Close X banner_article

Crazy Little Thing Called Love // Suzuki Swift ZC21S

Hello to you out there,

Pertama-tama, gue mau mengucapkan terimakasih banyak untuk Goodrides yang sudah memberikan kesempatan bagi gue untuk sedikitnya bercerita tentang hubungan gue dengan Suzuki Swift gue.

Mobil yang merupakan pemberian bokap gue sebagai kado ulang tahun gue yang ke-19 ini sudah menemani gue dikala kering, basah, susah dan senang selama 5 tahun belakangan ini. Sayangnya, pada saat itu, Suzuki Swift tipe ST ini bukanlah mobil favorit gue. Tapi hey, orang bodoh mana yang menolak rejeki. Selain itu, gue yakin rasa cinta itu pasti akan tumbuh karena terbiasa.

Oke, sebelumnya gue harus menjelaskan kalau gue dan bokap gue punya kegemaran yang sama dalam melakukan personalisasi terhadap mobil, yaitu prioritas yang besar terhadap peningkatan performa mesin. Hal ini muncul karena kita berdua sangat gemar dengan output mobil yang diatas rata-rata. Some says that big is beautiful, right ?

Karena itu, tidaklah mengherankan jika pada suatu siang, sepulangnya gue kuliah,  bokap gue nelfon untuk menyampaikan rencananya untuk melakukan “a little upgrade” untuk si Swift yang tanpa pikir panjang langsung gue iyakan. Dari sinilah cerita gue dan si Swift dimulai. Salah satu hal yang paling gue inget, part aftermarket yang pertama kali dipasang di mobil ini adalah piggyback dari brand Dastek.

Seiring berjalannya waktu, gue pun merasa kurang puas dengan output mesin yang dihasilkan oleh si Swift. Namun mengingat saat itu gue masih berstatus anak kuliahan yang belum bisa menghasilkan uang, gue pun coba melakukan approach ke bokap gue untuk melakukan upgrade lain terhadap mesin mobil gue itu. Saat gue sampaikan keinginan gue itu, kata-kata bokap yang paling gue inget adalah : “Ngapain beli barang jadi ? Kenapa gak custom di luar negeri dan R&D sendiri, biar puas.” Awalnya gue merasa ragu dengan jawaban bokap gue ini, mengingat langkah ini akan menghabiskan biaya yang sangat besar. Namun bokap bersikeras untuk tetap melakukan R&D yang diyakininya sebagai langkah terbaik untuk membangun mesin, dengan alibi kalau nantinya kita bisa melakukan reproduksi parts hasil R&D untuk dijual kepada pengguna Swift lainya.

Selain itu, ada pesan lainnya yang menjadi amanat bokap yang tidak pernah gue lupakan : “Jangan bilang ibu kamu ya.” Gue pun menjawab dengan lantang : “Siaaaappp komandaaann !” LOL !

Singkat cerita, Wikipedia menjelaskan bahwa kode mesin Suzuki Swift yang gue gunakan adalah M15A, dan ternyata ada mesin dengan platform yang sama tapi dengan bore and stroke yang lebih besar berkode M18A yang merupakan mesin bawaan Suzuki Liana. Sontak gue dan bokap langsung kalang kabut mencari mesin yang keberadaannya masih dipertanyakan, sampai suatu hari ada info tentang mesin M18A yang dijual di Indonesia tercinta ini. Long story short, akhirnya mesin tersebut langsung di-DP-in ama bokap hingga akhirnya berhasil menggantikan posisi mesin asli dari Swift gue ini.

Semua itu bukan tanpa cela, usaha gue dan bokap nggak selalu berjalan mulus. Ada aja ups and downs, dari mulai mengakali pemasangan MAF sensor untuk ITB (Individual Throttle Body), sampai harus berkutat dengan engine mounting yang 3 bulan sekali minta diganti, mengaplikasi camshaft hasil regrinding yang membutuhkan banyak usaha dan lain sebagainya.

