dari generasi P series. Jadi, kalau sampai seorang Moty menyampaikan pernyataan seperti itu, sudah bisa dipastikan Starlet yang dimaksud merupakan unit yang sangat istimewa.

Gue yang saat itu kebetulan sedang berada di rumah pun langsung mempersiapkan diri dan segera berangkat menuju Beo (rumah sekaligus workshop pribadi milik Moty – Red) untuk melihat unit Starlet EP70 yang dimaksud Moty. Sepanjang perjalanan menuju Beo, benak gue pun mulai membayangkan unit CBU dengan tipe top of the line, lengkap dengan segala atribut OEM berstatus langka yang sudah tersemat di sekujur tubuh Starlet tersebut.

Unfortunately, saat tiba di Beo, gue sempat merasa kecewa, karena seluruh imajinasi yang ada di benak gue langsung pupus. Unit Starlet yang dimaksud Moty, muncul dengan tampilan cat yang sangat kusam dan memiliki tampilan yang sama sekali nggak ada bedanya dengan unit produksi lokal yang telah lusuh dimakan zaman. Namun, saat gue bergerak mendekat ke sosok mobil tersebut, gue pun mulai mengerti kenapa Moty sampai menghubungi gue untuk melihat mobil ini secara langsung.

Ok, first of all, mobil ini baru menempuh angka 40.xxx KM di odometer. Jadi, meskipun tampil dengan lapisan cat yang sangat kusam, tapi kondisi body mobil bisa dibilang berada dalam kondisi yang sangat orisinal, hanya terdapat sejumlah dent kecil di sejumlah sudut. Selain itu, menurut analisa Moty, mobil ini juga bisa dibilang hampir nggak pernah “dibongkar”, jadi seluruh komponen hingga baut, masih berada di tempat yang seharusnya dan berada dalam kondisi yang sangat baik. Not to mention the interior, yang masih berada dalam kondisi pristine. Malah konon, sebelum dibeli oleh pemilik terakhirnya, karpet dasar bahkan masih dibalut plastik pabrikan. Saat gue lihat pun, doortrim masih dibalut plastik bawaan pabrik. Secara garis besar, di luar tampangnya yang kusam, kondisi mobil ini masih sangat mint. No wonder, Moty sangat excited melihat Starlet “Kotak” ini.


Tentang alasan kehadiran mobil itu di Beo sendiri, adalah karena sang pemilik berniat mengganti transmisi manual bawaan mobil dengan transmisi 3-speed automatic milik Soleil yang bisa diaplikasikan secara plug and play ke mesin 1E bawaan mobil. Setelah langkah konversi transmisi tersebut usai dikerjakan oleh Moty, keesokan harinya pun gue menyempatkan diri untuk cruising bersama Moty dengan Starlet itu, and the experience was awesome!


Overall, mobil masih sangat kedap suara serta rapat dari kontaminasi udara luar. Kondisi suspensi pun masih sangat baik. Mesin 1E 1000cc bawaan mobil pun masih terasa sangat prima, bahkan dengan perpaduan transmisi automatic yang demanding. Gue dan Moty pun merasa sangat terpesona dengan Starlet EP70 ini. But sadly, mobil itu bukan milik kita dan harus segera dikembalikan ke sang pemilik. Even worse, setelah pertemuan di Beo itu, gue dan Moty hampir nggak pernah ketemu mobil itu lagi. Jadi pengalaman gue dan Moty bersama Starlet EP70 itu sepertinya hanya bisa menjadi kenangan indah bagi kita berdua.

Berita mengejutkan justru muncul di awal tahun 2010, ketika sang pemilik tiba-tiba menghubungi Moty dan menawarkan apakah Moty berminat untuk membeli Starlet miliknya. Sayangnya, saat itu gue dan Moty sedang tidak berada dalam kondisi yang tepat untuk memelihara satu mobil lagi. Kita pun terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa akhirnya sang Starlet sudah dipinang oleh pemilik barunya. It sucks, but life must go on, right?

