Sebelumnya, gue sudah mention pada artikel part.1, kalau pada qualification day, kondisi fisik gue sudah dalam keadaan yang kurang sehat. Benar saja, pada race day di keesokan harinya, gue akhirnya tumbang dan tidak sanggup lagi untuk ikut liputan dengan team goodrides ke Sentul. Sehingga tugas gue sebagai photographer-pun harus digantikan oleh Eka. Thanks Eka! I owe you man!

Another day, another vibe. Suasana tegang senantiasa lebih terasa pada race day ketimbang qualification day.


Namun tidak bagi Echa yang selalu menampilkan kesan santai dan main-main. LOL! I like this guy, he didn’t even feel the tense in any race that he participated.

Race day hari ini juga bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. Dengan membawa semangat ’45, Echa-pun terlihat sangat…

…santai LOL!


Now its time to rock!

Actually gue sangat menyayangkan, mengapa spectator di Sirkuit Sentul tidak pernah memenuhi tribune setiap kali acara balap touring seperti ini digelar.

That ass tho!

Jika mengikuti hasil kualifikasi sehari sebelumnya, artinya hari ini Echa harus start dari urutan ketiga pada divisi I dan urutan ke-16 dari seluruh peserta yang berjumlah 40 mobil.

Perlu kalian ketahui bahwa pada kelas Super Touring, seluruh divisi diperlombakan diwaktu yang bersamaan. Mulai dari divisi 1 hingga divisi 4.

Personally, I like this sticker. That’s why I took the biggest one on my car


Echa mengakui bahwa suspension setup pada mobil ini telah melalui proses riset ulang yang dilakukan oleh Taqwa dari Garden Speed. Sehingga dirinya merasa cukup confident untuk dapat fight di setiap tikungan.

Saat menunggu di starting grid inipun Echa menyempatkan diri berdiskusi mengenai setup baru tersebut dengan Yatno, one of their best mechanic in Garden Speed.

Last minute briefing eh?

It’s about to start, and now he is ready to race!

Berhubung gue nggak bisa hadir di sana untuk melihat langsung bagaimana progress selama balapan berlangsung, jadi gue melakukan interview dengan Echa untuk mengetahui bagaimana serunya balapan yang ia hadapi itu.
“Kayak biasanya Yan, start-nya rame dan rusuh sampai di R1 (tikungan pertama di Sirkuit Sentul – Red). Tapi kali ini, gue terus berdampingan dengan 3-4 mobil lain sampai dengan tikungan R4. Gila lah pokoknya!” Ungkap Echa saat bercerita ke gue.

“Untuk maju ke posisi pertama (di dalam divisi 1 – Red), gue cuma butuh tiga tikungan. Setelah itu gue malah fight sama mobil yang kelasnya di atas gue dengan displacement lebih besar hingga 2000 cc,” lanjut Echa lagi.

“Tapi ya gitu deh, gue cuma bisa ngejar mereka di tikungan aja. Karena kalau lihat di atas kertas, output mobil ini jelas kalah dibanding mobil-mobil lain yang ada di divisi 2, jadi ya di straight line gue pasti ditinggalin lagi,” ungkapnya.

Bisa dibilang, selama 12 lap tersebut, Echa cenderung mengejar para kompetitor yang tidak berkompetisi di kelas yang sama. Karena itu, nggak heran jika hasil foto Eka kebanyakan memperlihatkan Echa sedang berjalan sendirian, karena sebenarnya, dirinya sedang berusaha mengejar mobil lain yang meninggalkan Civic SH3 milik Yahya ini di straight line.

Hasilnya?

Echa berhasil membawa mobil ini finish di urutan pertama dalam divisi 1.
Yang paling epic adalah, secara keseluruhan, Echa finish di posisi 9 dari 40 peserta tersebut. Kenapa epic? Karena kelas yang diikuti mobil ini merupakan kelas yang paling rendah, berdasarkan displacement. This is crazy!

Dengan berakhirnya acara balap pada hari itu, Echa berhasil membuktikan bahwa Civic SH3 ini masih mempunyai kapabilitas yang sangat baik untuk digunakan dalam ajang balap yang serius.

He surely did perform beyond limit, so we would like to thank you for this trophy as the winner on its division. Salute!
Next, we’re going drifting! See ya!




Comments