Cerita seru lainnya muncul saat suatu hari, kejuaraan Time Attack yang diselenggarakan di sirkuit Sentul menyentil batin gue untuk mengajak Swift ikut tampil dengan bermodalkan ban lokal dengan kondisi 80%, coilover merk XYZ (gue yakin lo bertanya tentang eksistensi coilover ini), tanpa ganti brake pad, tanpa jok bucket. Gue pun nekat mendaftar dan mengajak si Swift untuk menunjukan taringnya. Tidak berapa lama saat sesi kualifikasi berlangsung, si Swift menunjukan gelagat aneh lewat knocking yang cukup keras hingga akhirnya sektor S kecil di sirkuit Sentul pun menjadi saksi jebolnya mesin M18A yang gw bangga-banggakan. Stang piston nomer 3 merangsak keluar lewat karter oli, dikarenakan kelalaian gue dalam menjaga putaran mesin. Tanpa sadar, momen itu telah membuat hati gue lebih remuk daripada stang piston yang gue temukan terkapar di permukaan aspal panas sirkuit Sentul.

Satu-satunya hal yang gue pikirkan saat itu adalah: “Apa kata bokap? Gue udah mengecewakan beliau dan gue harus kehilangan the most fun little machine to drive to.

Setelah mendapat ceramah yang cukup panjang oleh bokap, akhirnya sekitar 6 bulan setelah kejadian, bokap tetep bersikeras untuk tidak memasangkan mesin lama (M15A) di engine bay Swift. Beliau yakin bahwa blown engine itu disebabkan oleh stang piston OEM yang kurang kuat. Hal ini membuat beliau langsung menginstruksikan gue untuk order stang piston aftermarket dari luar negeri yang dibuat untuk mesin M18A. Akhirnya, bertepatan dengan datangnya stang piston tersebut, datanglah juga mesin M18A lainnya untuk menggantikan posisi mesin yang sudah bolong beserta beberapa barang-barang pelengkap lainya untuk dipasang di mesin yang baru.

Akhirnya Swift pun keluar dari bengkel tanpa AC (belom isi freon), lengkap dengan bekas baret-baret dimana mana, tinggi shock depan belakang yang nggak serasi, steering yang berat sebelah, kaca yang penuh bekas tangan mekanik dan telapak kaki kucing. Ever since, gue bilang sama diri gue sendiri kalau gue gak mau lagi kehilangan si Swift untuk jangka waktu yang cukup panjang, sekitar satu tahun semenjak kejadian blown engine di Sentul tersebut. Disitu gue betul-betul tersadar, ternyata ada ikatan batin yang cukup kuat antara gue dan mobil ini.

Tak bisa dipungkiri, gue yakin beberapa di antara kalian pasti melihat mobil gue ini masih jauh banget dari kesan fantastis, jauh dari kesan keren dan lain sebagainya. Tapi gue punya alasan untuk pandangan itu. Semua setup yang sekarang menjadi image Swift gue itu semata-mata gue lakukan demi kenyamanan gue pribadi. Semua bentuk setting demi setting sudah pernah gue coba dan memang sampai saat ini, settingan terakhir yang bisa lo liat melalui foto-foto yang ada ini adalah yang paling cocok dan nyaman bagi diri gue sendiri. Everybody can judge my car by their own opinions, but it won’t stop me to love this Swift more and more, each and every day.

Comments

Loading Facebook Comments ...
What people say about this (6)

6 thoughts on “Crazy Little Thing Called Love // Suzuki Swift ZC21S

  1. “it’s ordinary to love the beautiful, but it’s beautiful to love the ordinary”
    saya juga dapet swift sebagai kado dan bukan mobil idaman… tapi wah it’s a hella fun car to drive!

  2. Yang keren sih pas enginenya jebol dan bokapnya ka dito ga mau pasang balik mesin orinya, niceee

Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...