Memasuki awal tahun 2012, kakak perempuan gue pun berniat memelihara mobil berukuran kecil untuk dijadikan sebagai alat transportasi harian. Syaratnya cuma satu, transmisinya harus automatic! Berhubung gue ditugaskan untuk mencari kandidat mobil dengan budget yang sudah ditentukan, pikiran gue pun langsung terlintas ke Starlet EP70 yang menjadi topik di artikel ini. Kenapa? Karena mobil itu bisa memenuhi satu-satunya syarat yang diberikan oleh kakak gue, yaitu transmisi automatic! Soon, Moty pun segera menelusuri keberadaan mobil itu. What surprises us is, saat berhasil menghubungi sang pemilik, beliau pun menyampaikan bahwa dirinya sedang terpikir untuk melepas sang Starlet!

Gue pun segera mengajukan pilihan ini ke kakak gue. Untungnya, karena faktor nostalgia masa kecil, kakak gue pun langsung tertarik dengan tawaran yang gue sampaikan tersebut. Meskipun begitu, kakak gue menyampaikan bahwa dirinya ingin lebih dulu mencoba mengendarai mobil itu, sebelum memutuskan apakah dirinya mau meminang mobil tersebut atau tidak.

So, there I go, lewat bantuan Moty, kita pun menyampaikan keinginan kita untuk lebih dulu mencoba mobil tersebut sebelum memutuskan untuk menebusnya. Luckily, sang pemilik cukup terbuka untuk memberikan kesempatan itu kepada kita. Setelah mobil sudah di tangan, gue pun segera menyerahkannya ke kakak gue untuk dicoba. Lalu, apa komentar kakak gue setelah mencoba mobil itu untuk beraktivitas ke kantor? “Tampangnya sih buluk banget. Tapi dipakenya enak banget ya! Rasanya masih mirip kayak waktu dulu Bapak beli Starlet ‘Kotak’!”

Karena terkesan dengan sensasi berkendara sang Starlet, kakak gue pun segera menebus mobil itu dan menjadikannya sebagai sahabat dalam menemani aktivitasnya sehari-hari. Meskipun begitu, sebagai orang yang bertanggung jawab menjaga kondisi mobil tersebut, gue pun melakukan sejumlah perbaikan dan minor upgrades kepada Starlet EP70 demi menjaga kondisi yang prima agar dapat mengakomodir segala kebutuhan transportasi kakak gue tanpa masalah.

Dua tahun berlalu dengan indah. Namun, karena satu dan lain hal, kakak gue pun menyampaikan niatnya untuk melepas sang Starlet. “Sedih sih, tapi sepertinya Starlet harus gue jual. Tapi gue nggak buru-buru kok. Tolong cariin calon pemilik yang pantas aja ya. Sayang soalnya kalau mobil ini harus jatuh ke tangan yang salah,” ungkap kakak gue.

Dari sini, gue cukup yakin, kalau hanya ada satu kandidat yang pantas memelihara mobil itu. Yes, the man I’m talking about is Mr. Timoti Elias! Gue pun segera menghubungi Moty untuk menyampaikan pesan kakak gue tersebut. Pucuk dicinta ulam tiba! Moty yang selama ini kerap diolok-olok karena belum pernah memiliki Starlet generasi EP7 selama hidupnya meskipun menyandang status sebagai Starlet “Guru”, memang sedang berniat mencari unit Starlet EP7x untuk dijadikan sebagai mobil simpanan.

Cerita selanjutnya, tentu sudah dapat ditebak dengan mudah. You’re right! Starlet yang enam tahun lalu datang ke workshop milik Moty dan sukses membuat kita terpesona inipun akhirnya menjadi hak milik Moty. Dalam hal ini, ungkapan “kalau jodoh emang nggak kemana-mana”, sepertinya sangat tepat untuk diberikan ke Moty. LOL!

“Gue mau restorasi mobil ini sampai kondisi layaknya baru. Bahkan kalau bisa, lebih baik dari baru! Pokoknya gue nggak mau tanggung-tanggung. All or nothing at all,” ujar Moty secara tersirat saat gue tanya tentang apa yang mau dia lakukan terhadap Starlet tersebut.

