Kegemaran gue untuk “mengintip” thread yang dibuat oleh para car enthusiast di sebuah forum yang cukup terkenal dalam ruang lingkup car scene tanah air, kerap kali membawa gue untuk mengenal sejumlah pribadi yang mempunyai passion besar dalam melakukan personalisasi terhadap mobil miliknya.
Salah satunya adalah Rangga Sidi Fareth, seorang pria humoris yang membuat gue cukup terkagum-kagum saat melihat thread Corolla AE112 produksi tahun 2000 miliknya di forum tersebut, lebih dari lima tahun yang lalu.
Tapi, sebelum gue cerita lebih jauh tentang Rangga dan Corolla miliknya, gue harus sedikit cerita flashback tentang gue dan Corolla gue. Here’s the thing, saat itu, gue yang baru saja mengaplikasi velg Sparco 9 dengan konstruksi three-piece split berspesifikasi 16×8, merasa cukup bangga dengan velg yang gue punya itu. Kenapa? Karena di era tersebut, gue merasa bahwa velg gue itu cukup istimewa, baik dari segi konstruksi, spesifikasi, maupun desain dari velg dengan palang tegas berjumlah sembilan bilah tersebut. Sayangnya, velg itu diproduksi dengan spesifikasi PCD yang tidak cocok dengan spesifikasi mobil gue. Meskipun velg itu dilengkapi dengan spesifikasi multi PCD, yaitu 5×114.3 dan 4×114.3, namun kedua spesifikasi PCD tersebut tidak ada yang match dengan PCD Corolla EE90 gue yang mempunyai spesifikasi 4×100. So, there I go, gue melakukan konversi PCD layaknya car enthusiast lain agar velg tersebut bisa diaplikasikan ke Corolla milik gue.
Sayangnya, rasa bangga gue itu harus pupus saat gue membuka thread Corolla AE112 yang dibuat oleh Ranggon, sapaaan akrab dari Rangga Sidi Fareth. Yup, gue dipaksa terpana saat melihat Ranggon memiliki sebuah velg yang masuk ke dalam kategori rare, bahkan hingga kini. Velg yang gue maksud adalah Hartge Design C yang juga mempunyai konstruksi three-piece split layaknya Sparco 9 gue, namun diproduksi dengan spesifikasi yang cukup unik, yaitu 16×7.5 inci untuk roda depan dan 16×8.5 inci untuk roda belakang.
Nggak hanya itu, velg milik Ranggon ini juga diproduksi dengan PCD yang cocok dengan spesifikasi PCD milik Corolla AE112 miliknya, yang juga sama dengan spesifikasi Corolla EE90 gue, yaitu 4×100.
Seketika setelah gue melihat thread Corolla milik Ranggon ini, gue pun segera post quick reply yang menyatakan bahwa gue excited melihat Hartge Design C miliknya, seraya berusaha keras mencari rangkaian kata yang sebisa mungkin tidak menunjukkan kekaguman gue terhadap velg tersebut. Gengsi sob. LOL! Surprisingly, Ranggon pun segera melakukan reply terhadap post gue itu secara ramah dengan mengucapkan terima kasih atas compliment yang gue sampaikan.
Melihat itikad baik yang ditunjukkan Ranggon, gue pun segera menurunkan level gengsi gue dan menyampaikan bahwa gue cukup kagum dengan velg miliknya, meskipun dari reply yang disampaikan, sepertinya dia menganggap bahwa gue terlalu berlebihan. Trust me man, I’m not. Dari sini, obrolan yang gue lakukan bersama Ranggon lewat teks inipun berlangsung cukup panjang, sampai akhirnya gue berinisiatif untuk mengajak Ranggon bertatap muka langsung, biar gue juga bisa melihat velg itu dengan mata kepala gue sendiri.
Singkat cerita, kita pun janjian untuk ketemu di sebuah lokasi yang terletak di kawasan Jakarta Selatan. Setelah ketemu, gue pun semakin stunned saat melihat Hartge milik Ranggon tersebut yang masih berstatus fully original dengan kondisi sangat terawat.
Setelah banyak berinteraksi langsung dengan Ranggon, gue pun merasa bahwa Ranggon mempunyai taste dan passion yang cukup identik dengan gue. Kondisi ini lalu mendorong gue dan Ranggon untuk berinteraksi lebih intens, baik lewat jaringan pribadi maupun thread kita masing-masing, hingga akhirnya kita berdua menjadi teman yang cukup dekat antara satu sama lain.
