Sebuah mobil yang sudah mengabdi kepada sang pemilik dalam waktu yang lama, kerap dianggap sebagai sesuatu yang priceless, mengingat mobil tersebut sudah menyumbangkan begitu banyak jasa kepada sang pemilik. Layaknya Timor S515i milik Hendi Wibawa ini. Mobil yang dibeli dalam kondisi brand new oleh sang ayah sebagai hadiah ulang tahun ke-17 tersebut, sepertinya telah muncul sebagai sebuah icon yang tak terpisahkan dari dirinya.

“Dulu bokap gue janji untuk kasih mobil ke gue kalau hasil raport gue bagus. Karena prestasi gue lumayan, jadi gue nagih janji ke bokap dan minta dibeliin Mitsubishi Lancer. Tapi sayangnya, saat itu adalah era dimana Indonesia mengalami resesi ekonomi. Karena itu, bokap bilang ke gue kalau beliau nggak sanggup memenuhi permintaan gue. Tapi karena nggak mau mengecewakan, akhirnya bokap memutuskan untuk membelikan sebuah Timor S515i sebagai hadiah ulang tahun gue yang ke-17,” kenang pria yang akrab disapa Hendi ini.

Sebagai seorang remaja, Hendi mengaku bahwa dirinya memiliki passion yang sangat besar terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan mobil. Meskipun begitu, Hendi juga mengakui bahwa passion di dalam dirinya ini bisa tumbuh berkat hobby sang ayah yang juga berkaitan erat dengan dunia roda empat, khususnya mobil produksi Mercedes-Benz.

“Saat itu, bokap sudah hobby koleksi velg, jadi di gudang bokap itu ada banyak velg, dari MAE berbagai spec, Brabus Mono III, Hartge dan lain-lain. Cuma mungkin karena saat itu gue masih remaja, jadi gue nggak diizinin untuk pakai barang-barang koleksi beliau,” ungkap pria yang selalu berpenampilan klimis ini.

Karena dilarang menyentuh barang koleksi milik sang ayah, Hendi pun mulai mencoba melakukan personalisasi terhadap Timor produksi tahun 1997 ini dengan caranya sendiri.


“Dari pertama kali dapet mobil, gue langsung ganti velg. Pertama pakai DTM Racing. Nggak lama setelah itu, velg pun gue jual untuk diganti dengan velg Largo R17. Setelah Largo, gue ganti lagi pakai Sparco NT, lalu Racing Seneca. Setelah itu, gue pun coba ikut trend dengan melakukan PCD convertion dari 4×100 ke PCD Mercy (5×112 – Red). Velgnya sendiri gue pakai replika ’10 hole’ R17. Setelah bosan, gue mulai coba aplikasi R18 pakai velg Avantgarde. Nah, di masa ini, bokap gue pun mulai melunak dan memperbolehkan gue untuk memakai velg koleksi miliknya. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, gue pun sempat mengaplikasikan Brabus Monoblock III R18 milik bokap ke Timor ini,” bebernya semangat.


Konsep personalisasi yang menitikberatkan pada ubahan di sektor roda ini, kemudian mulai berkembang saat Hendi bertemu dengan rekannya yang baru saja mendirikan sebuah workshop. “Jadi ceritanya gue ditawarin paket dress up gitu deh. Karena penasaran, jadi gue mau nyoba pakai velg R19. Velgnya sendiri waktu itu pakai Lowenhart LD1 yang lagi populer. Karena nggak cukup, jadi waktu itu fender mengalami wide body dengan bentuk yang ‘nguping’ khas jaman dulu. Selain itu, seluruh bagian interior juga gue balut dengan kulit sintetis warna coklat. Setelah semua beres, mobil pun gue labur dengan cat warna candy red. Pokoknya kalau sekarang diingat-ingat, kusut deh! Ha..ha..ha,” jujur Hendi.



Sayangnya, setelah perjalanan yang ditempuhnya tersebut, Timor milik Hendi ini akhirnya terpaksa mati suri akibat aktivitas padat yang harus dijalaninya. “Saat itu gue juga baru nikah, jadi lagi fokus untuk bangun rumah tangga dulu. Kebetulan juga gue udah ada rejeki untuk beli mobil lain yang lebih reliable untuk digunakan sehari-hari, jadi ya Timor terpaksa diistirahatkan dulu,” tukas pria ramah ini. Meskipun begitu, Hendi mengaku sesekali masih kerap membawa Timor miliknya untuk berjalan-jalan, meskipun ujung-ujungnya tetap berakhir mendekam di dalam garasi.


Memasuki tahun 2011, barulah Hendi memiliki tekad yang besar untuk melakukan rombakan ulang secara total terhadap mobil miliknya dengan menunjuk bengkel Platinum milik Vino sebagai eksekutor. “Karena gue berniat ‘bangun’ ulang mobil ini, jadi sebisa mungkin seluruh parts gue ganti baru. Baik eksterior maupun interior. Untuk bagian eksterior, meskipun bagian fender akan kembali mengalami proses wide body akibat spec agresif (18×9/10 – Red) dari velg MAE yang akan gue gunakan, tapi fender depan tetap gue ganti dengan barang brand new untuk kemudian dirombak lagi sama Vino. Karena Vino bilang bahwa nut dari fender yang lama udah ngaco banget,” ujarnya semangat. “Selain itu, bumper depan-belakang juga gue ganti brand new karena yang lama udah banyak dirubah akibat proses wide body sebelumnya” tambahnya.