Setelah berpindah tangan, Moty start to do things that he do best! Dimulai dari proses disassembling tiap bagian hingga tersisa body shell. “Gue mau repaint. Tapi gue nggak mau seluruh komponennya, terutama interior, disimpan sembarangan. Makanya ini gue pretelin sendiri, biar bisa gue simpan di tempat yang aman dan bersih,” tukas Moty lagi.

Usai proses disassembling, Moty pun segera mengirimkan body shell ke workshop pilihannya untuk menjalani proses repaint. While waiting, Moty pun mengisi waktu dengan hunting. And when he mean hunting, it’s a real hunt for treasures! First, Moty bersikeras mencari seluruh body parts yang masih bisa diperolehnya dalam kondisi brand new, and Moty found most of it tho.






You name it! Dari mulai sepasang bumper depan-belakang, headlamp, stoplamp, side lamp, side turn signal, weatherstrip(s), roof lining, mudflap(s), semuanya dibeli Moty dalam kondisi brand new and (or) NOS. Akan butuh waktu yang sangat panjang kalau gue harus cerita dimana saja Moty bisa memperoleh seluruh komponen tersebut. Just face it, he’s a geek with an evil attitude. Period.
Nggak berhenti disitu. Moty pun mulai mengeluarkan sejumlah “harta karun” lain yang sudah disimpannya sejak lama. “Gue itu memang sudah lama mimpi punya ‘Starko’, tapi gue tunggu saat yang benar-benar tepat. Makanya, saat gue nemu barang ‘Starko’ yang worth to keep, pasti gue simpen,” jujur Moty. Tapi menurut gue, faktor celaan anak-anak tentang Moty yang nggak pernah punya Starko, pasti juga jadi salah satu faktor sih. Ya nggak, Mot? LOL!








Barang simpanan Moty yang dimaksud, antara lain undertray yang juga merupakan tempat speaker, speedometer, jam digital, AC cluster, AC/Econ switch, steering wheel, electric mirror switch dan shifter boot yang seluruhnya merupakan komponen OEM milik Starlet Si.

Even more, Moty kemudian melanjutkan proses hunting yang dijalaninya. Tapi kali ini, untuk mencari body parts OEM milik Toyota Starlet Si produksi Jepang. “Waktu lagi di Negeri Jiran, gue nemu dua pasang front fender milik Starlet produksi Jepang. Yang satu pasang, beda di posisi side turn signal yang ada di depan wheel arch. Fender inilah yang sekarang tersemat di mobil gue. Sedangkan satu lagi, ada lubang untuk spion ‘tanduk’. Yang itu gue cat lalu gue simpan,” beber Moty. “Karena waktu gue temukan, salah satunya masih dibalut dengan cat merah OEM milik Starlet Si, jadi sekalian aja, warna fender yang itu gue jadiin patokan untuk warna mobil gue,” jelasnya lagi.


Selain itu, Moty juga mengirim satu pintu bagasi, sepasang side mirror dan lip spoiler milik Starlet Si. Pintu bagasi sendiri diambil agar kaca belakang yang sudah dilengkapi heater, bisa diaplikasikan ke Starlet miliknya. Last but not least, Moty ikut memboyong steering column milik Starlet Turbo S yang sudah dilengkapi opsi tilt steering.


Fast forward to the upcoming months, Starlet milik Moty pun sudah memasuki proses finishing, dimana body shell yang dikirim Moty sudah rampung dilabur permukaan cat baru, yang lalu dibawa kembali ke Beo untuk menjalani proses assembly. Seluruh bagian eksterior dirakit sendiri oleh tangan dingin Moty demi hasil yang sesuai dengan standar ala geek seperti dirinya.



Lalu untuk sektor interior, seluruh plastik yang tadinya melapis sejumlah bagian interior seperti door trim, dilepas oleh Moty hingga menampilkan material door trim milik Starlet EP70 dalam kondisi terbaik. Seluruh komponen interior yang akan dirakit pun sudah terlebih dulu menjalani treatment pembersihan yang lagi-lagi dilakukannya sendiri layaknya seorang geek.

