Close X banner_article

Learning By Doing // Mazda 2 DE5FS

You might notice something horrible about the fenders of this Mazda 2. Yes, Rayjie Kurnia as the owner tells us that those broken fenders are caused by his passion to explore the stance and so-called tight fitment in these past years.

To be honest, saat pertama kali ketemu sama cowok dengan panggilan akrab Rayjie ini, gue sama sekali nggak menyangka kalau dia punya passion yang besar terhadap mobil. Dari cara dia jalan dan cerita yang keluar dari mulutnya tentang kegemarannya menggeluti olahraga Muay Thai, cowok ini memang lebih cocok jadi seorang fighter daripada car enthusiast. LOL!

Balik lagi ke mobilnya, Rayjie sendiri bilang kalau Mazda 2 yang dibeli dalam kondisi baru pada akhir tahun 2010 ini, dari awal memang sudah mengalami personalisasi yang menjurus kepada konsep stanced car. “Saat gue beli mobil ini, stanced car culture memang lagi hype dan tumbuh pesat di sejumlah kota besar di Indonesia, jadi gue juga ikut tertarik untuk mengaplikasi konsep itu,” bilang Rayjie sambil membuka pembicaraan. “Tapi namanya baru kenal mobil, jadi gue beli velg asal aja. Sebulan setelah gue beli mobil, gue ganti velgnya dengan produk dari Taiwan dengan spesifikasi 17×7 inci,” kenang cowok berusia 19 tahun ini malu-malu.

Kegemarannya terhadap mobil ini lama-kelamaan membawa Rayjie lebih dekat dengan lingkungan car enthusiast, yang akhirnya membuat dia terpacu untuk menggunakan velg yang lebih “wah”. Sebulan kemudian, gue langsung ganti velg lagi. Kali ini pakai Lowenhart Xposition dengan diameter 19 inch. Tapi lagi-lagi, karena belum punya banyak ilmu, gue nggak memperhatikan spesifikasi lebarnya. “Velg ini lebarnya cuma 8 inch rata. Jadi saat dipasang, velgnya justru jauh banget dari fender,” jujur Rayjie lagi, kali ini sambil tertawa.

Rayjie pun merasa kecewa dengan velg pilihannya. Layaknya proses sebelumnya, sebulan kemudian Rayjie kembali mengganti velg mobilnya, tapi kali ini dengan spesifikasi yang terhitung agresif, yaitu Work Ryver dengan spesifikasi 18×8.5 /9.5. “Pilihan kali ini terasa sangat memuaskan,” bilang cowok berkepala botak ini. Untuk melengkapi personalisasinya kali ini, Rayjie juga sempat mengaplikasi tampilan karat pada bagian bagasi. “Maklum deh, waktu itu kayaknya lagi trend banget, jadi ikut-ikutan,” bilang Rayjie sambil terkekeh.

Velg ini pun bertahan cukup lama di Mazda 2 berwarna hitam ini, sebelum akhirnya Rayjie merasa kalau ground clearance mobilnya masih terlihat tinggi akibat penggunaan velg diameter 18 inch. Pandangan inilah yang kemudian mendorong Rayjie untuk mencoba velg dengan diameter yang lebih kecil. “Pengen banget pakai velg 17 inch, tapi belum ada bayangan mau pakai apa,” kenangnya. Rayjie pun mulai hunting velg dengan diameter 17 inch, salah satunya dengan menyambangi the famous Riverside Wheels milik “papi” Mamat.

“Di situ gue lihat ada velg Advan RG1 yang gue pakai sekarang ini. Gue pun segera bilang ke papi kalau gue minat sama velg itu. Sayangnya, ternyata papi mau pasang velg itu di Toyota Picnic punya dia. Tapi gue inget, dia bilang kalau setelah dicoba velgnya kurang cocok, dia bakalan ngabarin gue,” bebernya lagi. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Toyota Picnic milik Mamat yang berwarna silver, dirasa kurang cocok saat dipasangkan dengan velg berwarna gold. Mamat pun segera menghubungi Rayjie dan Rayjie pun langsung menyambutnya dengan antusias.

“Gue pun langsung bilang sama papi kalau gue mau ambil velg itu sekaligus nanya apakah velgnya bisa langsung dipasang. Papi pun menyanggupi. Setelah mencoba berbagai ukuran ban, gue pun memilih ukuran 205/40 yang menurut gue paling ideal,” bilang Rayjie semangat. “Setelah velg terpasang, hari berikutnya pun gue langsung datang ke bengkel suspensi untuk go lower.”

Dari sinilah, perjalanan panjang Rayjie dalam menciptakan stance and fitment yang menurutnya sempurna dimulai. Hal ini salah satunya disebabkan oleh desain velg yang menurutnya sudah paling match sama mobilnya. Rayjie pun intens mendatangi bengkel suspensi untuk terus pushing the stance and fitment to the max. Cowok ini juga bilang, kalau dia sudah siap dengan segala resiko yang dihadapi karena ground clearance yang semakin rendah dan fitment yang “mepet”.

Resiko ini antara lain seperti terpaksa mengambil jalan lawan arah ketika masuk ke komplek rumahnya akibat terhalang oleh polisi tidur yang cukup tinggi. Resiko lainnya, ya seperti yang dinyatakan di awal artikel, yaitu fender yang jadi “keriting” karena secara rutin terdorong oleh ban saat roda depan mobilnya belok. “Mobil gue juga pernah nggak bisa keluar dari basement sebuah mall karena nyangkut waktu mau keluar dari tanjakan,” serunya. “Udah gitu, waktu itu gue lagi sama pacar gue. Tanpa pikir panjang, pacar gue pun gue suruh keluar dari mobil dan mobil gue paksa keluar sampai knalpot lepas dari bracket. Terpaksa deh, mobil gue bawa pulang ke Tangerang dari daerah Senayan dengan kondisi knalpot tergesek di jalanan,” bilang Rayjie sambil tertawa terbahak-bahak.

Nonetheless, Rayjie pun bilang kalau stance and fitment dari mobilnya sekarang sudah bisa bikin dirinya cukup puas. Sekarang, Rayjie bilang kalau dia lagi mau mengumpulkan budget untuk bikin mobilnya clean. Rencananya, Rayjie mau mengganti fender depan dengan yang baru dan menjalani proses bodywork biar fender nggak bolak-balik penyok lagi saat belok.

Meskipun begitu, Goodrides justru merasa beruntung bisa melakukan coverage saat Rayjie belum melakukan perbaikan apapun terhadap fender mobilnya. Karena dengan menampilkan “cacat” dari mobilnya, kita berharap kalian bisa merasakan perjuangan Rayjie dalam memenuhi kepuasan dirinya sendiri untuk menciptakan stance and fitment yang outstanding. Setuju ?

Setuju atau nggaknya, balik lagi ke pandangan tiap orang sih. Tapi yang jelas, kita sebagai tim Goodrides merasa salut banget dengan perjuangan Rayjie ini.

U’r ride is awesome as hell mate! Cheers!

 

Comments

Loading Facebook Comments ...
What people say about this (1)

One thought on “Learning By Doing // Mazda 2 DE5FS

Join The Conversation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading Disqus Comments ...