Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal sosok Ananda Yusuf Pradhana sebagai seorang car enthusiast yang memiliki taste bagus dalam melakukan personalisasi terhadap tiap mobilnya. Tapi, meskipun dia (bersama sang ayah tentunya) punya beragam jenis mobil yang bisa kita pilih sebagai feature car, ada alasan kuat kenapa kita memilih BMW E30 ini ketimbang mobil miliknya yang lain, yaitu cerita dibaliknya. Gue sendiri pernah melayangkan pertanyaan, kenapa Nanda begitu sayangnya sama E30 ini. Dengan nada bercanda, Nanda menjawab: “Wah, mobil ini banyak ceritanya Yan! Sejarahnya banyak!”

Now, let’s go deeper to this E30. First of all, E30 ini adalah mobil dimana Nanda belajar mengemudi dengan transmisi manual untuk pertama kalinya. “Pas baru beli mobil ini, gue langsung cobain jalan. Padahal saat itu gue belum bisa nyetir (mobil) manual,” jujurnya. Ok, loe agak “sotoy” juga ya waktu itu. LOL!

Sebetulnya, ada misi lain dibalik alasan kenapa Nanda membeli mobil bertransmisi manual, yaitu untuk dijadikan sebagai drift car. Tapi sayangnya, Nanda cukup terpengaruh oleh feedback dari mayoritas temannya yang tidak merestui rencananya tersebut. Saat itu, Nanda justru diarahkan untuk memilih Nissan Cefiro sebagai basis untuk drift car seperti yang diinginkannya. Nanda pun terdorong untuk mengikuti saran teman-temannya tersebut, karena itu, sebagai langkah awal, Nanda berencana untuk menjual E30 miliknya. What makes us laugh is, saat itu, Nanda mengaku cukup depresi setelah tidak ada satupun orang yang tertarik untuk membeli mobil yang awalnya berwarna hitam ini, meskipun sudah menggunakan tag bertuliskan “For Sale” untuk waktu yang cukup lama. Pitty you.. LOL! Just kidding, bro 😀

Tapi, bukan Nanda namanya kalau dia hanya sekedar diam menerima nasib. Entah sebagai pelampiasan atau bentuk refreshing, keterpurukannya ini justru mendorong Nanda untuk mencari mainan baru, dengan syarat, mobil mainannya itu harus diproduksi dengan bentuk two doors. Singkat cerita, Nanda pun bisa memenuhi keinginannya sendiri setelah berhasil mendapatkan sebuah BMW E36 cabriolet.

Layaknya pasangan baru, Nanda pun menghabiskan mayoritas waktunya dengan mainan barunya tersebut dan mulai melupakan perhatiannya terhadap E30. Until one day, Nanda memajang E30 dan E36 miliknya bersanding satu sama lain di sebuah acara meet-up yang diadakan di daerah Alam Sutera, BSD.

“Gue nggak tau kenapa, menurut pandangan gue, kebanyakan orang justru lebih excited saat melihat si E30 dibanding si E36 cabrio,” kenang pria berkacamata ini. Sejak saat itulah, Nanda bertekad untuk membangkitkan sang E30 yang telah lama ditelantarkan dengan melakukan langkah personalisasi yang tentunya bertujuan untuk menciptakan tampilan yang sesuai dengan karakter dan jati diri Nanda.

“Mobil ini gue jadikan sebagai pelampiasan untuk mengikuti selera dan pola pikir otak gue,” papar Nanda. Sebagai permulaan, Nanda lalu mengirim E30 miliknya ke bengkel cat BnD yang terletak di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan, untuk melakukan restorasi terhadap mobil yang sudah mulai berkarat sekaligus melaburnya dengan warna merah yang racikannya diciptakan sendiri oleh Nanda dan diberi nama “AYP Red”.




“Gue sengaja nggak mau pakai warna OEM dari BMW, soalnya gue nggak mau terlalu ngikutin jalan yang ‘lurus’ kayak kebanyakan orang demi mengejar kesan rapih. Karena menurut gue, rapih itu bukan berarti keren dan berantakan itu bukan berarti jelek,” bebernya. Nice thought!

Setelah sampai ke tahap finishing, Nanda pun mengambil keputusan untuk melakukan engine swap dengan menukar mesin 4 silinder M40B18 dengan mesin 6 silinder M52B25 yang berasal dari BMW 323i E36. Di saat yang bersamaan, Nanda juga ikut mencari sejumlah accessories yang menurutnya pantas untuk diaplikasikan di E30 miliknya,


termasuk sepasang foglamp Cibie yang terpasang dekat kidney grille.

Fitment checked! A set of Breyton wheels by OZ, 17×8.5 up front and 17×9.5 out back. Paired with 195/40 and 205/40 profile tires.

You can read that, right? It’s all about personal taste!

Now let’s take a look at the inside.


Very neat, with some wooden finished trim, spreading from this Nardi steering wheel…

…to the audio boxes.

“Karena jok belakang juga useless karena nggak ada yang dudukin, jadinya box buat subwoofer sekalian gue bikin sampai ke bagian kabin,” jelas Nanda.

“Dari semua mobil yang ada di rumah, bisa dibilang mobil ini yang paling berantakan, tapi sekaligus yang paling keren dan paling mahal dibanding semuanya. Cause money can’t buy my personal taste!” –AYP
AWSM!




One thought on “Money Can’t Buy My Personal Taste // BMW 318i E30”