Sedangkan untuk komponen head unit, Moty memilih untuk mempertahankan head unit OEM milik KZ. Head unit itu sendiri gue aplikasikan saat mobil tersebut masih dipelihara oleh kakak gue. Hal ini gue lakukan karena head unit tersebut sudah dilengkapi dengan teknologi digital untuk memilih gelombang radio, namun masih memiliki tampilan yang period correct karena memang berasal dari mobil dengan era produksi yang sama. From this point on, kondisi eksterior dan interior mobil pun sudah tampil dengan kondisi yang sangat mendekati kondisi brand new car.

Next, was the engine. “Untuk mesin, gue sudah menyimpan satu unit mesin 2E-E dari Starlet Si, lengkap dengan wiring harness-nya. Mesin ini identik dengan mesin Starlet lokal, tapi bedanya sudah menggunakan sistem electronic fuel injection.

Selain itu, gue juga sudah menyiapkan komponen power steering lengkap dengan pompa milik Starlet Si yang dapat diaplikasikan secara plug and play di mobil ini,” jelas Moty lagi. The best thing is, sebelum diaplikasikan, Moty terlebih dulu mengganti seluruh komponen mesin yang masih bisa diperolehnya dalam kondisi brand new, bahkan untuk komponen radiator assy sekalipun.

Saat tidak ada pilihan, Moty pun sebisa mungkin mencari komponen substitusi yang masih berada dalam kondisi prima. To wrap things up, seluruh komponen metal hingga baut ukuran terkecil, dikirim oleh Moty ke workshop kepercayaannya untuk menjalani proses versenk hingga memiliki tampilan yang, at some point, terlihat lebih baik dari brand new.









I bet you can see how it went from these photos above.

Untuk komponen suspensi sendiri, Moty hanya menambahkan stabilizer bar OEM milik Starlet Turbo S. Hal ini dilakukan karena Starlet lokal tidak dilengkapi dengan komponen tersebut yang membuatnya lebih flex.

Satu-satunya komponen aftermarket yang tersemat di komponen suspensi adalah lowering spring dari produk H&R dengan part number yang memang diproduksi khusus untuk EP series. “Soalnya kalau lihat di katalog, Starlet Si lebih ceper sedikit dibanding Starlet lokal. Berhubung gue belum berhasil memperoleh coil spring OEM milik Starlet Si, jadi gue pasang per ini. Kebetulan setup –nya mirip-mirip,” jelas Moty.

Saat pemotretan berlangsung, pikiran gue pun tiba-tiba terlintas kepada kondisi spare tire. Kenapa? Karena saat mobil itu masih menjadi milik kakak gue, gue pernah iseng-iseng melihat kondisi spare tire di dalam bagasi dan menemukan bahwa ban yang tersemat di velg spare, adalah ban yang sama seperti saat baru keluar dari pabrik.

“Nah, kalau itu masih gue pertahankan. Kondisinya sendiri sih memang ada baiknya diganti dengan ban baru. Tapi gue suka lihatnya, jadi gimmick yang menarik aja buat mobil ini,” kekehnya.

Nggak bisa dipungkiri, setiap kali gue melihat mobil ini, gue pun selalu tersenyum simpul, mengingat bagaimana perjalanan yang ditempuhnya hingga kini bisa jatuh ke tangan Moty dan bertransformasi menjadi mobil dengan kondisi yang, menurut gue pribadi, bisa dibilang lebih baik daripada kondisi brand new sekalipun. The next best thing is, Moty masih sangat berbesar hati untuk memperbolehkan gue berkendara dengan mobil miliknya saat gue merasa rindu menikmati sensasi berkendara relaxing dari sebuah Starlet EP70 yang sepertinya hanya bisa gue peroleh dari unit milik Moty ini.

Just imagine. Put your Ray Ban on, listen to oldskool tunes from the radio, while driving around town in a cozy afternoon. Priceless!



One thought on “The Right Car At The Right Time // Toyota Starlet EP70 1.0 XL”