Pemilik Toyota Vios G bernama Andika Nandar Elfran, or popularly known as Cibon, adalah sosok yang jenaka dan gemar bercanda. Bagaimana tidak, setiap pertanyaan yang gue layangkan terkait dengan mobilnya saja selalu dijawab dengan jokes yang konyol. Contohnya seperti saat gue tanya mengenai latar belakang personalisasi yang dilakukan terhadap mobil kesayangannya yang sedang kalian lihat ini, Cibon hanya menjawab: “Niat awalnya sih supaya terlihat beda sama taksi (Toyota Limo – Red), eh malah sampai kebawa perasaan, jadi sayang.” LOL!

Tapi jika berbicara mengenai Vios milik Cibon, gue harus akui kalau mobil ini dari dulu sudah menjadi magnet bagi tiap pasang mata yang melihatnya. Sedikit flashback, sejak pertama kali lihat mobil yang awalnya berwarna silver metallic ini saat gue masih menjalani kuliah di BINUS, gue harus akui kalau gue merasa cukup kagum, meskipun saat itu gue belum mengenal Cibon secara personal. Bayangkan saja, gue selalu melihat mobil ini terparkir di pinggir area kampus karena tidak bisa masuk ke gedung parkir akibat ground clearance yang sangat minim.

Selain itu, menurut gue, mobil ini juga dari dulu sudah punya karakter yang outstanding jika dibandingkan kebanyakan Vios yang gue lihat di jalan. Pertama, karena sejak pertama kali gue lihat, Vios ini sudah dijejali velg dengan spesifikasi lebar yang “nggak normal”. Kedua, mobil ini punya ground clearance yang sangat minim. Ketiga, setelah gue cari tahu lebih dalam tentang mobil ini, gue semakin kagum saat mengetahui bahwa mobil ini tidak dilengkapi dengan perangkat air suspension, or bags, or whatever you called it. Yes, this car is running with static suspension!

Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, Cibon mengaku bahwa dirinya merasa cukup lelah setelah bertahun-tahun, dirinya kerap terhalang saat ingin mengantar sang kekasih untuk bepergian ke sejumlah tujuan akibat hal sepele seperti jalan yang rusak atau lahan parkir yang tidak memungkinkan bagi ground clearance mobilnya yang sangat minim. Tapi, sebelum membahas lebih jauh, gue pun dipaksa kagum lagi oleh Cibon, karena cerita diatas menggambarkan bahwa mobil ini benar-benar sebuah daily driven car. Ur sick, mate!

Nah, karena alasan fungsionalitas itulah, baru-baru ini, Cibon memutuskan untuk mengaplikasikan perangkat suspensi udara keluaran Universal Air Suspension yang penggunaannya dapat diatur melalui Accuair E-Level. Uniknya, Cibon juga dapat mengatur ride height mobil miliknya lewat sebuah application pada iPhone miliknya. Kool!

Berangkat dari keputusan Cibon ini, gue pun terlintas akan hal menarik yang kerap menjadi perdebatan sengit di antara para stanced car enthusiast. Most of you guys pasti pernah mendengar sejumlah quotes maupun celaan-celaan pedas yang menyerang kedua belah pihak, baik dari para static fanatics maupun para bag riders.

Pihak static fanatics kerap mendefinisikan para bag riders sebagai “pengecut” yang tidak pernah merasakan esensi paling dalam dari sensasi mengendarai mobil “ceper”. Tapi di sisi lain, para bag riders menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang realistis yang ingin memiliki mobil dengan appearance maksimal dari segi stance and fitment, namun tetap mampu menggunakan mobilnya untuk berbagai occasion tanpa harus terhalang akibat ground clearance yang minim.

Menurut gue pribadi sih, argumen-argumen seperti ini nggak akan ada habisnya. Gue pun nggak mau kasih judgement tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Cuma memang, dari sudut pandang gue, harus diakui bahwa mobil milik para bag riders ini sepertinya lebih realistis untuk digunakan di Indonesia, dimana kualitas permukaan jalan di sini bisa dibilang cukup buruk. But then again, you decide. Jika kalian mau berdiskusi tentang hal ini, kita persilakan untuk ngobrol via comment box di bawah.

Selain itu, pada artikel kali ini, gue juga berusaha mematahkan anggapan remeh yang kerap ditujukan kepada para bag riders. Dari apa yang sering gue dengar mengenai anggapan orang terhadap para bag riders adalah, mereka bisa dengan mudahnya menciptakan perfect stance and fitment berkat penggunaan teknologi suspensi udara tersebut. Well, they’re not! Dengan menggunakan air suspension, bukan berarti pemilik mobil seperti Cibon dapat dengan mudahnya menciptakan stance and fitment yang maksimal.

Pria humoris ini mengaku bahwa dirinya harus melakukan sejumlah penyesuaian yang cukup rumit agar mobilnya dapat tampil dengan stance and fitment yang perfect saat suspensi di-set aired out. “Sebisa mungkin, gue juga nggak mau mobil gue jalan dengan setup yang tinggi banget layaknya mobil standar. For some reason, gue cukup setuju sama pernyataan ride low, park lower. Tapi untungnya, sekarang mobil gue udah bisa melewati berbagai rintangan yang menghalangi mobil ‘ceper’ saat diperlukan,” jelas Cibon.

Untuk urusan di sektor roda, Cibon sendiri menjatuhkan pilihannya terhadap velg OZ Koenig yang spesifikasinya sudah diatur sedemikian rupa berkat konstruksi three piece split hingga menghasilkan dimensi yang fantastis, which is a whopping 17×10.5 inch up front and 17×11.5 inch out back. Selain prosesi wide body, Cibon juga mengaku mengambil langkah fender radius yang dilakukannya saat mobilnya masih menganut static suspension agar velg tersebut bisa duduk dengan manis di keempat sisi fender

Berbicara mengenai personalisasi di sektor eksterior, bisa dibilang Cibon juga melakukan langkah yang unik terkait dengan pemilihan warna yang jatuh kepada Marrakesh Brown Xyrallic. Selain karena memang menyukai warna tersebut, Cibon juga menganggap bahwa warna pilihannya tersebut relatif “aman” saat dirinya ingin melakukan sejumlah ubahan terhadap tampilan Vios miliknya tersebut.

Sedangkan untuk sektor interior, Cibon sudah merasa cukup nyaman dengan mengganti sepasang jok depan bawaan mobil dengan Recaro Trend yang ergonomis.

Kenyamanan ini lalu turut didukung oleh pengaplikasian sunroof dari produk Webasto Hollandia L.

“Selama enam tahun gue jalan bareng sama mobil ini, gue nggak pernah berhenti ngutak-ngatik. Bisa dibilang, ini never ending project gue. Mobil ini juga nggak akan gue jual, mau gue pajang aja pakai bingkai di ruang tamu,” ujar Cibon. See! Selalu bercanda kan?! LOL!

Saat ditanya mengenai rencana kedepannya, Cibon kembali menjawab dengan jawaban yang konyol. “Gue mau pasang argo taksi,” ujarnya sambil menutup pembicaraan. Personalization without limit! ROTFL!




2 thoughts on “Open Minded Static Fanatic // Toyota Vios NCP93”