First of all, keberangkatan gue ke Jepang kali ini sebenarnya sudah direncanakan jauh hari di bulan Maret. Plan tersebut dimulai ketika dua teman gue; Fenno dan Stuart randomly mengajak gue untuk berangkat ke Jepang di bulan September. Long story short, pada akhirnya, yang berangkat ke Jepang adalah gue, Fenno, Stuart, dan Nanda yang BMW E30-nya pernah kita feature di website ini.




I’m Happy when I landed in Osaka 3 weeks ago. Sebagaimana yang gue tahu, bahwa Osaka terkenal dengan culture yang kuat, terutama bagi kalangan car enthusiast di Jepang. 1st list on my to-do list di Osaka adalah Car Craft Boon. Nama tersebut mungkin tidak asing lagi bagi para Honda enthusiast, terutama yang berkaitan dengan jargon “Kanjozoku” yang sangat terkenal di dunia. Jadi, setelah sampai di airport dan menuju ke tempat dimana gue menginap, gue pun sudah nggak sabar untuk segera pergi ke sana.

Sesampainya di guest house yang berlokasi di dekat Fukushima Station, gue langsung mencari tahu tentang bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke daerah Takaishi City yang merupakan lokasi workshop milik Car Craft Boon. As we know, sistem jalur kereta api di Jepang sangat rumit. Jadi kalau gue salah membuat rencana untuk bepergian (terutama ke tempat yang agak jauh), sudah dapat dipastikan gue akan nyasar entah kemana.


Tatami rawks!


Usai membersihkan diri setelah perjalanan di pesawat yang memakan waktu berjam-jam, gue pun menggunakan waktu untuk melanjutkan artikel tentang kembalinya gue di kompetisi drifting pada bulan September lalu.

Setelah menyelesaikan artikel dan sementara yang lain sedang membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berangkat, gue juga menyempatkan diri untuk sedikit berjalan-jalan keluar melihat lingkungan sekitar guest house ini.


After all the shit’s done, we begin the trip.



But first, we gotta find something to eat.


Setelah itu kita berjalan ke stasiun terdekat yaitu Fukushima Station dan melanjutkan perjalanan dengan mengikuti plan yang sudah dibuat sesaat sebelum berangkat.



Waiting game at the station.





Setelah melewati beberapa stasiun, kitapun harus turun untuk berganti kereta dengan jurusan lain ke arah Tonoki Station melalui Tennoji Station. Kereta yang akan kita tumpangi pun masih memakan waktu sekitar 15 menit menurut schedule yang tidak pernah telat.

Meanwhile, kitapun sepertinya sudah tidak tahan untuk tidak membeli produk yang ada di dalam ice cream vending machine.



Setelah menunggu sekitar 7 menit di Tenoji Station ini, akhirnya kereta tujuan Tonoki Station pun datang.


Sesampainya di Tonoki Station, sembari mengikuti peta yang tertera di google map, kita langsung berjalan kaki mengarah ke tempat dimana Car Craft Boon terletak.

Untuk memastikan kita ada di tempat yang benar, Fenno dengan keahliannya berbahasa Jepang menyempatkan diri untuk bertanya pada penduduk setempat yang kebetulan lewat.


Lalu kita melanjutkan perjalanan melewati jalan-jalan kecil ini,





tentunya sambil melihat-lihat “pemandangan” sekitar seperti SL R107 yang terparkir di area parkir milik rumah seseorang ini.



Finally we reached the main road, yang artinya kita sudah semakin dekat dengan Car Craft Boon.

Vending machine everywhere…


Sembari mempercepat pace langkah, kita secara tidak sengaja kita menemukan sebuah bengkel yang penuh dengan Mini Cooper Classic dengan nama SMITHS Service Co.


Such an interesting place! Apalagi tempat ini menjadi tempat pertama yang secara tidak sengaja kita sambangi di hari pertama gue di Jepang.

Sembari melihat-lihat dari luar, kitapun disambut oleh Sato-san yang sedang bekerja dari dalam garasi kecil milik SMITHS. Pertanyaan pertama yang dia lontarkan adalah dari mana daerah asal kita.

Surprisingly, gue seneng banget melihat bagaimana mereka merespon kita sebagai outsider (known as Gaijin in Japan) dengan senang hati mempersilahkan kita untuk melihat seluruh aset yang ada di dalam bengkel tersebut. Tanpa berbasa-basi gue pun mulai keliling menjelajahi seluruh sudut bengkel ini.