Taste dan passion yang selaras antara gue dan Ranggon ini mendorong kita untuk sering melakukan brainstorming terhadap berbagai langkah personalisasi yang dapat kita lakukan, yang kita yakini mampu membuat masing-masing Corolla tampil stand out di antara Corolla sejenis lainnya. Meskipun begitu, most of all, brainstorming yang gue lakukan bersama Ranggon itu paling sering terjadi terhadap berbagai hal yang terkait dengan sektor suspensi. Lebih tepatnya lagi, brainstorming tentang apa yang bisa kita lakukan agar Corolla milik kita bisa memiliki ground clearance yang sangat minim tanpa mengorbankan sisi kenyamanan.
We surely do know, jika keinginan kita tersebut bisa dengan mudahnya tercapai dengan cara install perangkat coilover yang mampu di-adjust sedemikian rupa hingga menghasilkan tampilan yang sesuai dengan keinginan tanpa terlalu banyak mengorbankan sisi kenyamanan. Tapi, gue dan Ranggon saat itu masih duduk di bangku kuliah dengan jumlah uang saku yang bisa dibilang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, wajar jika gue dan Ranggon mencari cara “generik” dalam memenuhi keinginan tersebut.
And so the story begins, gue dan Ranggon cukup sering menyambangi berbagai workshop yang kita anggap mau direpotkan dengan permintaan kita dalam menjalani proses trial and error di sektor suspensi mobil kita masing-masing. Kondisi ini terus berlangsung, hingga pada suatu saat, gue merasa cukup bosan dengan Sparco 9 yang gue gunakan di Corolla gue itu dan beralih menggunakan velg yang mempunyai spesifikasi diameter lebih besar 1 inci dari sebelumnya.
However, proses trial and error di sektor suspensi antara mobil gue dan Ranggon pun terus berlanjut. Tapi, dari sini, trial and error yang gue lakukan bersama Ranggon ini menciptakan hasil yang berbanding terbalik, dimana mobil gue terasa semakin menyiksa, sedangkan mobil Ranggon justru terasa sangat nyaman, bahkan dengan ground clearance yang sangat minim. Yup, apa yang dilakukan Ranggon di sektor suspensi mobilnya telah berhasil menciptakan suatu kondisi dimana mobilnya memiliki ground clearance yang sangat rendah, tapi mempunyai karakter suspensi yang sangat nyaman dikendarai.
Disamping proses trial and error di sektor suspensi tersebut, Ranggon pun nggak luput melakukan personalisasi di berbagai sektor lain di mobilnya yang bisa dilihat secara sekilas, seperti pengaplikasian stoplamp milik Toyota Corolla Conquest, retractable side mirror, side turn signal dan lain sebagainya. Pada sektor interior, Ranggon juga ikut mengaplikasi Recaro LX maupun segala perangkat OEM lainnya yang tidak terdapat pada Corolla AE112 produksi lokal. Untuk kenyamanan berkendara, Ranggon juga tidak luput melakukan upgrade pada sistem in car entertainment.
Tapi terlepas dari segala personalisasi tersebut, salah satu hal yang buat gue masih kagum dengan Corolla AE112 milik Ranggon adalah, mobil ini masih mengaplikasi the very same wheels layaknya pertama kali gue lihat di thread miliknya. Hal inipun lalu mendorong gue untuk melontarkan pertanyaan yang selama ini gengsi gue sampaikan, yaitu darimana Ranggon bisa dapet velg Hartge Design C ini. Lalu, apa jawaban Ranggon?
“Velg ini udah gue beli dari gue SMP sob. Waktu itu ada orang yang nawarin saat gue lagi di bengkel langganan bokap gue. Entah kenapa, sejak pertama kali lihat, gue langsung jatuh hati sama velg itu, meskipun gue nggak tau mau dipasang kemana karena saat itu bokap gue pake Kijang. Gue pun merengek sama bokap gue untuk dibeliin velg itu. Setelah bertahun-tahun gue simpen, akhirnya baru bisa gue pasang setelah bokap beli Corolla ini,” ujar Ranggon seraya tertawa.
Ooh shoot! You are definitely a lucky f*ckin b*stard!!!



2 thoughts on “The Right Decision // Toyota Corolla AE 112”
NICE…………………….