Mengingat ubahan yang berniat dilakukannya ini memiliki konsep tampilan OEM+, maka Hendi juga ikut menjalani proses pencarian terhadap berbagai parts pengganti untuk sektor interior. Untuk keperluan ini, Hendi melakukan pencarian brand new interior parts dari berbagai sumber, termasuk dari forum pengguna mobil Timor. “Sejumlah member bahkan sampai nyela, kalau gue cuma muncul waktu lagi cari barang doang, tapi kalau kopdar nggak pernah datang,” ungkapnya jujur seraya tertawa.

Perjuangan Hendi dalam mencari komponen interior inipun tidak bisa dibilang mudah. “Dapatnya partial dari berbagai penjuru Indonesia, mulai pulau Jawa, Sumatera hingga Kalimantan. Pokoknya setiap ada info tentang keberadaan komponen interior baru, gue kejar,” bebernya. However, Hendi mengaku bahwa perjuangannya ini tidak sia-sia. Hampir 95% komponen interior yang kini tersemat di Timor miliknya berada dalam kondisi yang sangat mint. Mulai dari jok belakang, doortrim, cover pilar, plafon, dashboard, panel-panel, hingga dek speaker belakang diperolehnya dalam kondisi brand new. “Lega banget, akhirnya interior mobil ini bisa kembali standar setelah sebelumnya sudah di-retrim pada seluruh bagiannya,” serunya.

Uniknya, perburuan yang dilakukannya ini, kerap membawa dirinya bertemu dengan berbagai sumber yang masih menyimpan sejumlah komponen milik KIA Sephia, seperti headlamp dan stoplamp yang kini ikut tersemat. “Mumpung ketemu dengan orang yang jual, jadi gue selalu tanya, mereka masih punya stock berapa set. Makanya, sekarang ini gue punya beberapa set headlamp dan stoplamp sebagai spare, karena semua stock di toko gue borong” ungkapnya gamblang.

Masih berbicara tentang sektor interior. Sebagai seorang car enthusiast, Hendi tentu tidak akan membiarkan kondisi interior Timor miliknya standar begitu saja. Untuk jok depan, Hendi memilih untuk mengaplikasikan jok Recaro Ergomed yang masuk ke dalam kategori collector’s item untuk menggantikan jok bawaan mobil. Selain itu, Hendi juga turut mengaplikasi berbagai aftermarket parts yang sangat hits di era 90-an, seperti shiftknob dari produk Nardi,

krey electric

hingga head unit Blaupunkt Montreal


lengkap beserta equalizer dari brand sejenis yang populer dikenal dengan sebutan Blaupunkt “Cobra”.

Mengenai bahan Spectrum yang kini tersemat di jok Recaro miliknya serta steering wheel yang memiliki corak identik dengan joknya tersebut, Hendi mengaku punya kisah tersendiri. “Awalnya, waktu dapat di Autodistro, jok ini masih dibalut dengan bahan motif ‘catur’ bawaannya. Nah, gue sendiri dari dulu udah suka banget sama bahan Spectrum orange, tapi nggak pernah kesampaian punya. Sampai suatu ketika saat gue ada tugas ke Jepang, gue menyempatkan diri untuk hunting. Mungkin memang sudah rejeki kali ya. Waktu gue lagi mampir ke sebuah shop kecil di Osaka, gue lihat ada beberapa jok Recaro yang sedang dipajang. Di situ gue tanya, kalau mau cari bahan Recaro dimana. Ternyata mereka masih simpan bahan Spectrum dalam kondisi new old stock. Nggak pakai mikir, gue langsung beli semua stock yang masih tersisa di toko itu,” serunya.

“Setelah itu, waktu gue ke Yokohama, gue juga nggak sengaja lihat ada shop yang khusus ngerjain refurbish Recaro. Gue tanya deh tuh, mereka ada stock apa saja. Ternyata mereka bilang kalau mereka masih menyimpan beberapa steering wheel Recaro dengan motif yang berbeda-beda. Jadilah, semua steering wheel yang ada di toko itu gue borong untuk gue bawa pulang ke Jakarta, termasuk Spectrum orange yang gue pakai sekarang ini. Selain itu, gue juga beli fishnet headrest yang sekarang terpasang, lengkap dengan karet pelindung kaki headrest-nya,” beber Hendi panjang lebar. “Puas banget rasanya, bisa beli barang-barang yang dulu cuma jadi impian gue waktu masih remaja,” kekehnya.

Kini, setelah Timor miliknya sudah memiliki karakter yang sesuai dengan keinginannya, Hendi mengaku kerap membawa mobil ini berjalan-jalan untuk sekedar nostalgia sekaligus menikmati hasil jerih payahnya selama ini yang diakuinya mampu memberikan kepuasan batin yang sulit diungkapkan.

“Belum lama ini, saat gue dan istri gue merayakan anniversary pernikahan, gue sempat mengajak istri gue untuk cruising naik Timor Meskipun istri gue mengaku bahwa mobil ini kurang nyaman, tapi istri gue bisa sepenuhnya mengerti bahwa mobil ini adalah sebuah representasi dari passion gue terhadap mobil yang sudah tumbuh besar sejak gue masih remaja. Lagian, mobil ini kan juga sudah sangat berjasa bagi gue dan istri gue. Karena dulu waktu masih pacaran, kita selalu naik mobil ini untuk pergi kemana-mana,” bangganya.

From this point on, this Timor is definitely more than just a ride for Hendi. It truly tells his story from time to time.

Respect!




One thought on “A Car To Remember // Timor S515i”
Di foto ke-3 dari bawah, di pojok kanan atas dekat menara Mandiri dan Citibank koq ada penampakan Godzilla? hehe