At first, gue masih mengira bahwa bengkel ini sebatas bengkel yang ahli dalam merestorasi Mini Cooper & Rover. Namun nampaknya gue bisa membaca gerak-gerik yang menunjukkan bahwa mereka adalah British Classic Car Enthusiast.

Jika diperhatikan, sepertinya ini merupakan kap mesin milik Austin-Healey Sprite MK I atau kerap dipanggil dengan julukan “Frogeye” di negara asalnya.



Sedangkan untuk mobil yang telah direstorasi bisa dibilang sangat sempurna hasilnya. Bisa dilihat dari beberapa mobil yang masih terparkir di area bengkel ini.

Seperti yang satu ini.




Atau yang ini.


Namun selain mobil yang berada dalam kondisi original seperti ini, gue juga menemukan beberapa well built race car seperti yang Mini Cooper ini.

Interesting right?



Hal lain yang paling unik dari bengkel ini adalah kantor yang terletak di bagian bawah, begitu kental dengan nuansa Inggris. Goodvibes!


Selain suasana Inggris yang sangat homie ini, gue juga menemukan berbagai macam barang yang dijual. Mulai dari replacement parts untuk Mini,



aftermarket parts,




hingga merchandise yang berbau Mini Cooper, Morris, maupun Austin.



Banyak trophy yang dipajang sepertinya sudah membuktikan bahwa bengkel ini sering turun di dalam dunia motorsport.





Sembari melihat-lihat isi garasi yang ada di bawah, gue pun diajak oleh Sato untuk melihat garasi yang berada di lantai dua.



FYI, Semua mobil yang naik ke lantai dua dan tiga ini diangkat menggunakan lift.


Ternyata di lantai dua ini gue merasakan aura motorsport yang lebih tajam. Baru masuk di depan pintu saja sudah ada tumpukan racing tires keluaran Avon yang dipergunakan oleh Mini Cooper balap milik SMITHS.

Dat width doe!


Selain itu gue juga menemukan sesuatu yang tidak kalah menarik, yaitu open wheeler race car ini. Actually, gue nggak tahu ini mobil apa, tapi bentuknya mirip dengan mobil balap yang digunakan dalam ajang balap Formula Junior era 1960.

Setelah kurang lebih 30 menit dan merasa sangat puas melihat mobil yang terparkir di lantai dua, Sato-san pun memanggil gue untuk turun dan diperkenalkan dengan Masahiro Kusunoki. Ternyata pria ramah ini adalah president of SMITHS Service Co. Japan.

Lagi-lagi dia menanyakan hal yang sama layaknya Sato bertanya pada saat kita baru sampai di bengkelnya. Dan melalui Fenno (karena keahlian dirinya dalam berbahasa Jepang), gue kembali menjelaskan maksud dan tujuan gue datang ke sini. Basically, gue pun kembali menjelaskan kalau kita mampir ke tempat ini atas dasar ketidaksengajaan. Tujuan awal kita adalah menyambangi Car Craft Boon, namun karena secara kebetulan kita melihat sebuah workshop dengan banyak Mini Cooper seperti ini, rasanya kita tidak bisa melewatkannya begitu saja.

The most important thing is, gue juga ikut memperkenalkan goodrides.co kepada Masahiro dan Sato. Kedua orang ini sangat tertarik dengan car culture di Indonesia yang sejujurnya tidak pernah mereka ketahui tentang seperti apa car scene di Indonesia, LOL!

And then he asked me to release the articles in Japanese language. Damn, I don’t think that we can do it but, who knows, maybe we will do it later.

Seperti yang gue mention di awal artikel ini, mostly orang Jepang selalu ramah kepada setiap orang. Not to mention suguhan homemade ice coffee yang rasanya sangat menyegarkan ini,

Gue juga nggak menyangka bahwa ternyata selama gue dan teman-teman sedang melihat-lihat seluruh sudut bengkel ini, ternyata Masahiro dan Sato sedang berusaha menghubungi Car Craft Boon! Hanya untuk memastikan bahwa workshop tersebut buka. Namun sayangnya, setelah menghubungi seluruh kontak yang mereka dapatkan dari hasil browsing di internet, telpon tersebut tidak ada yang diangkat.

Instead membiarkan kita jalan ke Car Craft Boon, kita malah diajak untuk naik Mini Cooper milik Masahiro ke tempat tersebut.

Berhubung dimensi Mini Cooper sangat kecil, jadilah kita berangkat dengan menggunakan 2 mobil.

And we begin the trip.


Sesampainya di lokasi Car Craft Boon, pertanyaan kitapun terjawab tentang mengapa tidak ada yang mengangkat telepon.
Kita kecewa karena Car Craft Boon tutup hari ini!
Namun kekecewaan tersebut lumayan terobati karena di parkiran luar workshop tersebut, kita masih menemukan their infamous Civic EF dan EA yang digunakan untuk balap liar di “Osaka Loop Line” aka Osaka Kanjo Racer.
Jujur saja karena merasa sangat excited karena bisa melihat mobil-mobil tersebut secara langsung, kita pun menyempatkan diri untuk mengambil foto tanpa basa-basi. LOL!
Setelah merasa puas dengan menghabiskan waktu di parkiran Car Craft Boon, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke garasi milik SMITHS.
Kesenangan hari ini ditutup dengan musibah yang dialami oleh salah satu temen gue yang ikut di dalam trip kali ini. Nanda kehilangan “Japan Rail Pass” yang digunakan untuk naik seluruh macam kereta kecuali kereta bawah tanah. Berhubung jarak dari guest house ke tempat ini lumayan jauh, maka dari itu kita semua jadi ikut membantu untuk menemukan keberadaan kartu tersebut. Setelah berupaya mencari ke sejumlah tempat yang kita lalui, akhirnya kita menyerah dengan melaporkan kehilangan ini ke kepolisian setempat. Lagi-lagi kita diantarkan oleh Masahiro dengan mobil pribadinya agar lebih cepat sampai ke pos polisi terdekat.
Kali ini kita diantarkan dengan Range Rover miliknya, sehingga kita berempat bisa muat masuk ke dalam satu mobil saja.
Yeah, lagi-lagi mobil kelahiran Inggris.
Proses pelaporan kehilangan di Jepang ternyata lebih rumit dari yang gue bayangkan. Nanda diwajibkan untuk bercerita kronologis dimana kira-kira terakhir kalinya ia masih memegang pass tersebut. Setelah itu, polisi yang bertugas di tempat melaporkan kepada polisi yang sedang berpatroli untuk mencari pass tersebut. Hari pun berangsur-angsur menjadi gelap. Berjam-jam penantian tersebut ternyata tak berbuah manis, Nanda harus menelan kenyataan bahwa “Japan Rail Pass” nya hilang. FYI, gue yakin kalian pasti bingung mengapa kita terlalu heboh dengan kehilangan pass tersebut. Pertama, pass tersebut nggak bisa di re-issue di Jepang dan hanya bisa dibuat di luar negara Jepang. Kedua, kalau dihitung cost yang harus dikeluarkan setiap naik kereta bila dibandingkan dengan pass tersebut harganya sangat jauh lebih hemat bila kita menggunakan pass tersebut. Ketiga, ini masih hari pertama kita tiba di Jepang! So, most likely, Nanda agak sedikit kurang beruntung kali ini. 🙁
Melihat raut wajah yang cukup sedih pada malam itu, Masahiro malah mencoba menghibur kita dengan memberikan pengalaman layaknya yang biasa dilakukan oleh “Kanjozoku” saat menjalani balap liar di Osaka Loop Line.
A quick preview of the infamous osaka loop line. // #goodrides #湾岸 レーサー #大阪 A video posted by deanzen (@deanzen) on

Tidak hanya berjalan-jalan, Masahiro juga memacu Range Rovernya demi menghayati apa yang dilakukan oleh para Kanjozoku dengan Civic-nya. Bagi gue, apa yang terlintas di benak gue adalah bagaimana jika mobil ini mengalami insiden terbalik. LOL!


Experience ini berakhir ketika Masahiro memutuskan untuk mengantar kita pulang ke guest house. Meskipun begitu, di saat kita berpisah pun, Masahiro ikut menjelaskan bahwa dirinya akan berangkat ke Inggris esok hari demi memenuhi kewajibannya menghadiri sebuah classic car meet up di sana.

Last but not least, he asked me to come over to SMITHS if i’m going back to Japan again one day.




Comments